Tak Bayar SPP, Siswi Disuruh Push-up hingga Trauma

0
226
lustrasi orban trauma akibat hukuman fisik

BOGOR – Seorang siswi berinisial G ,10 tahun, di  benar-benar takut masuk sekolah lagi di salah satu SD  swasta di Bojonggede, Kabupaten Bogor. Dia mengalami trauma setelah dihukum puah-up 100 kali oleh gurunya. Ia dihukum karena belum membayar SPP.

G mengatakan, peristiwa itu dialaminya pada pekan lalu. Saat sedang belajar, G dipanggil kakak kelas untuk menghadap kepala sekolah.

‘’Setelah menghadap ke kepala sekolah, saya diminta push-up 100 kali,’’ ujar G . , ketika dijumpai wartawan  di kawasan Kampung Sidamukti, RT 005 RW 010, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat.

BAJA JUGA :   Permasalahan Hak Dasar Anak Masih Ditemui di Kepri

Yang menyuruh melakukan push up adalah kepala sekolah.Karena belum bayar, G diancam tidak dapat kartu ujian sehingga terancam tidak bisa ikut ujian.

Menurut dia, hukuman push-up bukan kali ini diterimanya. Ia sudah dua kali dihukum seperti itu. Siswa lain pun ada yang dihukum sama dengannya.

“Pernah lagi waktu itu dihukum push up, tetapi cuma disuruh 10 kali. Dari kelas aku ada dua orang lagi yang disuruh push-up,” ucap dia.

Akibat push-up ini, G mengalami sakit pada perutnya. Ia pun takut bersekolah lagi. “Saya takut disuruh push-up lagi kalau datang ke sekolah,” ujar  G.

BAJA JUGA :   Media Mainstream dan Medsos Dilarang Publis Identitas Korban Anak

Kejadian yang menimpa G ini membuat pihak keluarga berencana memindahkannya ke sekolah lain. Pihak keluarga berharap, tidak ada lagi siswa di sekolah tersebut yang diperlukan demikian.

“Semoga tidak ada lagi yang diperlakukan seperti adik saya ini. Kasihan sudah 10 hari enggak mau sekolah dan enggak mau ketemu orang,” ucap kakak dari G yang enggan disebutkan namanya.

Kepala Sekolah SDIT Bina Mujtama, Budi, membenarkan adanya hukuman push-up yang dilakukan oleh pihaknya kepada G..

BAJA JUGA :   KPAI dan KPPAD Dorong Sekolah Ramah Anak

Budi mengatakan, hukuman tersebut dilakukan karena G belum melunasi SPP selama berbulan-bulan. “Sudah hampir 10 bulan lebih G belum bayaran,’’  kata Budi.

Ia mengatakan, hukuman tersebut sebagai bentuk shock therapy pada G agar orangtuanya melunasi SPP.

“Jadi hanya shock therapy kita panggil saja, Memang kita suruh push up,  tapi tidak sampai sebanyak itu (100 kali). Cuma 10 kali kok terus kita ajak ngobrol lagi anaknya,” ujar Budi.*

sumber: suar.grid.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here