Anak Gemar Main Medsos Rentan Alami Sekstorsi

0
349
Margaret Aliyatul Maimunah

KPPAD Kepri: Semakin Mendekatkan Anak dengan Pelaku

JAKARTA – Dampak dari internet dan media sosial yang gampang diakses oleh anak Indonesia saat ini berdampak pada tumbuh kembang dan permasalahan anak yang terjadi di Indonesia. Kasus pornografi dan cybercrime yang terjadi pada anak di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengamati kenaikan kasus anak di bidang pornografi dan cybercrime sebagai akibat pengaruh interaksi anak dengan internet, media sosial, dan smarphone. Pada tahun 2018 lalu, ada sebanyak 679 kasus pornografi dan cybercame yang melibatkan anak yang  dilaporkan dan tercatat di KPAI. Angka ini belum lagi kasus pornografi dan cybercrime yang tangani lembaga lain dan yang ada di daerah-daerah.

Komisioner Bidang Pornografi dan Cyber Crime Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, kondisi ini menempatkan kasus pornografi dan cybercrime di peringkat kedua pelanggaran yang paling sering terjadi selama tahun 2018.

Dari total keseluruhan kasus, satu fenomena yang patut diwaspadai dari kejahatan pada anak di dunia maya ialah terkait dengan sekstorsi.

“Kami memang masih belum mempunyai data pasti terkait dengan sekstorsi, tapi sepanjang tahun 2018 lalu itu sudah lebih dari tiga. Artinya ini cukup banyak,” ucap Margaret kepada lindungianak.com.

BAJA JUGA :   Tujuh Juta Anak 17 Tahun Berpotensi Tidak Bisa Memilih saat Pemilu, Ini Sebabnya

Margaret menjelaskan, intinya sekstorsi ialah pemerasan yang dilakukan dengan ancaman penyebaran foto-foto tidak senonoh dari para korban. Menurutnya, hal ini banyak terjadi pada anak dengan pelaku orang dewasa yang dikenalnya melalui media sosial.

“Mereka melakukan komunikasi efektif atau layaknya orang pacaran dan pelaku atau orang dewasa meminta untuk saling bertukar pornografi, dan foto ini digunakan untuk memeras anak atau korban. Mereka meminta uang atau kuota dan sebagainya kalau tidak mau foto itu disebar ke berbagai jaringan,” ujar Margaret menjelaskan.

Dalam beberapa kasus, meski sang anak telah pindah sekolah dan tempat tinggal, para pelaku masih meneror dan mengancam untuk menyebarluaskan foto tersebut kepada teman-teman terdekatnya.

Menurut Margaret, saat ini orang dewasa memang lebih sering menjadi pelakunya. Namun, tidak menutup kemungkinan jika di kemudian hari anak bisa menjadi pelaku. Oleh karena itu, ia meminta orangtua lebih memperhatikan tentang penggunaan gedget anak dan juga memperkaya pemahaman literasi digital.

BAJA JUGA :   Pers Harus Lindungi Hak Anak dalam Setiap Pemberitaan

“Yang jelas orangtua kita beri penguatan literasi digital. Tapi harus dibarengi dengan kontrol dari orangtua. Orangtua wajib tahu konten apa saja yang diakses oleh anak, dan melarang untuk anak mengunci gedget -nya,” kata dia.

Berdampak pada Kasus Mendekatkan Anak dengan Pelaku

Hal senada juga disampaikan oleh Erry Syahrial, Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri terkait pengaruh internet dan teknologi informasi terutama gedget terhadap meningkat terjadinya kasus anak. Internet dan media sosial menjadi wadah baru bagi pelaku kejahatan untuk mengincar korbannya, termasuk untuk belajar atau mencoba-coba menjadi pelaku kejahatan.

Erry Syahrial

Bahkan internet dan media sosial, kata Erry, juga berdampak pada kasus kejahatan lainnya kepada anak seperti trafiking, eksploitasi seksual dan lainnya karena media sosial bisa mendekatkan antara pelaku dengan calon korbannya seperti tanpa ada sekat ruang dan waktu. Tidak saja jadi korban kejahatan, tapi membuat anak menjadi pelaku kejahatan.

BAJA JUGA :   Sinergi Penguatan Perlindungan Anak di Kepri

Dipaparkan Erry, sebagai contoh, KPPAD Kepri pernah menangani kasus trafiking. Sebelumnya, korban dan pelaku berkenalan lewat media sosial dan menjalin komunikasi yang intens. Oleh pelaku, korban yang amsih berstatus pelajar kemudian disuruh datang ke Batam dengan ditransfer uang transportasi udara.

‘’Korban kabur dari rumah, meninggalkan sekolahnya. Ternyata, sampai di Batam, korban dimasukkan ke tempat panti pijat yang ada binis prostitusinya. Korban baru menyadi bahwa kenalannya itu adalah jaringan pelaku perdagangan orang,’’ beber Erry, Sabtu (2/2/1019).

Banyak lagi kasus lain yang muncul akibat pergaruh kehadiran media sosial dan gadget pada anak. Anak harus mewaspadai hal ini.

‘’Orangtua dan guru harus mengedukasi untuk melakukan pecegahan yang disesuaikan dengan tingkat usia dan kematang anak. Pemberian gadget kepada anak juga mesti mempertimbangkan kebutuhan dan kemataangan anak. Dengan demikian anak hanya mengambil hal-hal yang postif dan terhindar dari hal-hal yang negatif ,’’ ujar Erry.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here