Bangun Keluarga, Puspaga Kepri Gandeng Mahasiswa

0
344
Marlia Sari Dewi, Komisioner KPPAD Kepri memberikan pembekalan kepada mahasiswa dalam program Puspaga. Foto: Marlia Sari Dewi

TANJUNGPINANG – Masih rentannya keluarga dan berimbas kepada berbagai persoalan yang muncul dalam keluarga  termasuk salah satunya adalah maraknya persoalan anak menjadi perhatian Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Kepri.

Untuk memperkuat fungsi keluarga tersebut, (DP3AP2KB) Provinsi Kepri mengandeng mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Tanjungpinang untuk menjadi ujung tombak dalam penguatan keluarga. Diharapkan mahasiwa yang sudah tergabung dalam Forum Mahasiswa Peduli Perempuan dan Anak di Kepri menjadi volunter untuk melakukan penguatan keluarga di tengah masyarakat.

Bertempat di Sekreariat Puspaga Kepri di Batu 8 Atas Tanjungpinang, sebanyak 70 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan mendapatkan pembekalan (capasity building) selama dua hari tentang perlindungan anak, perempuan dan permasalahan keluarga. Mahasiswa ini antara lain berasal dari kampus Umrah, STTI, STIE Pembangunan, STAI, Stisipol, AKBID dan lainnya.

BAJA JUGA :   Korban KDRT Tak Ditanggung BPJS Kesehatan

Pembekalan ini dibuka oleh Kepala DP3AP2KB Provinsi Kepri dan diberikan oleh pemateri dari DP3AP2KB Provinsi Kepri dan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri. Acara berlangsung dua hari, Rabu – Kamis, 30-31 Januari 2019.

Marlia Sari Dewi, Komisioner KPPAD Kepri dalam pembekalan para mahasiswa ini memberikan materi soal perlindungan anak meliputi UU Perlindungan Anak dan UU lainnya terkait anak, hak-hak anak dan permasalahan anak meliputi kekerasan dan eksploitasi seksual anak di Kepri yang angka cukup tinggi. Diharapkan, mahasiswa memahami hak  anak dan menerapkan prinsip-prinsip perlindungan anak dalam melaksanakan Puspaga.

‘’Prinsip-prinsip perlindungan anak yang meliputi non diskriminasi, penghargaan terhadap pendapat anak, kepentingan terbaik anak, kelangsungan hidup anak sejalan dengan prinsip-prinsip Puspaga, ditambah dengan  pelayanan yang mudah diakses dengan sarana yang penuh warna,’ ujar Marlia.

BAJA JUGA :   Kiat Memutus Rantai Kekerasan terhadap Anak, Ini Saran Psikolog

Puspaga di Provinsi Kepri sudah dibentuk tahun 2018. Dengan terbentuknya Puspaga berarti sudah menambah pusat pelayanan kepada perempuan dan anak, terutama dalam hal pencegahan. Saat ini Provinsi Kepri  sudah memiliki P2TP2A yang sudah mengantongi sertifikasi ISO dalam hal pelayanan, Telepon Sahabat Anak (TESA), Forum Anak Daerah (FAD) yang bernama  Forum Anak kepri (Forari) dan  Forum Mahasiswa Peduli Anak dan Perempuan.

Dapat Diakses Keluarga

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise mengatakan, Puspaga sebagai agen pelayanan publik yang penuh dedikasi dalam membangun keluarga Indonesia. Permasalahan keluarga yang timbul bagaikan fenomena gunung es karena yang dapat diketahui hanya sebagian kecil dari puluhan ribu permasalahan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise

‘’Oleh karena itu, negara berkewajiban dan bertanggung jawab untuk membantu orang tua yang mengalami kesulitan dalam mengasuh dan melindungi anak melalui penyediaan berbagai program Puspaga,’’ ujar Yohana baru-baru ini.

BAJA JUGA :   Stress Dicemburui, Suami Habisi Istri dan Anaknya

Puspaga merupakan one stop services atau Layanan Satu Pintu Keluarga Berbasis Hak Anak untuk memberikan solusi atau jalan keluar bagi orang tua, anak, dan keluarga dalam menghadapi permasalahan pada langkah pertama pencegahan.

Kementerian PPPA menginisiasi Puspaga sejak 2016 dan saat ini telah banyak Pemerintah Daerah (Pemda), baik provinsi maupun kota/kabupaten, salah satunya Provinsi Kepri. Dasar pemilihan penempatan Puspaga adalah daerah yang telah mempunyai komitmen dengan menyediakan sarana dan alokasi anggaran untuk keberlanjutan Puspaga.

Puspaga mudah diakses dengan sarana yang penuh warna, mempunyai konsep layanannya yang juga dikenal, seperti nyaman dan menyenangkan.

‘’Saya berharap Puspaga lebih dekat dengan keluarga dan dapat dijangkau bagi keluarga manapun untuk mendapatkan layanan konseling, konsultasi, dan mendapatkan informasi terkait pengetahuan dan keterampilan menjadi orang tua sesuai hak anak,” tutup Yohana.*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here