Revitalisasi Pola Asuh Ibu di Era Cybermedia

0
137

Oleh Erry Syahrial

Sebab akibat munculnya beragam kasus anak tindak pidana tidak bisa dilepaskan dari peran orangtua dan keluarga. Sosok ibu menjadi sangat penting dan utama dalam keluarga dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sukses-gagalnya anak, baik-buruknya perilaku anak, patuh-melawannya anak sangat tergantung asuhan dan didikan seorang ibu.

Sejak zaman dahulu, ibu telah menjadi tiang penjaga moral dan nilai-nilai kebaikan dalam keluarga dan masyarakat. Bangsa dan negara banyak berhutang pada sosok ibu yang turut memperkokoh sendi-sendi kebangsaan. Namun di tengah zaman yang sudah berubah cepat saat ini, internet masuk ke bilik-bilik rumah tangga, piranti teknologi informasi yang canggih berada di genggaman semua anggota keluarga termasuk anak, mampukan ibu melaksanakan peran berat tersebut.

Atau jangan-jangan saat ini sudah banyak para ibu terjangkiti rasa galau melihat zaman yang tengah berubah dengan sangat cepat. Perubahan tersebut juga menyebabkan berubah dan tergantikannya peran ibu oleh kehadiran teknologi informasi. Para ibu mengkhawatir dampak pemakaian teknologi informasi pada anak-anaknya

Peran ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga mulai tergerus dengan hadirnya internet dan tekonologi informasi yang semakin canggih. Internet mampu menghadirkan segala macam informasi yang dibutuhkan anak dengan sangat cepat. Hal ini mengantikan posisi ibu yang selama ini, turun temurun menjadi menjadi pendidik dan penjaga moral anak dalam keluarga.

Cyberspace dan Cybermedia

Saat ini kita berada pada zaman cyber. Ada yang menyebut era cyberspace atau cybermedia. Zaman ini ditandai dengan penemuan komputer pada abad 21 lalu. Kemudian disusul dengan temuan internet yang menghubungkan satu komputer dengan komputer lain beberapa tahun kemudian. Semua komputer di seluruh dunia bisa terhubung dengan saluran besar yang disebut internet. Saluran yang ibarat server raksasa tersebut menyediakan berbagai kebutuhan informasi, ilmu pengetahuan, hiburan,  dan apa saja dari A sampai Z. Semua ada di internet, dari konten yang berisi agama sampai konten yang berisi pornografi. Termasuk area abu-abu (grey area).

Zaman cyber membuat para ibu-ibu tidak perlu lagi bertanya pada ibu lainnya atau mencatat resep kue. Cukup menggunakan fasilitas search engine di google, dalam hitungan detik resep kue yang dicari keluar dengan banyak versi.  Zaman internet membuat kaum ibu tidak perlu lagi membacakan dongeng  buat anaknya waktu mau tidur. Kini tinggal men-donwload cerita yang diinginkan anak dan memutarnya untuk anak, sementara ibu bisa melakukan pekerjaan lain. Bahkan ketika para ibu menceramahi suaminya dengan kata-kata yang bijak agar suaminya tidak berpaling darinya, ibu-ibu tidak perlu bersusah payah merangkai kata-kata yag bijak, cukup cari di internet dan forward ke ponsel suaminya. Percakapan dan silaturrahmi dengan kerabat, tetangga dan teman digantikan oleh jejaring sosial dan fasilitas chatting yang ada.

Beragam kemudahan ditawarkan tidak saja ditawarkan pada ibu tapi kepada semua anggota keluarga, buat anak, buat sibapak, dan semua pihak. Remaja tidak perlu lagi bertanya atau curhat kepada ibunya tentang permasalahan yang dihadapi karena informasi yang dibutuhkan ada di internet. Remaja putri tidak perlu bertanya soal haid dan alat reproduksi wanita kepada ibunya. Cukup tanya ke internet semua terjawab sudah selengkap-lengkapnya, dari penjelasan kalimat, gambar dan audio visual. Anehnya, konten-konten porno yang tidak seharusnya dilihat anak ikut bermunculan saat bersamaan.

Keniscayaan ini menciptakan obsesi berlebihan terhadap cyberspace sehingga melahirkan norma phobia. Dalam norma phobia, eksistensi norma legal dianggap nisbi dan semu karena tak bisa dihadirkan akibat semakin permisifnya nilai-nilai di tengah masyarakat. Kekecewaan pada impotensi nilai-nilai plus koalisinya dengan kegilaan pada internet inilah kemudian menciptakan psikologi cyberspace yang serba tidak pasti dan tidak terprediksi. Cybermedia pada gilirannya bermetamorfosis sebagai alternatif norma-norma baku dan interaksi sosial meski sifat cyber labil dan ahistoris. Kaum remaja dapat berapologi degan cybermedia sebagai dunia dialogis, dimana terdapat banyak pilihan untuk memilih gaya hidup, norma hidup tanpa batas yang dapat diakses dan dipelajari secara instan, serta referensi digital yang berlimpah.

Internet tidak saja mengubah pola ibu dalam mengasuh anaknya. Kecanduan internet akhirnya betul-betul mengubah pola pikir dan perilaku penggunanya. Realitas semu menjadi realitas nyata dan realitas nyata menjadi realitas semu. Kecanduan internet telah membalikkan cara pikir dan pandang kita terhadap realitas kekinian hidup ini. Banyaknya waktu yang disediakan untuk berinternet dan cybermedia seolah-olah menunjukkan itulah dunia kita sesungguhnya.

Ketika hampir semua perhatian kita tersedot cybermedia, maka lambat laun kita abai dengan dunia nyata kita. Abai terhadap anak, suami, tetangga termasuk pada diri sendiri. Anak dan ayah pun demikian. Siibu yang biasanya sigap, lama kelamaan mulai telat mengatur jadwal makan anaknya, lebih mementingkan dulu membuat status di facebook, instagram atau WA Group.

Sementara dampak bagi anak lebih celaka lagi. Anak lupa pulang ketika sudah berada di warnet ketika melakoni perannya sebagai pemain alam cyber war. Beberapa anak timbul niat jahat dan melakukan pencurian untuk mendapatkan uang agar bisa terus masuk di warnet berjam-jam.

Internet juga banyak kelemahan dan mudaratnya. Internet ibarat mata uang mempunyai dua sisi yang berbeda, baik dan buruk, positif-negatif. Internet bebas nilai, tergantung kepada penggunanya. Di sinilah peran ibu, mendampingi dan mengawasi anak-anaknya ketika menjelajah dunia maya. Ibulah yang mentransformasi ilmu pengetahuan dan infomasi dari internet tersebut menjadi nilai-nilai yang positif dan konstruktif.

Norma digital adalah Tuhan baru dalam pergerakan hidup para cyberist. Sifat norma ini adalah tanpa batas, tidak pasti, dinamis, dan plural darisegi kultur maupun ideologi. Kewanitaan dipertaruhkan ketika norma kewanitaan diperlakukan tanpa batas dan disifati relatif oleh para pengguna internet. Para pengguna internet tak tahu lagi norma yang dibangun historisitas bangsa dan agamanya. Internet telah memutus dinding pembatas antara seseorang  dengan norma hidup yang ada. Batas-batas fisik itu dirobohkan dan digantikan geopsikologi baru yang digitalis dan nilai baru yang direferensi. Ironisnya, karena begitu berlimfahnya referensi, maka nilai-nilai tersebut dapat berubah sepanjang waktu.

Cyberspace selain diisi referensi, juga diisi referensi hidup yang ilusif dan pemisif. Di sinilah letak peran penting seorang ibu. Tata nilai lokal (local wisdom) yang luhur dan norma Islam yang universal wajib dijadikan pendamping oleh para ibu dan pendidik wanita untuk menjaga survivalitas kewanitaan tetap pada relnya yang hakiki. Dunia tanpa batas adalah keuntungan sendiri bagi cyberist, namun memiliki banyak kelemahan mendasar. Cybermedia tidak akan pernah bisa mengantikan belaian kasih ibu. Dalam tataran tertentu, kasih alami yang natural dan berwujud fisik lebih manusiawi dan berefek responsif ketimbang cybermedia yang hadir tanpa ruh dan kuran responsif.

Cukuplah pera ibu sebagai pendampin putra-putrinya dalam transformasi nilai-nilai luhur yang otentik. Silhkan para ibu mendalami internet dan cybermedia untuk memahami trik dan tipudaya dunia maya yang sering mengecoh psikis dan moralitas anak-anaknya. Namun sebagai manusia lainnya, para ibu harus paham dengan kekuatan internalisasi cybermedia yang dapat mengubah mentalitas. Cybermedia bisa menjadi senjata makan tuan bagi para orangtua apabila tak mapu menghindari lompatan psikologis dalam dirinya. Cybermedia sudah menciptakan kegonjangan pada dunia ketiga akibat kondisi sosial psikologis masyarakat di negara dunia ketiga yang berada pada fase labil dan masa transisi, antara tradisionalisme dan modernitas.

Cyberspace adalah pergerakan nomadis, mirip kaum Badui yang berpindah mencari oase dan padang rumput. Tak ada stabilitas dalam psikologis cyberspace. Cyberspace takkan pernah bisa memberikan kepuasan jiwa dalam rentan waktu panjang, meski ia bisa memberikan kepuasan ntelektual. Sebenarnya para ibulah oase yang menjejukkan itu bagi anak-anaknya. Sapaan ibu dan belaiannya adalah mata air yang tidak pernah kering (zam-zam, red) dan tidak bersifat fatamorgana di padang pasir. Belaian dan kasih sayangnya nyata adanya.

Perlu waktu intensif bagi para ibu untuk terus membimbing putra-putrinya. Sudah cukup lama, dunia anak dan remaja kita diasuh oleh Doraemon, Spongebob dan lainnya dalam tayangan audiovisual sehariannya. Jangan sampai dunia anak dan remaja itu diasuh lebih lanjut oleh internet dan cyberspace yang tidak jelas nilai-nilainya. Berikan bimbingan, awasi dan ciptakan filter agar anak dan remaja agar tidak sembarangan menjadikan nilai-nilai cyberspace sebagai eksiklopedi hidup. Para ibulah sebenarnya referensi hidup yang patut didengar dan diteladani anak.

Mengembalikan pola asuh anak kita kepada relnya atau seperti dulu bukanlah kemunduran. Adakalanya keanggunan konservatif dperlukan untuk melawan modernitas dan globalisasi yang desktruktif. Di Hari Ibu ini, sepatutnya para ibu kembali  merevitalisasi perannya di dalam rumah tangga sebagai pendidik utama bagi anak. Dengan demikian, beragam kasus dan persoalan anak yang banyak terjadi  hari ini semakin berkurang di masa datang.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here