Latihan Menembak Pelajar SPN Dirgantara Resahkan Warga Sekitar

0
248
Suasana latihan menembak yang diajarkan di SPN/SMK Dirgantara di depan sekolah, Sabtu (9/2/2019)

LINDUNGIANAK.COM, BATAM – Puluhan siswa dan siswi dari SPN Dirgantara, Batam, Kepulauan Riau, menggelar latihan menembak, Sabtu (9/2/2019). Beberapa pelajar yang mengenakan seragam sekolah olahraga berwarna biru tersebut tampak memegang senjata rakitan jenis senapan angin.

Didampingi guru olahraga, tampak beberapa papan bidikan berdiri berjajar disiapkan oleh pihak sekolah SPN. Akibat aktivitas latihan menembak tersebut, warga sekitar merasa resah bila peluru senapan angin tersebut mengenai warga yang sedang melintas.

“Ini sekolah nggak jelas, ini latihan menembak buat takut orang lewat. Kalau peluru nyasar gimana,” kesal Delon seorang warga kepada Batamnews.co.id, Minggu (10/2/2019).

Dengan adanya kegiatan tersebut, ia pun meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam untuk turun ke sekolah tersebut, mempertanyakan terkait adanya kegiatan kurikulum menembak yang dianggap sangat meresahkan warga.

“Ini aneh, apa ada ekskul menembak yang diajarkan oleh pihak sekolah dan ngga pantas lah siswa siswi diajarkan menembak,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Sudirman Dianto saat dihubungi Batamnews.co.id. Puluhan siswa dan siswi dari SPN Dirgantara, Batam, Kepulauan Riau, menggelar latihan menembak, Sabtu (9/2/2019). Beberapa pelajar yang mengenakan seragam sekolah olahraga berwarna biru tersebut tampak memegang senjata rakitan jenis senapan angin.

BAJA JUGA :   Ombudsman dan KPAI Dalami Dugaan Kekerasan di SMPN 10 Jogja

Didampingi guru olahraga, tampak beberapa papan bidikan berdiri berjajar disiapkan oleh pihak sekolah SPN. Akibat aktivitas latihan menembak tersebut, warga sekitar merasa resah bila peluru senapan angin tersebut mengenai warga yang sedang melintas.

“Ini sekolah nggak jelas, ini latihan menembak buat takut orang lewat. Kalau peluru nyasar gimana,” kesal Delon seorang warga kepada Batamnews.co.id, Minggu (10/2/2019).

Dengan adanya kegiatan tersebut, ia pun meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam untuk turun ke sekolah tersebut, mempertanyakan terkait adanya kegiatan kurikulum menembak yang dianggap sangat meresahkan warga.

“Ini aneh, apa ada ekskul menembak yang diajarkan oleh pihak sekolah dan ngga pantas lah siswa siswi diajarkan menembak,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Kota Batam, Sudirman Dianto saat dihubungi Batamnews.co.id di waktu yang sama, berencana akan turun ke sekolah tersebut untuk mempertanyakan ada dan tidaknya kurikulum menembak yang diajarkan kepada siswa-siswi SPN Dirgantara.

BAJA JUGA :   Miris! Ada 2 Caleg di Sumbar yang Terlibat Kasus Pencabulan Anak

“Kalau memang ada pelanggaran, kurikulum ekstrakurikuler menembak akan kita minta hentikan jika itu membahayakan nyawa manusia,” ucapnya.

Sudirman berharap, pihak SPN Dirgantara bisa memberikan kegiatan ekstrakurikuler yang tidak membahayakan bagi siswa siswi maupun warga sekitarnya. “Kalau ekstra kurikuler yang tidak membahayakan nyawa siswa siswi dan masyarakat ya gak apa-apa,” katanya.

di waktu yang sama, berencana akan turun ke sekolah tersebut untuk mempertanyakan ada dan tidaknya kurikulum menembak yang diajarkan kepada siswa-siswi SPN Dirgantara.

“Kalau memang ada pelanggaran, kurikulum ekstrakurikuler menembak akan kita minta hentikan jika itu membahayakan nyawa manusia,” ucapnya.

Sudirman berharap, pihak SPN Dirgantara bisa memberikan kegiatan ekstrakurikuler yang tidak membahayakan bagi siswa siswi maupun warga sekitarnya. “Kalau ekstra kurikuler yang tidak membahayakan nyawa siswa siswi dan masyarakat ya gak apa-apa,” katanya.

Sebelumnya Ada Kasus Kekerasan

Sekolah ini beberapa bulan lalu juga bermasalah secara hukum terkait dengan kasus penganiayaan yang dilakukan pembina sekolah kepada muridnya. Pembina sekolah waktu itu melakukan penangkapan, kekekrasan dan memasukan siswanya ke dalam sel sekolah sebagai bentuk hukuman karena kabur saat mengikuti PKL di Jakarta.

BAJA JUGA :   KPAI Sidak Sekolah yang Menghukum Push-up Siswi karena Belum Bayar SPP

Siswa yang kabur tersebut takut masuk sekolah lagi khawatir kekerasan berulang hingga ditangkap di bandara oleh pembina dan siswa lainnya. Kasus kekerasan tersebut kemudian dilaporkan ke Komisi Pengawsan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD ) Kepri yang kemudian diteruskan ke Polres Barelang dan Dinas Pendidikan Kepri. Akhirnya pembina yang merupakan anggota Sabhara Polres Barelang diproses pelanggaran kode etik kepolisian dan pidana umumnya.

Kasus tersebut mendapat perhatian Kementrian Pendidikan Nasional bidang SMK, Komisi Perlindungan Anak Indonesioa (KPAI), Komisi Kepolisian (Kompolnas) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sehingga turun ke Batam. Hingga saat ini kasus hukum masalah tersebut belum tuntas penangganannya.

Kasus tersebut juga jadi pintu masuk untuk pembenahan SMK di Kepri dan Indonesia sehingga tidak boleh lagi ada kekerasan dan pendidikan semi militer. Termasuk tidak  diperkenankan lagi menggunakan nomenklatur Sekolah Penerbangan Nasional (SPN), tapi  memakai nama SMK. *

Sumber: Batamnews.co.id, kppad kepri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here