Proses Hukum untuk Anak  atau Pelajar yang Melanggar Hukum?

0
235
Kasus siswa SMP tantang guru di Gresik yang berakhir damai setelah mediasi

SAYA orangtua dan masyarakat  merasa marah dan kesal dengan perilaku anak atau pelajar yang menantang gurunya di sekolah , seperti kejadian di SMP di Gresik yang viral baru-baru ini. Namun akhirnya berakhir damai setelah muridnya menangis takut dihukum dan dipenjara..

Saya masih ingat saat  di SD sering mengikrarkan Tri Prasetia Pelajar. Diantaranya pelajar harus jujur tunduk dan taat pada orangtua dan guru. Mohon penjelasan tentang hukuman yang berlaku untuk anak  atau pelajar?

Wivina Wijaya, Batam

 

Jawab:

Kenakalan anak itu ada dua macam, pertama kenakalan yang tidak bisa diproses secara hukum seperti bolos sekolah, tidak hormat pada orangtua, termasuk merokok. Anak seperti ini sebut anak nakal. Kedua, pelanggaran hukum seperti mencuri, memukul orang, pencabulan dan lainnya. Anak yang melakukan ini bisa diproses secara hukum dan disebut anak berhadapan hukum (ABH).

Di Indonesia siapa saja yang melanggar hukum bisa dihukum termasuk anak atau  pelajar. Cuma untuk usia anak caranya atau prosesnya berbeda,  demikian juga tujuan mungkin berbeda bila dibandingkan orang dewasa. Untuk anak harus dikedepankan aspek kepentingan terbaik bagi anak. Kalau penjara masih bisa dihindari maka harus dihindari untuk anak. Artinya pilihan penjara harus jadi pilihan terakhir.

Untuk anak proses dan syaratnya agak panjang. Lembaga dan instansi yang menangani juga lebih banyak, bahkan ada pengawasannya. Ibarat ambil jalan memutar dulu. Tujuan penghukuman anak juga berbeda yaitu lebih ke rehabilitasi.

Untuk kasus ini saya rasa ini hanya masalah etika. Anak atau pelajarnya tidak beretika. Saya nilai tidak ada tindakan pidana karena ia tidak sampai memukul guru, ia cuma menantang. Kalau dibawa ke pidana, deliknya tidak cukup kuat untuk mempenjarakan anak tersebut.

Makanya masalah tersebut diselesaikan secara mediasi dan itu merupakan pilihan terbaik. Sianak menyadari kesalahannya dan berjanji tidak mengulangi serta kedepan akan hormat pada guru. Siguru memberikan maaf  kepada anak dan keluarganya sehingga tidak ada dendam dan resistensi lain setelah itu.

Kalau ditempuh jalur hukum, selain kurang kuat, juga akan menghabiskan waktu kedua belah pihak untuk menjalani proses hukum.  Proses belajar mengajar akan terganggu dan ada resistensi tidak puas sehingga masih ada ganjalan, bisa jadi dendam dan masalah tidak selesai.

Kasus siswa lukai guru dan ada gurunya yang  sampai meninggal beberapa waktu lalu diproses kok secara hukum. Anaknya dihukum di penjara beberapa tahun. Kalau ada beberapa kasus tidak lanjut ke polisi atau pengadilan itu bukan karena tidak bisa diproses, tapi kembali keinginan dua pihak yaitu guru dan keluarga anaknya yang  ingin mediasi atau diselesaikan secara kekeluargaan.

Banyak siswa yg tidak beretika itu tugas guru di sekolah dan orangtua di rumah. Yang dibela KPAI atau KPPAD bukan prilaku kriminal anak atau etika yang tidak hormat guru, tapi bagaimana hak haknya sebagai anak tetap didapatkan  ketika ia bersalah atau dihukum..

Aspek kepentingan terbaik bagi anak tetap dikedepankan untuk mencari solusi masalah anak, termasuk saat diberikan sanksi atau  hukuman. Tujuannya anak  dikasih kesempatan  pada anak   untuk berubah dan menyadari kesalahannya.

Kalau  tidak demikian maka akan banyak remaja dan generasi muda kita jadi penjahat, dan banyak berada di penjara dan itu menjadi persoalan  yang serius bagi eksistensi bangsa ini kedepan.

Kadang anak tidak sepenuhnya menyadari konsekuensi hukum dari pelanggaran  atau kesalahan yang dilakukannya. Menjadi bagian  proses tumbuh kembang pada anak. Ketika ia salah dan saat diproses menyadari kesalahan dan berjanji tidak berbuat lagi. Itu menjadi lebih penting daripada menghukum ia di penjara, tapi tidak pernah berubah menjadi lebih baik.*

Erry Syahrial, Ketua KPPAD Kepri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here