Kiat Memutus Rantai Kekerasan terhadap Anak, Ini Saran Psikolog

0
154
Ilustrasi kekerasan terhadap anak.

JAKARTA – Jumlah perempuan dan anak yang mengalami kekerasan naik dari tahun ke tahun sehingga dibutuhkan edukasi masyarakat untuk memutus rantai kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Dari data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,  pada tahun 2016 jumlah kasus kekerasan tercatat 11.723 kasus. Sementara, pada 2017 sebanyak 17.099 kasus.

Selisih kenaikan angka kekerasan dari 2016 ke 2017 menjadi 5.376 kasus. Jumlah korban pada 2017 lebih banyak, yakni 18.507 orang,  pada 2016 sebanyak 12.674 orang, atau naik 5.833 orang.

Kementerian PPPA mengklain persentase korban yang terlayani juga naik 19,7 persen. Pada 2016 jumlah korban yang terlayani sekitar 69,7 persen dan pada 2017 menjadi 89,4 persen.

Menurut Monika W. Satyajati dari Center for Trauma Recovery Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapratana Semarang, dari sisi psikologi dukungan lingkungan sangat penting dalam memutuskan rantai kekerasan. Kekerasan bisa terjadi pada semua anak, tetapi kalau ada ketidakpedulian sosial dari lingkungan,  maka kekerasan yang sudah terjadi akan semakin awet dan sulit dihentikan.

Monika W. Satyajati

“Misalnya, ada anak mendapat perilaku keras dari keluarga. Tetapi lingkungan tetangga dan sekolah langsung tahu sejak kejadian pertama, maka bisa dicegah adanya kejadian-kejadian berikutnya,” jelas Monika.

Pemerintah perlu meningkatkan kepedulian sosial. Misalnya, jika di lingkungan rumah ada kader PKK yang bertugas, maka dia akan paham betul kondisi warga sekitar. Lalu, ada juga prosedur tentang apa yang dilakukan ketika tahu ada tetangga yang mengalami kekerasan.

“Tindakan tegas pada satu orang dapat membuat orang lain di sekitarnya berpikir ulang sebelum melakukan kekerasan,” tutur Monika.

Elemen kedua yang menurut Monika penting adalah sekolah. Dia berpendapat, ada banyak temuan guru di sekolah yang kurang peduli pada perubahan pada murid-muridnya.

Guru memiliki kerja yang cukup banyak dan di beberapa tempat juga jumlah guru dan murid tidak sepadan. Sementara, guru digenjot untuk punya target akademik.

“Padahal guru bertemu dengan murid-muridnya setiap hari. Nah, kalau pemerintah bisa menyeimbangkan target guru bukan terlalu tinggi genjot akademik, tetapi punya interaksi sosial dan emosional dengan murid-muridnya, maka guru akan lebih memahani maka yang rentan di-bully, dan mana yang tidak. Guru juga akan lebih sadar kalau ada tanda-tanda kekerasan pada anak misalnya jadi pendiam, dan ada bekas luka,” tambahnya.

Beberapa komponen pendidikan yang perlu ditambah dalam lingkungan pendidikan anak-anak adalah kesenian, olahraga, dan bermain. Menurut Monika, pembelajaran jenis itu meningkatkan interaksi sosial anak dengan lingkungannya.

“Saya banyak jumlah klien yang cerdas, tetapi tidak paham cara berinteraksi dengan lingkungan dan jika dia masih anak-anak, mereka jadi lebih rentan menjadi korban kekerasan,” ujar Monika.*

Sumber: KPPPA, tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here