Mencegah Viktimisasi terhadap Korban (Anak)

0
137

Oleh Erry Syahrial

Tidak ada orang yang mau menjadi korban dan sasaran kejahatan. Kejahatan akan menimbulkan dampak dan kerugian bagi korbannya, baik secara fisik maupun psikologis. Kejahatan menimbulkan penderitaan bagi korbannya yang bisa berlangsung lama dan sulit dilupakan. Namun kejahatan bisa dicegah dan penderitaan pada korbannya bisa diminimalisir.

Anak merupakan kelompok manusia yang paling rentan menjadi korban kejahatan. Dari pengaduan yang masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indaonesia (KPAI) dan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri menunjukkan fakta bahwa korban anak meningkat dari tahun ke tahun dalam beberapa tahun belakangan ini. Korban anak tersebut meliputi beberapa kasus tindak pidana pada anak seperti kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan verbal (bullying), penelantaran, trafiking, penculikan, dan lainnya.

Kejahatan cenderung berulang. Pun demikian dengan korban kejahatan.  Korban kejahatan (victim) yang tidak tertangani dengan baik cenderung menjadi korban lagi di masa mendatang atau mengalami viktimisasi berkali-kali. Viktimisasi juga bisa terjadi bila korban salah penanganan atau penanganan kasus belum berorientasi pada kepentingan korban. Salah dalam penanganan ini tidak saja terhadap korban, tapi bisa juga terhadap pelaku, misal pelaku tidak dilaporkan, tidak dihukum , tidak direhabilitasi dan lainnya.

Sementara pada korban, juga bisa terjadi kesalahan.Antara lain penanganan tidak berspektif anak, tidak berorientasi pada kebutuhan korban, serta tidak menggunakan pendekatan prinsip kepentingan terbaik bagi anak. Alih-alih korbannya bisa diselamatkan, justru beberapa bulan kemudian ia kembali menjadi korban di tempat lain. Baik oleh pelaku yang sama, atau pelaku yang lain. Dalam beberapa kasus bahkan korban sendiri memberi peluang terjadinya kejahatan tersebut. Atau korban turut serta bersama pelaku melakukan tindak pidana sehingga ia lagi-lagi jadi korban.

Apa sebenarnya viktimisasi? Sebelum membahas viktimisasi, kita harus paham dulu viktimologi. Viktimologi  adalah ilmu yang mempelajari tentang korban (victim = korban) termasuk hubungan antara korban dan pelaku, serta interaksi antara korban dan sistem peradilan, yaitu, polisi, pengadilan, dan hubungan antara pihak-pihak yang terkait. Juga menyangkut hubungan korban dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dan institusi lain seperti media, kalangan bisnis, dan gerakan sosial. Viktimologi juga membahas peranan dan kedudukan korban dalam suatu tindakan kejahatan di masyarakat, serta bagaimana reaksi masyarakat terhadap korban kejahatan. Sedangkan viktimisasi adalah proses dimana seseorang menjadi korban kejahatan.

Dari sudut pandang anak, anak yang menjadi korban tindak pidana atau disebut anak korban adalah manusia yang belum genap berusia 18 tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.

Korban tidak saja dipahami sebagai obyek dari suatu kejahatan, tetapi juga harus dipahami sebagai subyek yang perlu mendapat perlindungan secara sosial dan hukum. Pada dasarnya korban adalah orang baik, individu, kelompok ataupun masyarakat yang telah menderita kerugian yang secara langsung telah terganggu akibat pengalamannya sebagai target dari kejahatan subyek lain.

Jenis-jenis viktimisasi yang menimpa anak bila dilihat dari berbagai kasus anak yang dilaporkan ke KPPAD Provinsi Kepri bisa dijelaskan sebagai berikut. Pertama, mereka yang secara fisik memiliki kelemahan atau potensi untuk menjadi korban (biologically weak victims). Korban anak umumnya masuk dalam kelompok ini. Secara fisik dan psikologis, anak-anak belum matang dan masih dalam pertumbuhan. Mereka tidak mampu berbuat apa-apa atau tidak bisa berbuat banyak bila terjadi kejahatan yang menimpa dirinya. Anak yang berumur 12 tahun ke bawah  dan anak penyandang disabilitas berada pada posisi paling rentan. Tindak pidana yang menimpa anak seperti ini umumnya adalah pencabulan, penculikan, pencurian.

Kedua, anak yang memiliki kedudukan sosial dan ekonomi yang lemah sehingga menyebabkan mereka menjadi korban (socially weak victims). Contoh kasus anak yang termasuk kelompok ini adalah trafiking, kasus eksploitasi seksual komersil anak (ESKA), eksploitasi ekonomi pada pekerja anak, dan sebagainya.

Ketiga, anak yang menjadi korban karena kejahatan yang dilakukannya sendiri (self victimizing victims). Contohnya adalah anak pengguna napza, judi, aborsi, prostitusi dan bunuh diri. Kasus-kasus anak pengguna napza (narkotika, psikotropika, dan zat aditif) mulai mengkhawatirkan. Loka Rehabilitasi BNN Indonesia yang salah satunya berada di Batam selain diisi oleh pecandu (residen) dewasa, juga diisi dengan pecandu usia anak yang berasal dari beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan. anak . Beberapa diantaranya masih sebagai pelajar. Mereka menjalani masa rehabilitasi selama 3 bulan dan kemudian dikembalikan kepada orangtua. Masuk lagi residen baru untuk menjalani rehabilitasi yang sama dan begitu seterusnya.

Anak pelaku sekaligus menjadi anak korban juga terlihat dalam  kasus bunuh diri remaja. Pelaku memutuskan bunuh diri setelah sebelumnya juga menjadi korban kejahatan lain seperti tindakan bullying atau kekerasan psikologis dari orang-orang terdekat seperti orangtua, guru, teman dan lainnya.

Keempat, anak yang secara aktif mendorong dirinya menjadi korban, dimana korban juga sebagai pelaku (provocative victims). Kelompok korban anak seperti ini bisa dialami oleh anak jalanan, anak yang bekerja di tempat hiburan dan lainnya. Kasus yang terjadi umumnya adalah pelecehan dan kekerasan seksual.

Kelima, sikap korban justru mendorong dirinya menjadi korban (participating victims). Kebanyakan terjadi pada kasus pencabulan, dimana antara korban dan pelaku ada hubungan pacaran. Pelakunya biasa anak dan bisa juga pelaku dewasa. Pada kasus pencabulan anak terhadap anak, kencenderungan  selama ini dalam penyidikan kepolisian, anak perempuan dijadikan sebagai korban dan anak laki-laki diposisikan sebagai pelaku. Dengan alasan anak laki-laki biasanya yang melakukan ajakan, bujuk rayu dan iming-iming sehingga terjadi persetubuhan, atau usianya lebih besar. Sebenarnya, korban juga punya peranan atau ikut bepartisipasi sehingga pencabulan tersebut terjadi.

Keenam, antara korban dan pelaku tidak punya hubungan atau kaitan (unrelated victims). Biasanya terjadi ada kasus kecelakaan lalu lintas yang menimpa anak. Biasanya tindak pidana yang terjadi dalam hal ini tidak direncanakan dan tidak diinginkan kedua belah pihak, pelaku dan korban.

Bagaimana Viktimisasi Berlangsung?

Viktimisasi terhadap anak  bisa dilihat dari dua sisi yang berbeda. Pertama dari sisi pelaku. Antara lain, pelaku mempunyai bakat atau kecendrungan untuk melakukan kejahatan dan penyimpangan. Kemudian, pelaku mempunyai niat dan kesempatan untuk melakukan kejahatan atau perilaku menyimpang yang ada dalam dirinya. Selanjutnya, pelaku menemukan calon korban atau korban yang menjadi sasaran dari kejahatan atau penyimpangan perilakunya. Bila ini sudah terpenuhinya barulah terjadi yang namanya kejahatan atau tindak pidana.

Namun tindak pidana yang terjadi tersebut bisa dicegah, digagalkan atau diminimalisir dampaknya. Hal tersebut tergantung kepada kondisi korbannya. Sisi kedua atau dari sisi korbanjuga perlu diperhatikan. Apakah korbanmemiliki kemampuan sosial dan kemampuan psikologis untuk mengatasi masalah yang dihadapi (psyco/socialcoping). Apakah korban dan keluarganya memiliki sumber daya yang cukup atau tidak untuk mencegah, menghentikan aksi kejahatan, serta mengurangi dampak yang ditimbulkan.Sumber daya tersebut bisa dalam hal kemampuan fisik, kemampuan psikologis, kecakapan intelektual (akal), materi, sumber daya sosial seperti jaringan, dukungan komunitas dan lain sebagainya.

Dalam hal kemampuan fisik korban misalnya, bisa berupa kemampuan bela diri yang memadai sehingga ia bisa melakukan perlawanan dan berupaya menyelamatkan diri dari aksi kriminal seperti pelecehan, perkosaan, perampokan  dan lainnya. Kemanpuan psikologis berupa kemampuan mental untuk melawan rasa takut dan berani melakukan perlawanan meski punya kemampuan fisik yang terbatas. Dalam banyak kasus kriminal, korban dewasa masih bisa selamat dari aksi brutal pelaku kejahatan berkat mental yang kuat dan punya nyali menghadapi pelaku. Namun untuk korban anak sangat jarang terjadi.

Kemampuan intelektual juga sangat berguna menghadapi penjahat yang berada di depan mata. Misalnya dengan sikap berpura-pura mengecoh pelaku dengan berbagai alasan sehingga pelaku percaya.  Hal ini pernah dilakukan remaja korban trafiking yang hendak dibawa ke Singapura. Saat dikawal dengan ketat oleh para sindikat trafiking, korban pura-pura kebelet pipis dan minta izin ke toilet. Saat pelaku lengah, korban kabur dari pengawalan, kemudian minta tolong pada orag yang berada di dekat sana dan menelpon keluarga untuk memberitahu keberadaannya. Akhirnya aksi trafiking digagalkan, sindikatnya berhasil diringkus dan satu korban lagi bisa diselamatkan.

Sementara kemampuan finansial dan kemampuan sosial serta dukungan komunitas akan sangat berguna setelah kejahatan terjadi dan korban merasakan penderitaan. Penderitaan yang dialami korban membuat dirinya menderita secara fisik, psikologis berupa rasa malu, takut, trauma, stress,  dan gangguan mental lainnya. Korban malu keluar rumah, malas pergi sekolah, suka mengurung diri, berubah menjadi pendiam dan khawatir akan stigma yang dilekatkan lingkungan pada dirinya.

Dalam kondisi demikian,  korban sangat membutuhkan berbagai macam dukungan, mulai dari dukungan finansial, dukungan komunitas mulai dari lingkungan keluarga, teman-teman, masyarakat dan lembaga baik pemerintah maupun LSM yang bergerak dalam bidang pemulihan  korban dan bantuan hukum. Dukungan finansial membuat korban bisa mendapatkan kebutuhan hidupnya saat ini dalam kondisi terpuruk, bisa mendapatkan pengobatan dan layanan konsultasi yang dibutuhkan. Sementara dukungan komunitas membuat korban semakin cepat pulih, bisa kembali dalam lingkungannya. Sedangkan bantuan hukum kepada korban memberikan kepastian hukum dan mewujudkan rasa keadilan.

Peran Layanan Anak

Anak-anak korban ini harus mendapatkan pelayanan dari lembaga layanan anak terutama yang dimiliki pemerintah, baik yang ada di pusat maupun di daerah. Ada juga banyak LSM perlindungan anak saat ini bisa memberikan layanan kepada korban. Terhadap korban  jarus dilakukan assesment mendalam victim assistence. Petugas, baik di lembaga layanan pemerintah maupun LSM membantu korban dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki oleh korban dan keluarganya serta mengerahkan sumber daya dari luar. Sumber daya dalam hal ini maknanya luas. Victim assistence ini meliputi penanganan korban dan pendampingan kasus.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan semua pihak untuk mencegah terjadinya viktimisasi antara lain memberdayakan anak terutama pada anak-anak yang berada pada posisi yang rentan, meningkatkan kesejahteraan anak dengan terpenuhinya hak-hak anak. Pemberdayaan anak dan keluarganya meliputi pemberdayaan ekonomi, sosial dan lainnya.

Penanganan korban mengacu pada pemenuhan hak-hak anak yang tetap didapatkan korban meliputi kesehatan, pendidikan, hak sosial dan lainnya. Untuk kesehatan, korban dirujuk pada  rumah sakit, psikolog, menjalani rehabilitasi sesuai kebutuhan korban. Hak pendidikan korban harus terjamin sehingga tidak ada pihak yang melarang korban mendapatkan hak-haknya sebagai anak, seperti hak mendapatkan pendidikan. Hak sosial korban harus terpenuhi korban mendapatkan kesempatan untuk menjalani reintegrasi di dalam keluarga dan masyarakat.

Saat korban menjalani proses di atas, proses hukum terhadap pelaku juga harus ditempuh sehingga tercipta keadilan dan perlindungan hukum bagi korban. Pendampingan terhadap korban bisa dilakukan mulai dari pelaporan, saat BAP di kepolisian hingga persidangan. Korban harus diberikan bantuan hukum seperti menyediakan pengacara, memperjuangkan hak-hak korban dalam sistem peradilan, menuntut restitusi dan kompensasi bagi korban yang dirugikan secara materi. Terkait hak restitusi dan kompesasi ini belum banyak direalisasikan baik terhadap korban dewasa maupun korban anak.

Sementara hubungan korban dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dan institusi lain seperti media, kalangan bisnis, dan gerakan sosial juga perlu diperhatikan oleh pihak-pihak yang melakukan pendampingan korban. Dengan demikian, korban bisa pulih dan terhindar dari viktimisasi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here