Kabur 4 Bulan, Hilda Gadis Cantik yang Menolak Tradisi Kawin Gantung Ditemukan

0
263
Hilda Fauziah setelah ditemukan di Bandung dibawa ke Polres Tasikmalaya

TASIKMALAYA, LINDUNGIANAK.COM – Hilda Fauziah (18), remaja putri asal Kampung Cijambu, Desa Cikawung, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, yang meninggalkan rumah sejak 4 November 2018, telah ditemukan.

Hilda Fauziah meninggalkan rumah diduga karena menolak dijodohkan. Setelah melakukan pencarian, akhirnya keberadaan dara cantik tersebut menemui titik terang. Hilda dijemput keluarga didampingi petugas Polres Tasikmalaya dan KPAID di Kota Bandung.

Hilda tiba di Mapolres Tasikmalaya sekitar pukul 14.30, Kamis (28/2/2019). Gadis berkulit putih yang datang mengenakan baju cokelat, kerudung merah itu tampak malu saat tiba di Mapolres Tasikmalaya.

Kapolres TasikmalayaAKBP Dony Eka Putra, mengatakan, keberadaan Hilda diketahui setelah melakukan pelacakan terhadap nomor ponsel baru yang digunakan anak pertama dari pasangan Ailah (43) dan Sahik (45) tersebut.

“Setelah menerima informasi pada Rabu (27/2/2019) malam, pukul 23.00 WIB, kemudian kami hubungi keluarga,” kata AKBP Dony Eka Putra.

“Kami menemukan kontak baru dari Hilda, kami bujuk untuk bisa pulang, kemudian menyanggupi tapi syaratnya dijemput keluarga,” ujar AKBP Dony Eka Putra.

“Lalu pukul 04.00 WIB tadi dijemput keluarga bersama polisi dan KPAID,” ucap AKBP Dony Eka Putra.

Ia menambahkan, keluarga berjumpa dengan Hilda Fauziah pukul 10.00 WIB yang berada di Terusan Buah Batu, Kota Bandung.

Hilda Fauziah belum bisa dimintai informasi lebih lanjut karena yang bersangkutan belum siap memberi keterangan dan membutuhkan waktu beristirahat.

 Kronologis Hilangnya Hilda

Diberitakan sebelumnya, Hilda Fauziah (18), remaja putri asal Kampung Cijambu, Desa Cikawung, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, dilaporkan hilang semenjak November 2018. Ia hilang setelah tahu dijodohkan oleh orang tuanya.

Remaja cantik yang merupakan anak pasangan Sahik dan Ailah ini, diduga meninggalkan rumah karena menolak dinikahkan dengan pria pilihan orang tuanya. Hilda pergi tanpa pamit dua pekan sebelum hari pernikahannya digelar.

“Awalnya mau dinikahkan 4 November 2018, dua minggu lagi menuju hari H, pernikahan yang direncanakan tidak terlaksana,” kata ibunda Hilda, Ailah.

Ailah menduga, Hilda pergi tanpa pamit karena menolak dijodohkan, tapi tidak berbicara langsung kalau menolak dinikahkan.

Berdasarkan informasi yang didapat Kapolsek Pancatengah, AKP Jonnaedi, dari orang tua Hilda, perjodohan Hilda telah dilakukan sejak anak mereka masih kecil.

“Dari keterangan orang tuanya, memang perjodohannya dari kecil tapi Hildanya tidak tahu, pas mendekati waktu pernikahan dikasih tahu,” katanya, Jumat (22/2/2019) siang.

AKP Jonnaedi mengatakan, saat Hilda pergi, segala persiapan pernikahannya sudah dipersiapkan keluarganya. “Undangan sudah disebar, masyarakat juga sudah pada tahu, jadi positif mau nikah,” ujarnya.

Ailah mengatakan mencurigai anaknya pergi dengan seorang pria yang diduga pacarnya. Informasi yang diperoleh keluarga dari teman saat Hilda belajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Kecamatan Pancatengah, Hilda berpacaran dengaan seorang lelaki.

“Setahu saya waktu di pesantren, anak itu kenal dan ada yang pengen orang Bandung. Nah, kami curiga karena anak saya hilang, si lelaki itu juga tidak ada di pondok. Saya curiga tapi tidak ada bukti. Saya dapat informasi itu dari teman anak saya waktu di pondok,” kata Ailah, Kamis (21/2/2019).

Berdasarkan keterangan yang didapatkan dari Kapolsek Pancatengah, AKP Jonnaedi calon suami Hilda masih terikat keluarga.

“Calon suaminya itu masih kerabatnya, saudara jauh. Sedari kecil kata orang tuanya memang sudah dijodohkan, tapi Hilda tidak tahu, saat mendekati pernikahan diberi tahu, diduga menolak Hilda pun pergi,” kata AKP Jonnaedi.

Kawin Gantung Masih Jadi Tradisi di Tasikmalaya

Ketua KPAID Kabupaten TasikmalayaAto Rinanto, saat ditemui di Mapolres Tasikmalaya seusai mendampingi keluarga Hilda, Selasa (26/2/2019) mengakui masih ada di beberapa daerah khususnya di Kampung Cijambu menjodohkan anaknya sejak kecil yang dinamakan dengan kawin gantung

Dikatakannya, kasus ini memang tidak bisa dipisahkan tradisi yang melekat di sebagian masyarakat. Karena itu, pihaknya hanya mampu memberikan pengertian bahwa apapun itu yang perlu diperhatikan ialah pemenuhan dahulu atas hak-hak anak.

“Karena timbulnya ini karena ada adat di sana yang memang berlangsung turun- temurun, memang pernikahan dilangsungkan saat sudah dewasa tapi perjanjian komitmen dilakukan saat anak-anak. Tentunya kami hanya bisa menyoroti tanpa maksud mengubah atau mengganggu kearifan lokal dan tradisi, tetapi kami sebagai KPAID dalam hal ini memperhatikan hak-hak anak bisa terpenuhi,” tutur Ato.

Dia menyoroti dalam pola komunikasi seyogyanya anak seusia Hilda Fauziah memang belum siap secara psikologis untuk tahap pernikahan.

“Dalam kasus Hilda pola komunikasi antara anak dan orang tua memang ada, tetapi dalam pandangan kami anak seusia itu dikatakan belum layak dan siap untuk komunikasi terkait ini. Pola pikir dan psikologis nampaknya belum siap menghadapi komunikasi mengenai pernikahan maka timbulah persoalan seperti ini,” kata dia.

Untuk meminimalisasi kejadian serupa terulang, terutama dalam rangka mengurangi pernikahan diniKPAID akan berupaya melakukan sosialisasi pada masyarakat.

“Kami akan bekerja sama dengan stakeholder terkait untuk memberi pengertian kepada masyarakat dengan tidak mengurangi tradisi tetapi hak-hak anak harus terpenuhi, komunikasi diperlukan apalagi hal ini menyangkut masa depan anak,” kata Ato Rinanto.*

jabar.tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here