Aku Jadi Korban Kekerasan Fisik dan Seksual Ayah Tiri

0
288
Foto ilustrasi anak korban kekerasan fisik dan kekerasan seksual

Umurku baru 10 tahun. Tapi penderitaan yang aku alami sungguh luar biasa. Jika tidak ada peristiwa penggerebekan oleh tetangga dan orang-orang yang menolongku, mungkin aku sudah meninggal di kamarku yang pengap dalam kondisi tubuh yang mengenaskan. Bertahun tahun aku mengalami pencabulan, kekerasan fisik dan kekerasan seksual yang dilakukan ayah tiriku. Sementara ibuku tidak memberikan perlindungan, bahkan membiarkan dan terkesan turut serta dalam kejahatan tersebut.
Panggil saja namaku Anggi. Hari saat rumahku didatangi ramai-ramai para tetangga aku merupakan hari yang berbahagia dan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup. Hari pembebasan terhadap penderiataanku. Sudah lama mengharapkan pertolongan segera tiba. Hari demi hari, berbulan berganti bulan, bahkan berganti tahun aku selalu berharap aku bisa keluar dari kamar pengap rumahku. Di kamar itulah aku mengalami penyiksaan, kekerasan dan peyekapan kurang lebih selama 2 tahun. Selama itu pula tidak ada yang tahu di dalam kamar tersebut, ada seorang anak manusia yang sekarat dan butuh pertolongan.
Selama itu aku tidak lagi bertemu dengan orang lain, tidak bertemu dengan teman sekolah atau sepermainan lagi karena tidak diperbolehkan lagi sekolah oleh ibu dan ayah tiriku. Sejak disekap, aku tidak lagi bertemu dengan tetangga. Tidak ada orang yang bisa diharap dapat menolong aku. Namun aku selalu berdoa kepada Tuhan bahwa suatu saat bisa keluar dari ruangan bau ini.
Akhirnya doaku dikabulkan Tuhan. Tiba-tiba ada beberapa orang datang ke rumah dan langsung membuka paksa kamar tempat aku terbaring lemas. Sayup-sayup aku tidak bisa melihat siapa orang tersebut karena penerangan yang minim dan kondisi tubuh yang lemas. Mereka langsung mendekati ku, mengerumni, mengajak bicara dan menanyakan kondisiku. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Yang ada hanya ketakutan, takut mendapatkan kekerasan lagi. Kemudian tubuh lemasku dibopong keluar beberapa orang, dimasukan dalam mobil dan meninggalkan rumahku.
Aku tidak melihat ada ibu kandungku saat itu, termasuk juga bapak tiriku. Ibuku saat itu mungkin sedang pergi bekerja. Aku tidak tahu dibawa kemana, namun dari pembicaraan di dalam mobil, sepertinya mereka akan membawaku ke rumah sakit. Sepertinya mereka orang baik dan mau menyelamatkan nyawaku. Dari pembicaraan yang terdengar olehku, mereka mengucapkan kasihan kepada aku. Diantara mereka, baik laki-laki maupun perempuan, mengajak aku berbicara. Namun aku tidak bisa merespon pembicaraan mereka karena kondisi tubuhku yang sangat lemah.
Sampai di rumah sakit, aku langsung mendapatkan perawatan intensif. Tubuhku diperiksa, selang infus dipasang di lengan untuk mengalirkan makanan dan obat. Sehari kemudian aku dikasih makan oleh perawat . Aku langsung makan dengan lahapnya karena sangat lapar karena sudah sekian lama tidak mendapatklan makan yang cukup dan layak.
Saat ditemukan warga yang menolongku, tubuhku sangat kurus sekali. Tinggal kulit pembalut tulang. Berkeriput dan terlihat seperti kulit orang yang kekurangan gizi. Di bagian kepala, wajah dan beberapa bagiam tubuh bekas terdapat tanda-tanda kekerasan yang mulai mengering. Rambut banyak yang rontok sehingga kulit kepala kelihatan. Tumbuh bukan bertambah besar seperti anak lain, tapi mengerdil dan berat badan menyusut. Menurut dokter, terdapat tanda tanda kekerasan di bagian kemaluan. Bahkan ada sundutan rokok yang menghitam di bagian kulit.
Selain jadi korban kekeraan seksual, dokter gizi yang memeriksa juga memvonisku gizi buruk. Selain mengoba luka fisik dan alami trauma, dokter dan perawat juga harus mengembalikan berat badanku ke kondisi anak normal dengan makanan bergizi dan obat-obatan.                                                                                                                          Saat dirawat di RS, aku baru bisa bertemu dengan kakek, nenek, tante lagi. Sudah lama aku tidak bertemu mereka. Satu persatu orang yang tidak kukenali juga datang menjenggukku di ruangan perawatan. Kalau lagi ramai, tamu berdiri mengelilingi tempat tidurku untuk melihat kondisiku. Satu persatu mengajakku ngobrol . Diantaranya ada yang membawakan makanan, pakaian, bahkan mainan. Mereka mendoakan aku cepat sembuh dan ceria seperti anak lainnya. Perhatian tersebut membuat aku bahagia, merasa masih banyak orang yang menyayangiku.

BAJA JUGA :   KPPAD Lingga Berupaya Eksis di Tengah Keterbatas Anggaran dan SDM Daerah

Jadi Korban Pencabulan dan Kekerasan
Hidupku berubah drastis setelah ibu menikah lagi dan diikuti dengan pindah rumah. Sebelumnya aku tinggal dengan ibu bersama kakek dan nenek. Aku bersekolah seperti biasa seperti anak lainnya. Saat di sekolah adalah saat yang menyenangkan karena banyak memiliki teman, bisa belajar dan bermain bersama.
Sejak pindah rumah, aku tidak bisa lagi sekolah karena proses pindahan sekolah tidak diurus sama ibu dan ayah tiriku. Akhirnya aku berhenti sekolah dan sehari hari hanya ada di rumah. Sementara kedua orangtua, terumata ibu sibuk bekerja, pergi pagi, pulang sore. Sementara ayah bekerja, tapi waktunya lebih banyak di rumah ketimbang ibu.
Akibatnya aku jarang sekali dikasih makan. Ibu yang biasa mengantarkan makan ke kamar biasanya sekali dalam 1 hari. Setelah itu ibu pergi bekerja. Setelah pulang, ibu tidak pernah banyak bicara dengan ku. Bicara seadanya. Mungkin ia capek bekerja seharian sebagai buruh. Ia lebih banyak berbicara dengan ayah.
Saat ibu bekerja, ayah sering datang ke kamarku. Ia mencabuli ku. Saat aku tidak mau, aku mendapatkan kekerasan. Aku dipukuli dan pernah disundut pakai rokoknya. Aku tidak bisa melawan karena tubuhku kecil dan tidak bertenaga. Aku hanya bisa pasrah mendapatkan perlakukan kekerasan dan pencabulan yang dilakukan ayah tiri. Ayah juga mengancam agar aku tidak melapor ke ibu atau berupaya kabur dari rumah.
Sementara aku juga tidak bisa mengadu kepada ibu tentang perlakuan ayah tersebut. Pernah aku bercerita kepada ibu tentang perlakuan kekerasan ayah tiri. Namun pembelaan yang ku dapatkan. Ia hanya mendengarkan saja, tidak ada tanggapan. Seolah-olah aku bukan anaknya yang harus dapatkan pembelaan dan perlindungan. Mendapatkan perlakuan dari ibu yang tidak berpihak dalam kondisi seperti itu, aku tidak berani menceritakan lebih jauh bagaimana sikap ayah saat ibu tidak ada di rumah. ‘’Mungkin ibu sudah tahu atau juga mungkin tidak,’’ pikirku.
Setelah aku pulih dan keluar dari RS, aku langsung dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi aku bertemu dengan orang yang pernah datang ke RS. Akus empat ditanya-tanya. Rupanya ia polisi. Barulah aku menyadari bahwa ayah tiriku sudah dilaporkan ke polisi sejak aku dibawa ke RS. Beberapa hari ini aku tidak melihat lagi kehadirannya di RS. Polisi memberitahu bahwa ayah tiriku yang menjadi pelaku kekerasan dan pencabulan sudah ditahan polisi.
Beberapa bulan berlalu, aku mendapat kabar bahwa ayah tiri sudah dihukum selama 8 tahun penjara. Kini aku hidup bersama ibu, kakek dan nenek. Ibu telah menyadari kesalahannya yang tidak mempedulikanku selama ini sehingga aku jadi korban kekerasan dan pencabulan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here