Majelis Hakim Geram dengan Dua Pencabul Anak

0
209
dedi, pelaku pencabulan pada anak divonis 12 tahun penjara ditambah denda 100 juta subsider 6 bulan penjara dalam sidang Rabu sore, 30 Januari 2019. Foto: Erry Syahrial

Dapat Hukuman yang Sama Berat

BATAM – Majelsi hakim di Pengadilan Negeri Batam terlihat geram dengan pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang mereka vonis dalam sidang yang berlangsung Rabu sore, 30 Januari 2019.  Kegeraman hakim tersebut ditunjukan dalam dua vonis hukuman bagi kedua pelaku pencabulan dalam kasus yang berbeda.

Dua predator pelaku pencabulan pada anak tersebut disidang oleh majelis hakim yang sama. Keduanya dijatuhi vonis yang sama yaitu 12 tahun penjara ditambah denda 100 juta subsider 6 bulan penjara.

Kedua pelaku pencabulan terhadap anak tersebut masing-masing seorang kakek Walneri, 61 tahun, dan satu lagi usianya jauh lebih muda, Dedi Putra.  Hukuman 12 tahun penjara ditambah denda tersebut dinilai pantas diterima kedua terdakwa meski kedua terdakwa pikir-pikir mangajukan banding.

Kedua pelaku disidang sceara bergantian oleh majelis hakim dan ketua hakim yang sama. Yang pertama disidang adalah terdakwa Dedi.  Usai divonis, Dedi langsung diborgol dan digiring dalam sel tahanan. Kemudian dilanjutkan dengan sidang terdakwa Walneri. Usai divonis langsung digiring pegawai kejaksaan ke sel tahanan.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Erry Syahrial yang ikut mengawasi proses persidangan vonis kasus pencabulan tersebut mangaku senang dengan putusan hakim tersebut.

‘’Hukumannya lebih tinggi dari tuntutan jaksa. Kita apresiasi atas putusan hakim tersebut karena hukuman yang diberikan tergolong maksimal. Hukuman paling maksimal bagi terdakwa pencabulan berdasarkan UU Perlindungan Anak adalah 15 tahun penjara,’’ ujar Erry kepada para wartawan yang juga meliput sidang tersebut.

Dengan vonis tersebut, lanjut Erry, berarti hakim sudah mempertimbangkan kondisi di tengah masyarakat Indonesia terutama di Kota Batam yang saat ini kembali marak kasus pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak.

‘’Mudah-mudahan dengan hukuman tersebut, pelaku bisa jera dan masyarakat yang mau mencoba-coba untuk perpikir 1000 kali sebelum melakukan,’’ kata Erry.

Erry mengakui bahwa sudah ada Perppu Pemberatan Hukuman bagi Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak yang kemudian disahkan menjadi perubahan kedua UU Perlindungan Anak No 23 tahun 2002. Namun hukuman pemberatan berupa kebiri, pemasangan chip, rehabilitas pelaku dan lainnya itu belum bisa dilaksanakan.

‘’Aturan teknisnya belum keluar. Makanya kita berharap kepada aparat penegak hukum terutama JPU dan hakim bisa melakukan pemberatan hukuman dengan memberikan hukuman maksimal pemenjaraan,’’ kata Erry.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here