Aku dan Empat Adikku Alami Kekerasan Sejak Kecil

0
360
ilustrasi anak korban kekerasan

Panggil saja namaku Lita. Usiaku saat ini 23 tahun dan bekerja sebagai buruh di kawasan industri di Batam. Sepintas terlihat tubuhku biasa saja, seperti wanita lainnya. Namun ketika sudah lama berinteraksi denganku, orang akan tahu bahwa ada yang tidak wajar dengan bahasa tubuhku. Mungkin orang merasa risih atau bertanya, kenapa aku seperti itu.

Ada yang tidak beres dengan tubuhku ini . Aku selalu mengerak-gerakkan tubuhku di bagian leher dan bahu, baik pakai  tangan atau tidak. Ibarat orang sedang capek atau mengalami sesuatu. Untuk memulihkan ke kondisi semula, orang biasa meregangkan otot-otot leher, bahu dan bagian tubuh lainnya. Itu biasa bila dilakukan sekali-kali atau tidak di depan orang. Tapi apa yang aku alami di luar kebiasaan, aku harus selalu menggerakan tubuhku terutama di bagian kepala, leher dan bahu dalam tempo yang singkat. Kalau tidak tubuhku akan merasa capek dan tidak nyaman. Aku nyaman setelah melakukan hal tersebut berulang-ulang. Namun orang yang tidak nyaman meihatku, apalagi saat sedang berbicara dengan aku.

Kondisi ini aku alami sejak kecil hingga beranjak remaja dan terus berlanjut hingga dewasa, sudah memiliki suami dan sedang mengandung  saat ini. Aku khawatir kondisi tubuhku bisa berpengaruh kepada janin yang aku kandung saat ini. Trauma psikis yang aku alami tidak pernah hilang meski waktu berlalu sekian lama.

Masing terbayang ketika kecil ibuku melalukan kekerasan fisik dan psikis kepadaku. Dulu, ibuku sering melakukan kekerasan, baik pakai tangan atau pakai sesuatu. Bahkan tubuhku sampai diinjak-injak oleh ibuku tanpa mengenal kasihan gara-gara hal yang sepele. Tidak banyak yang bisa aku lakukan, kecuali banyak pasrah dipukuli saban hari. Banyak mengurung diri di rumah, kalau dimarahi hanya diam saja.

Sekali-kali pulang sekolah atau habis dimarahi aku keluar rumah berjumpa teman atau berjumpa orang yang peduli dengan nasibku. Hal tersebut aku lakukan karena tidak nyaman di rumah. Kurang kasih sayang dan perhatian orangtua. Sebagai remaja aku berontak apa yang aku alami saat itu. Aku cari pacar karena berharap ia bisa melindungiku dan  memberikan perhatian kepadaku. Aku berharap suatu saat, ketika cukup umur aku harus keluar dari rumah tersebut dengan lelaki yang memberikan perlindungan kepadaku.

BAJA JUGA :   Anak Kandung Ditelantarkan, Anak Tiri Dijadikan Simpanan

Dari kecil aku tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Kedua orangtuaku berpisah sejak aku berusia 4 tahun. Saat SD aku pernah sekali berjumpa dengan ayah. Sejak saat itu hingga saat ini, aku tidak pernah bertemu lagi dengan ayah. Tidak tahu keberadaannya dimana. Aku mencoba menelusuri keberadaan ayah tapi tidak berhasil. Ibu pernah berjanji akan mempertemukan aku dengan ayah, tapi tinggal janji sampai saat ini. Suatu saat aku berharap, aku dan adik lelakiku yang satu ayah bisa berjumpa dengan ayah kandungku.

Setelah beberapa tahu menjanda, ibuku menikah lagi dengan lelaki Warga Negara Singapura. Dari hasil pernikahan tersebut, lahirlah tiga adikku yang semuanya perempuan.  Ibu sedikit berubah setelah pernikahan tersebut karena ibu tidak perlu lagi mencari nafkah seorang diri. Ada ayah tiriku yang memberikan nafkah yang nilainya lumayan ketika uang dollar Singapura ditukarkan jadi rupiah. Ekonomi keluarga kami semakin membaik. Ibu bisa membeli beberapa tanah kavling dan membangun rumah di atasnya. Rumah yang tersebut disewakan ibu dan hasilnya untuk menambah keuangan keluarga. Bahkan ibu sampai memiliki rumah sampai 12 unit dan satu unit ruko.

Aku berharap, pernikahan tersebut bisa merubah karakter keras ibuku yang selalu melakukan kekerasan dan sering marah-marah. Awalnya, memang hubungan ibu dan ayah tiriku baik-baik saja. Namun lama kelamaan karakter ibu yang keras muncul  kembali, baik kepada kami anak-anaknya, maupun terhadap ayah tiri. Pola kekerasan kembali hadir dalam rumah tangga dan tidak ada habis-habisnya. Sering timbul pertengkaran dalam rumah tangga, dan sering terjadi di depan kami. Ketika terjadi konflik suami-istri, kami anak-anak yang jadi pelampiasannya. Dimarahi dan mendapatkan pukulan.

BAJA JUGA :   Anak Gadisku Disuruh Ayahnya Membawa Narkoba

Pernah aku tidak boleh masuk ke dalam rumah saat ibuku memarahi dan memukul adik-adik ku di dalam rumah. Kekerasan tersebut dilakukan setelah ibu bertengar dengan ayah tiriku. Aku kasihan melihat adik-adikku  juga  mengalami kekerasan seperti yang saya alami sebelumnya. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membantu keempat adikku. Kadang aku juga sering dimarahi dan dipukul saat itu.

Akhirnya ayah tiriku tidak tahan juga dengan sikap dan prilaku ibu. Selain suka dengan kekerasan, ibu punya ego yang tinggi, tidak mau mengalah dan segala sesuatu diukur dengan uang. Padahal gaji ayah tiriku di Singapura  tidaklah besar untuk ukuran orang Singapura. Akhirnya ayah memilih cerai dengan ibu. Setelah bercarai, perilaku ibu kepada kami anak-anaknya tambah semakin keras. Tiga adikku sering mendapatkan kekerasan.

Ayah tiriku tetap mengirimkan uang nafkah kepada ketiga adikku lewat rekening ibu sebesar 1000 dollar Singapura per bulan. Uang sebesar itu sebenarnya cukuplah untuk menafkahi dan menyekolahkan ketiga adikku  termasuk ibu. Sementara bagi ibu uang tersebut selalu kurang. Padahal makan yang diberikan kepada anak-anaknya tidak layak seperti anak lain. Jarang makan enak. Pernah kami diberikan makan mie selama satu minggu. Jajan jarang dikasih. Uang sekolah juga gratis karena sekolah negeri. Adikku dipaksa merengek minta uang tambahan kepada ayah lewat telepon. Bahkan pemaksaan dilakukan dengan kekerasan. Ujung-ujung kekerasan tersebut adalah masalah uang.

Aku menikah dengan pria pilihanku, bukan pilihan ibu. Ibu ingin menjodohkan aku dengan lelaki yang berduit. Namun aku nekat menikah dengan pacarku yang selama ini menjadi teman curhat ketika aku mendapatkan kekerasan. Hal tersebut membuat kami tidak nyaman tinggal di rumah ibu. Setelah meninggalkan rumah ibu, aku berharap penderitaanku secara lahir dan batin segera berakhir.

BAJA JUGA :   Viral Kisah Bocah 12 Tahun yang Jualan Cilok Demi Biaya Hidup Bersama Adiknya

Akhirnya memang aku bisa hidup bahagia dengan suami dengan kondisi yang pas-pasan. Untuk membantu ekonomi keluarga, aku ikut bekerja sebagai buruh di industri . Namunt idak dengan adik-adikku, mereka akan selalu jadi korban kekerasan ibu. Saat aku di rumah saja, sering terjadi kekerasan, apalagi aku tidak ada di rumah itu.

Adik Mencoba Bunuh Diri

Aku kaget ketiga mendapatkan kabar adik tiri yang paling besar  yang masih duduk kelas 2 di SMK kabur dari rumah. Yang bikin miris adalah ketika mengetahui adik berusaha coba bunuh diri setelah dipukuli ibu. Inilah puncak kekerasan yang dialami  adikku Wina, sebut saja demikian. Apa yang dialami Wina sama seperti yang aku alami dulu.

Merasakan penderitaanku selama diasuh ibu dan melihat penderitaan adikku saat ini ingin rasanya untuk melaporkan ibu ke polisi. Agar ibu menyadari bahwa kekerasan yang dilakukan tersebut salah dan melanggar hukum. Apalagi ada saran orang lain agar aku menempuh jalur hukum  agar adikku bisa terlindungi. Apalagi ada dua adik perempuan lainnya yang harus dilindungi. Kalau tidak, mereka akan jadi korban berikutnya.  Paling tidak laporan tersebut bersifat sementara, setelah ditahan di sel polisi beberapa hari, pengaduan dicabut lagi. Ada juga niat mengambil kuasa asuh adikku jatuh ke aku lewat  proses pengadilan. Harapannya bisa melindungi ketiga adik perempuanku dari kekerasan ibu.

Sekarang ini aku telah mengadu ke Komisi  Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri. Aku menunggu bagaimana proses selanjutnya yang baik bagi nasib ketiga adikku kedepan.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here