’’Disuruh Push Up, Saya Takut dan Sakit Perut’’

0
249
Korban G masih mengalami trauma akibat hukuman fisik yang terjadi di sekolah

Pengakuan G, Siswi SD yang Dihukum Kepseknya

DEPOK – G, 10 tahun, siswi yang mendapatkan hukuman fisik berupa push up sebanyak 10 kali dari 100 kali yang disuruh kepala sekolahnya, tampak masih trauma.  Siswi yang  bersekolah di SD sekolah swasta di kawasan Bojonggede, Kabupaten, Bogor itu juga masih mengalami sakit di bagian perutnya.

G tampak masih sangat terpukul dengan kejadian itu. Di temui di kediamannya, di kawasan Kampung Sidamukti, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, Depok, Jawa Barat,

Dirinya menceritakan, kejadian bermula ketika ia sedang mengikuti proses belajar mengajar tiba-tiba dipanggil kakak kelas untuk menghadap kepala sekolah. Tanpa rasa curiga, bocah yang baru duduk di bangku kelas empat SD inipun langsung mengikutinya.

BAJA JUGA :   Siswi Kelas 6 SD Ditemukan Tewas di Toilet Sekolah

Namun nahas, rupanya G mendapat hukuman yang tak layak.

Ia disuruh push up sebanyak 100 kali. “Yang nyuruh kepala sekolah. Gara-gara belum dapat kartu ujian, belum bayaran,” kata G dengan mata berkaca-kaca saat dikonfirmasi wartawan akhir Januari 2019 lalu.

G tidak sanggup melakukan push up 100 kali karena sakit di bagian perutnya. Rupanya, hukuman itu juga pernah ia alami. Namun yang kali ini telah membuat G trauma. Sebab Ia mengaku, push up itu telah membuat perutnya sakit.

Saking traumanya, G bahkan enggan melanjutkan pendidikannya di sekolah itu. “Saya takut, takut disuruh push up lagi,” katanya sambil menahan tangis.

Walikota Depok Bantu Korban

Pemerintah Kota Depok  memberikan bantuan kepada G berupa pelusaan uang tunggakan SPP di sekolahnya dan bantuan lain yang diperlukan korban. Sekretaris Daerah Kota Depok, Hardiono  langsung menjumpau korban dan keluarganya di Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong pada Selasa (29/1/2019) lalu.

BAJA JUGA :   5 Kota/Kabupaten di Kepri Sudah Dapat Panghargaan KLA

“Ya sangat trauma, dia ketakutan kalau bertemu orang yang tidak dikenal. Saat ini belum mau bertemu dengan orang lain. Kondisi psikologis ini harus dipulihkan terlebih dahulu. ,” ujar  Hardiono.

Wali Kota Depok, Idris Abdul Shomad, yang saat ini sedang menjalani ibadah umrah, juga terus memantau perkembangan kasus anak di ranah pendidikan itu.

“Pak Walikota menyarankan, agar anak itu dipindahkan ke sekolah di Depok, dan tunggakan SPP akan ditanggung oleh pak wali langsung,” sebut Hardiono.

BAJA JUGA :   Komisi X DPR: Pendidikan Karakter Juga Harus Diberikan kepada Guru

Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna, ikut prihatin dengan peristiwa yang dialami G. pihaknya akan turun langsung menangani kasus ini.

“Jujur kita sangat prihatin, kita mau cari tahu sekolahnya di mana. Ini anak usia wajib sekolah, SD ya, kok bisa sampai begitu,” katanya kepada wartawan.

Nantinya, jika benar anak itu sekolah di luar Depok, maka Pradi akan mengusulkan agar mencari sekolah yang terdekat. “Kalau informasinya jauh dari tempat tinggal kita upayakan di Depok saja.”

Sementara itu, dengan kejadian ini pihak keluarga pun berencana memindahkan G ke sekolah lain karena mengalami trauma dan takut untuk kembali bersekolah.*

Sumber: viva.co.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here