Santri yang Dikeroyok 17 Temannya di Sumbar Meninggal Dunia

0
256
Polisi memeriksa asrama pondok pesantren tempat terjadi pengeroyokan.

PADANG, LINDUNGIANAK.COM –  Robi Alhalim, santri yang dikeroyok 17 rekannya di asrama Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Padang Panjang, Sumatera Barat, meninggal dunia, Senin, (18/2/2019). Robi meninggal di Rumah Sakit DR Muhammad Djamil setelah tak sadarkan diri selama lebih dari sepekan.

Ia menjadi korban keganasan belasan rekannya di asrama Pondok Pesantren Nurul Ikhlas. Pengeroyokan dan penganiayaan yang dialami Robi membuatnya tak sadarkan diri hingga tewas. Robi dilarikan ke rumah sakit pada Minggu (10/2/2019) dinihari. Awalnya, ia dirawat di RSUD Padang Panjang. Namun karena kondisinya yang parah, kemudian dirujuk ke Padang.

Hingga saat ini polisi sudah menetapkan 17 orang sebagai tersangka pengeroyokan. Dalam pemeriksaan terungkap, korban dikeroyok selama tiga hari di kamar asrama.

“Dari hasil gelar perkara, penyidik sampai pada kesimpulan untuk menetapkan ke-17 anak tersebut sebagai anak pelaku. Anak pelaku merupakan sebutan lain bagi tersangka dalam kasus yang melibatkan anak-anak, karena kita berpedoman pada UU Perlindungan Anak,” kata Kasat Reskrim Polres Padang Panjang Iptu Kalbert Jonaidi, Jumat (15/2).

Ia menjelaskan, ada 19 santri yang diduga terlibat dan terkait kasus tersebut. Namun hanya 17 yang bisa langsung ditetapkan sebagai anak pelaku, sementara dua lainnya masih berstatus sebagai aksi.

Kalbert mengungkapkan, sampai saat ini para santri yang telah ditetapkan sebagai anak pelaku tidak ditahan sesuai dengan permintaan pihak sekolah dan orang tua.

Sementara itu pihak pondok pesantren berharap para tersangka anak tak ditahan.

” Kami berharap mereka tidak ditahan,” kata pengawas Pondok Pesantren Nurul Ikhlas, Firmansyah.

Menurut Firman, pihaknya sudah mengirim surat permohonan agar ke-17 santri tersebut tak ditahan. Pihak Yayasan bersama seluruh pihak terkait, termasuk orang tua, bersedia menjadi penjamin.

“Bagaimanapun juga, anak-anak ini memiliki masa depan. Jadi kami dari sekolah berupaya untuk memberikan atau menyampaikan permohonan agar anak-anak ini tidak ditahan, tapi tetap dalam pembinaan dari Polres,” katanya.

Pihak Ponpes mengaku kecolongan atas peristiwa tersebut. “Setiap hari anak-anak diawasi. Kami kecolongan. Mungkin ini bisa jadi introspeksi dan pembelajaran dari semua bidang terkait di dalam (Ponpes). Jadi memang harus kami rapatkan barisan untuk meningkatkan pengawasan, pemantauan, pengontrolan dan mendeteksi secara dini kalau memang ada hal-hal yang mencurigakan dari anak-anak di asrama,” katanya, lagi.

Sementara itu Kapolsek X Koto, AKP Rita Sunarya  mengatakan, pihaknya menerima laporan dari orang tua korban pada Selasa (12/2/2019). Peristiwanya sendiri terjadi pada Minggu (11/2) malam. Namun baru diketahui keluarga keesokan hari, setelah didapati anaknya sudah berada di rumah sakit setempat.
Korban lalu dibawa ke Padang dan dirawat intensif di Ruang Observasi Intensif (ROI) RSUP M.Djamil Padang sebelum meninggal..

Diagnosa awal, pasien mengalami gangguan pada bagian kepala dengan tingkat kesadaran 6 persen. Pasien diduga kuat mengalami geger otak dan mengalami Trauma Thoraks atau cedera di bagian dada. *

Sumber: detik.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here