8 Anak Jadi Korban Eksploitasi Seksual Prostitusi Online

0
216
Ilustrasi prostitusi online

Terungkap Setelah Ada Laporan Kehilangan Anak

AMBON, LINDUNGIANAK.COM – Lagi pihak kepolisian mengungkap prostitusi online yang melibatkan anak sebagai korban eksploitasi seksual.Aparat Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease menetapkan dua wanita, yakni K dan F, sebagai tersangka dalam kasus prostitusi online yang terjadi di Kota Ambon ini.

Kapolres Pulau Ambon melalui Kasubbag Humas Polres Pulau Ambon Ipda Julkisno Kaisupy kepada sejumlah wartawan di ruang kerjanya, Rabu (20/2/2019) mengatakan, kedua wanita yang kini telah ditahan itu berprofesi sebagai mucikari.

“Saat ini penyidik telah menetapkan dua orang muncikari sebagai tersangka, keduanya yakni K dan satunya lagi F,” kata Julkisno.

Kasubbag Humas Polres Pulau Ambon Ipda Julkisno Kaisupy

Dia menjelaskan, kedua mucikari saat ini telah ditahan untuk dimintai keterangannya lebih lanjut. Sedangkan 8 wanita muda yang masuk dalam jaringan prostitusi online itu kini telah dipulangkan.

“Mereka yang menjadi korban prostitusi online itu telah dipulangkan, sedangkan dua muncikari langsung ditahan,” ujarnya.

Terkait kasus itu, kedua mucikari tersebut terancam dijerat dengan Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

“Kedua tersangka dijerat oleh penyidik dengan pasal 81 dan 88 Undang-undang Perlindungan Anak karena mereka memaksa anak-anak untuk melayani kaum pria dan keduanya juga mengeksploitasi anak,”paparnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak belasan pasangan muda-mudi digerebek di dua kamar di sebuah penginapan melati di Kota Ambon pada Selasa (19/2/2019).

Setelah digerebek, para pasangan muda-mudi ini langsung dibawa ke Kantor Polres Pulau Ambon untuk diperiksa.

Kasus ini sendiri terungkap setelah seorang ibu melaporkan anaknya yang hilang ke kantor polisi karena tidak kembali ke rumah selama sepekan.

Setelah ditelusuri, ternyata anak yang dilaporkan hilang itu sedang berada di penginapan yang digerebek polisi.

Adapun para mucikari yang telah ditahan dalam kasus tersebut ikut mendapat keuntungan mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu dari setiap pelanggan yang memesan anak-anak di bawah umur tersebut.

Menggunakan Aplikasi WeChat

Delapan wanita muda yang ditangkap polisi di sebuah penginapan melati di Kota Ambon saat sedang bersama sejumlah pria diketahui masuk dalam jaringan prostitusi online di Kota Ambon.

“Mereka ini merupakan kelompok yang disiapkan untuk bisnis prostitusi dan untuk melayani pria hidung belang,” kata Ipda Julkisno Kaisupy.

Dia mengaku para wanita muda ini kerap menggunakan aplikasi WeChat untuk menjalankan aksinya. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, para wanita mudah tersebut mematok harga dari pelanggannya mulai dari Rp 400 ribu hingga Rp 1 juta.

“Harga yang mereka patok itu mulai dari Rp 400 ribu sampai dengan Rp 1 juta,” katanya.

Julkisno menambahkan para wanita muda tersebut juga dikendalikan oleh sejumlah mucikari, dimana dari setiap kali kencan, sang mucikari akan mendapatkan bagian dari para setiap pelanggan yang memesan para wanita tersebut.

“Mereka ini dikendalikan oleh mucikari, dan mucikari ini mendapatkan keuntungan dari setiap pelanggan pria,” katanya.

Mereka yang ditangkap polisi itu berjumlah 18 orang, yakni 10 orang pria dan 8 orang wanita. Saat ditangkap, pasangan muda-mudi yang masih di bawah umur ini sedang berada di dua kamar berbeda di penginapan tersebut.

Belasan muda-mudi tersebut kemudian menjalani pemeriksaan di unit PPA Satreskrim Pulau Ambon, sebelum dipulangkan karena berstatus sebagai korban.

Sumber: Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here