Sudah Ada Anak Kecil Bertanya Apa Itu Prostitusi Online

0
292
Anak-anak yang terlibat prostitusi

Keluarga Filter Utama Stop Prostitusi Anak

TANJUNGPINANG – Kasus prostitusi online yang melibatkan artis Vanessa Angel dan beberapa artis lainnya, serta terungkapnya  prostitusi online yang melibatkan ratusan pelajar di beberapa kota menjadi perhatian masyarakat, terutama para orangtua.

‘’Maraknya pemberitaan dan peungkapan prostitusi online di sisi lain telah mengusik para orangtua dan menimbulkan keresahan. Hal ini harus menjadi perhatian,’’ Mahmud Syaltut, Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, kepada lindungianak.com dan RRI Tanjungpinang, Rabu (6/2/2019).

Mahmud Syaltut, S,Psi Komisioner KPPAD Kepri

Saat ini menurutnya, ada dua hal yang menimbulkan kekuatiran para orangtua dengan maraknya berita prostitusi online. Pertama, kuatir anaknya ikut-ikutan terlibat. Sedang kedua, anaknya jadi penasaran dan bertanya apa itu prostitusi online, terutama anak yang berusia SD dan SMP.

“Ini harus menjadi perhatian bersama agar pemberitaan di media tidak bebas terbuka,” ujar Komisioner KPPAD yang membidangi Pendidikan, Hak Sipil dan Partisipasi Anak.

Lebih lanjut Syaltut memaparkan, ada bebarapa faktor yang melatarbelakangi munculnya prostitusi. Bisa karena persoalan keluarga yang rapuh sehingga anak lepas control dan bergerak bebas, sehingga rentan terseret ke arus itu.

Faktor ekonomi, gaya hidup hedonis berpikir instan demi mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Selanjutnya, eksistensi di lingkungan sosialnya, dengan mendapatkan uang banyak maka akan mendapat pengakuan di lingkungannya.

“Ketiga faktor itu sangat berpengaruh menyeret mereka ke dunia prostitusi,” jelasnya.

Lebih lanjut Syaltutmemaparkan, apalagi melalui online, membuat mereka melakukan secara praktis, singkat, dan tersembunyi. Oleh karena itu, peran keluarga tetap menjadi hal utama dalam memfilter anak tidak sampai terjerumus ke lingkungan mereka.

Menanamkan nilai-nilai agama secara berkarakter melalui keluarga menjadi poin utama. Karena jika anak terbentuk karakter yang baik di keluarga, maka secara moral dan mental bisa dipertanggungjawabkan saat di luar.

Komunikasi intens anak dengan orangtua di rumah menjadikan anak sangat terbuka terhadap mereka. Kontrol social melalui pendekatan budaya juga sangat berpengaruh dalam menanamkan nilai-nilai ahlak dan moral.

“Dengan pendekatan seperti itu bisa menjadi filter agar anak-anak kita tidak terjebak, apalagi tergiur dengan prostitusi online,”  ujar komisioner berlatarbekalang psikolog ini.

Terkait pembangunan infrastruktur Kepri menjadikan tujuan wisatawan, sehingga kuatir akan berdampak diikuti bisnis prostitusi,  Syaltut menjelaskan kalau pemerintah pasti sudah mempertimbangkan sisi postif dan dan negatifnya. “Intinya pembangunan fisik harus juga diimbangi dengan pembangunan mental spiritual,,” ujarnya.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here