Orangtua Balita Kelamin Ganda Harap Anaknya Bisa Dioperasi

0
248
DW digendong ibuknya saat berjumpa dengan ketua KPAID Kab Tasik Malaya Ato Rinanto

TASIKMALAYA, LINDUNGIANAK.COM – Seorang anak bernama DW, 4 tahun, anak kedua pasangan Do  (39) dan Ee (36) Warga Pasanggrahan Kecamatan Rapajolah Kabupaten Tasikmalaya mengalami kelainan pada  organ vitalnya.

DW tercatat di akta kelahiran sebagai anak laki-laki, tetapi pada kenyataannya berkelamin ganda. Namun kerena keterbatasan ekonomi, orang tua Dani belum melakukan tindakan medis apapun.

Berkeinginan sang buah hati normal layaknya seperti anak lainnya, pasangan suami istri itu pun mendatangi Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Tasikmalaya.

Dengan berurai air mata, Ee tidak kuasa menahan tangis menceritakan kondisi anak keduanya tersebut. Ee menceritakan, kondisi yang dialami oleh anaknya, DW, terjadi sejak lahir.

BAJA JUGA :   Marak Predator Anak di Tangsel, Pemkot Didesak Persempit Ruang Gerak Pelaku

Meski memiliki alat kelamin laki laki, namun DW juga memiliki organ vital perempuan. Saat buang air kecil, DW tidak mengeluarkan air seni dari kemaluan laki laki, namun dari lubang kecil menyerupai kelamin perempuan.

“Anak saya kondisi fisik sehat, tidak ada keluhan apa apa. Tapi ya tadi, seperti mempunyai dua kelamin berbeda. Saya hanya bisa pasrah untuk sekarang, karena tidak ada biaya,” kata Ee yang ditemui wartawan, Jumat (15/2/2019).

BAJA JUGA :   PROFILE KELEMBAGAAN KPPAD KEPRI

Dalam keseharian, lanjut Ee, DW tidak berbeda dengan anak seusianya. Ia bermain bersama teman baik laki laki maupun perempuan. Keluarga berkeinginan, dani bisa dioperasi dan menjadi lelaki seutuhnya.

“Keinginan saya ingin dioperasi, biar kayak laki laki lainnya. Kalau pipis juga selalu kayak laki laki. Suka mobil mobilan, biasa normal keinginan anak lelaki begitu,” kata Ee.

Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto kepada Lindungianak.com menuturkan, pihaknya akan berupaya mencari solusi permasalahan yang dialami DW. Selain berkomunikasi dengan pemerintah daerah, pihaknya juga berkomunikasi dengan dokter spesialis.

BAJA JUGA :   Kata Dinkes Bintan, Bocah LH Alami Kelainan Syaraf

Dari hasil pendampingan sementara, dampak dari tidak normalnya kelamin DW, tumbuh kembang anak jadi terganggu. Kondisi ini tidak bisa diatasi karena faktor ekonomi keluarga.

“Ini sebetulnya butuh analisa dan diagnosa yang mendalam. Termasuk hormonnya diperiksa, apakah hormonya itu lebih ke laki-laki, atau perempuan. Kami akan berupaya mencarikan solusi, karena secara ekonomi keluarganya tidak mampu,” pungkas Ato.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here