Kesaksian Komisioner KPAI Beratkan Terdakwa Kasus Kekerasan Anak

0
224
Putu Elvina, Komisioner KPAI

MAKASSAR, LINDUNGIANAK.COM – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina menjadi saksi ahli dalam kasus dugaan kekerasan pada tiga anak yang melibatkan Meilania Ritali Dasilva alias Memey sebagai terdakwa.

Dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim yang dipimpin Rika Mona Pendegirot, Putu mengatakan berdasarkan bukti-bukti yang dilihatnya, Memey terindikasi menelantarkan ketiga anak yang diasuhnya.

Ia mengatakan pelanggaran Memey diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Putu Elvina saat menjadi saksi ahli kasus kekerasan pada anak di persidangan

“Pada saat anak-anak kehilangan hak-haknya dalam berkembang baik itu psikis, mental, maupun fisik, satu hari pertama saja dia tidak mendapatkan haknya ketika itu sudah dinyatakan telantar,” kata Elvina, Rabu (20/2/2019).

Elvina mengatakan saat ketiga anak yang masih di bawah umur ditinggalkan di sebuah rumah, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi sekalipun persediaan makanan cukup.

BAJA JUGA :   Dua Bayi Tewas Dianiaya Orangtuanya

Risiko-risiko yang terjadi seperti timbulnya kebakaran akibat bermain api ataupun jadi sasaran penculikan. Apalagi, ketiga anak yang diasuh Memey ini ditinggalkan bersama beberapa anjing peliharaan yang juga jarang diberi makan.

“Jadi posisi seperti itu yang kuat untuk mengancam pidana terdakwa,” imbuhnya.

Selain penelantaran, Elvina juga mengatakan Memey juga menjadi pelaku kekerasan. Padahal, kata Elvina, jika Memey beralasan sibuk kerja dan tidak mempunyai keluarga untuk menitip tiga anak yang diasuhnya, dia bisa saja menitipkannya ke tetangga ataupun P2TP2A Dinas PPA Makassar.

Lebih lanjut Elvina mengatakan, ada banyak dampak yang bisa ditimbulkan bila anak tersebut selalu mengalami kekerasan. Salah satunya akan muncul trauma, terutama bagi AW dan F yang sudah berusia sepuluh dan tujuh tahun.

“Dalam waktu-waktu tertentu traumanya ada. Banyak yang dialami anak akan mengalami perubahan pelaku, seperti agresif, menutup diri, dendam,” pungkasnya.

BAJA JUGA :   KPPAD Kepri Surati Polda dan Kejaksaan Terkait Kasus Putra Reza

Pada sidang tersebut, Memey mengaku tidak menitip anak yang diasuhnya karena tidak memiliki keluarga di Makassar. Ia juga menyangkal telah melakukan penelantaran.

“Saya ini single parent. Hidup sebatang kara jadi tidak mungkin titip di keluarga,” ujarnya.

Bisa Dijerat Perkara Baru

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina mengatakan terdakwa kasus kekerasan anak, Meiliana Ritali Dasilva alias Memey bisa dijerat perkara baru.

Usai menjadi saksi ahli di sidang Memey, Putu mengatakan, seharusnya hak asuh kepada F (7) dan DV (3) yang dipersoalkan lebih dahulu. Pasalnya, asal usul pengangkatan anak itu diduga tidak resmi.

“Banyak pasal-pasal juga yang terlanggar terkait asal usul anak. Kalau asal usul anak tidak jelas, maka ini bisa jadi delik-deliknya juga bertambah,” kata Putu, Rabu (20/2/2019).

Mantan ketua KPAID Kepulauan Riau itu mengatakan, dalam mengangkat anak asuh, para orang tua harus melalui proses yang legal seperti yang tertera dalam undang-undang pengangkatan anak.

BAJA JUGA :   Kabur dari Rumah, Dua Gadis Remaja Jadi Korban Pencabulan 3 Orang Pria Baru Dikenal

“Ini sebenarnya sangat luas pasal-pasal terlanggarnya. Sebenarnya itu bisa diproses pengangkatan secara ilegal tapi harus dilaporkan oleh siapa, itu bicara tentang laporan baru dan sebagainya,” imbuhnya.

Kepala Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Makassar Andi Tenri Palallo mengungkapkan, sosok Memey memang terkesan tertutup perihal tiga anak yang diasuhnya.

Ia mengakui pihaknya sempat kewalahan saat menghadapi Memey. Namun setelah melakukan pengusutan lebih jauh, Dinas PPA mendapati hanya AW (10) yang merupakan anak kandung Memey.

“Kalau si bungsu sudah diambil orang tuanya di Takalar. Tinggal anak yang kedua hingga kini belum diketahui orang tuanya,” kata Tenri saat ditemui di Pengadilan Negeri Makassar.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here