Waspadai DBD, Tahun Lalu 639 Korban, 2 Meninggal

0
122
Lingkungan bermain dan belajar anak seperti sekolah juga jadi sasaran fogging mencegah DBD menimpa anak

BATAM – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) lagi terjadi di beberpa daerah di Indonesia saat ini. Apalagi memasuki musim penghujan. Angka kasus DBD lalu bisa jadi acuan supaya warga lebih waspada lagi supaya tidak diserang DBD, terutama usia anak yang rentan jadi korbannya.

Di Batam, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat selama 2018, sebanyak 639 warga terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Dua di antaranya meninggal dunia.

Data penderita DBD tersebut dihimpun dari laporan rumah sakit, klinik, maupun puskesmas dari seluruh Batam.

Kepala Dinkes Kota Batam Didi Kusmarjadi mengatakan faktor curah hujan yang tinggi memicu nyamuk aedes aegypti berkembang dengan cepat, sehingga menyebabkan ratusan warga terserang DBD sepanjang 2018.

Bahkan, untuk mengantisipasi meningkatnya penderita DBD, Dinkes sudah mengirimkan surat edaran kepada lurah dan pus-kesmas agar menjaga kebersihan dengan menerapkan 4M (menutup, menguras, menimbun, dan membersihkan).

Didi juga mengingatkan warga untuk memperhatikan tempat penampungan air yang ada di rumah, mengecek vas bunga yang biasanya menjadi tempat nyamuk bersarang. ”Edaran sudah sejak Desember lalu. Kami berharap warga mau bersama-sama meningkatkan kebersihan dan waspada terhadap DBD,” tuturnya.

Dikatakannya, perilaku hidup sehat bisa menghindarkan warga dari serangan nyamuk penyebab DBD itu. Saat ini, penderita DBD terbanyak ditemukan di Kecamatan Nongsa dengan 148 kasus. Lalu Kecamatan Belakangpadang 115 kasus. Sedangkan Kecamatan Bulang dan Galang tak ada kasus.

Didi juga menyebutkan Januari 2019 ini data pende-rita DBD belum ada, sebab masih berjalan dua pekan. ”Paling tidak akhir bulan atau awal Februari baru ada, karena menunggu data dari rumah sakit juga,” ujarnya.

Selain menerapkan 4M, langkah lain yang dilakukan untuk menimalisir berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti adalah dengan fogging atau pengasapan. Meski diakuinya pengasapan ini bukan cara yang terbaik untuk membunuh nyamuk penyebab DBD tersebut.

”Yang paling bagus itu 4M plus. Fogging ini dilakukan kalau sudah ada korban yang ditemukan tapi cara ini tidak efektif. Sebab nyamuk semakin bertahan jika kena fogging,” bebernya.

Adapun 4M plus artinya menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, mengubur tempat penampu-ngan air yang tidak terpakai, dan memantau jentik nyamuk seminggu sekali. Plus di sini artinya menghindari gigitan nyamuk menggunakan repelen anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, melakukan larvasidasi, dan menggunakan kelambu.

Didi juga mengingatkan warga agar cepat tanggap mengenali ciri-ciri demam berdarah. Yaitu, ciri-ciri awal DBD di antaranya nyeri di bagian punggung, sendi, dan tulang, hilang selera makan, kelelahan atau panas dingin, mual, serta muncul ruam-ruam merah pada kulit.

”Jika ada anggota keluarga yang memiliki ciri-ciri tersebut, segera bawa ke pusat layanan kesehatan agar bisa ditangani dengan cepat,” imbaunya.

Kawasan Ruli Rawan DBD

Camat Batuampar Tukijan mengaku di wilayahnya cukup banyak penderita DBD 2018 lalu. Ia pun berharap warganya bisa lebih menjaga kesehatan, terutama lingku-ngan tempat tinggal.

”Kami berharap tahun ini tak ada lagi masyarakat yang terjangkit. Karena itu mari sama-sama menjaga kebersihan,” tuturnya.

Dikatakannya, warga yang tinggal di permukiman rumah liar (ruli) rawan terserang DBD. Itu dikarenakan drainasenya tidak bagus. Apalagi tempat pembuangan sampah tidak ada.

”Jadi, harapan kami masyarakat bisa lebih menjaga kebersihaan, terutama di kawasan ruli.”

Menurutnya, setiap bulan kader kesehatan selalu mensosialisasikan agar masyarakat bisa hidup sehat. Selain itu, gotong royong (goro) juga harus diterapkan minimal seminggu sekali agar lingku-ngan tetap bersih.

”Biasanya jadwal goro tiap permukiman itu ada. Namun, banyak juga warga yang malas untuk goro, padahal untuk kepentingan bersama,” jelas Tukijan.

Sementara Camat Bengkong M Tahir mengatakan, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan masih rendah. Padahal sudah ada beberapa kasus DBD di Bengkong.

”Harusnya setelah adanya kasus, masyarakat bisa lebih waspada dan menjaga kebersihan. Ini masih cuek saja,” sesalnya.

Di sisi lain, Taher juga berharap dua pukesemas di Kecamatan Bengkong bisa aktif mensosialisasikan bahaya DBD. Terutama di musim penghujan agar tak ada lagi korban berjatuhan. ”Puskesmas punya peran serta juga bersama kader kesehatan,” sebutnya.

Menurut dia, nyamuk penyebab DBD bisa bersarang dimana saja. Bahkan nyamuk tersebut juga menyerang permukiman elite.

”Nyamuk itu justru suka di air yang bersih yang tergenang. Jadi, intinya kita semua harus bisa mene-rapkan 4M plus. Jangan me-ngira rumah sudah bersih tak akan bisa terkena DBD,” kata-nya mengingatkan.*

Sumber:Batampos.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here