Tokoh Melayu Singapura yang Banyak Selamatkan Korban TPPO Asal Indonesia

0
195
Said bin Muhammad, WN Singapura yang banyak selamatkan korban trafiking asal Indonesia

BATAM, LINDUNGIANAKCOM.COM – Banyaknya perempuan asal Indonesia yang menjadi korban tindak pidana perdagangan orang dan eksploitasi seksual di Singapura bukanlah hal yang baru. Sudah berlangsung sejak lama dan masih berlangsung hingga saat ini.

Para perempuan korban  trafiking asal Indonesia ini  ada yang menjadi perhatian bagi warga Singapura, khususnya Said Bin Muhammad, 80 tahun. Tokoh Melayu  Singapura dan anak dari ulama terkemuka di negeri jiran tersebut sering menyelamatkan korban perdagangan orang asal Indonesia.

‘’Sejak tahun 1990-an hingga 2000-an, sudah puluhan perempuan  asal Indonesia yang jadi korban perdagangan orang yang kami selamatkan,’’ ujar Cik Said kepada Lindungianak.com ketika dijumpai di Kawasan Nagoya, Batam,  Selasa (26/2/2019).

Said lahir di Singapura dan sejak kecil tinggal di kawasan Geylang Singapura, sebuah kawasan yang ramai bisnis prostitusi. Selain menjadi guru bahasa dan agama di sekolah madrasah milik pemerintahan Singapura, Said juga mengelola Masjid H Sholeh yang berada di Lorong 11, Geylang. Masjid itu adalah milik keluarganya yang dikelola turun-temurun  hingga saat ini.

Ia dibantu 7 orang anggotanya untuk mengelola masjid, termasuk melaksanakan aktifitas sosial membantu masyarakat. Salah satu aktifitas sosial dan dakwah yang dilakukan Said dan anggotanya adalah membantu warga negara lain yang tertipu dan masuk perangkap jaringan prostitusi, terutama di kawasan Geylang.

Di kawasan Geylang ini memiliki banyak gang atau warga Singapura menyebutnya dengan Lorong.  Biasanya PSK menjajakan diri di Lorong 8, Lorong 10, Lorong 12, Lorong  14, Lorong 16, Lorong 18, Lorong 22 karena di sini banyak berdiri hotel dengan harga murah. Di masing-masing Lorong inilah, wanita yang ditipu dipaksa jaringannya untuk bekerja menjajakan diri.

Said menyebut jaringan prostitusi ini sebagai gengster.Banyak jaringan seperti ini beroperasi dengan korban perempuan berasal dari berbagai negara. Salah satunya asal Indonesia. Mereka mempunyai bisnis prostitusi di lantai dasar-lantai dasar rumah flat yang ada di kawasan Geylang. Sementara korban ditempatkan dan ada yang disekap di lantai atasnya  rumah flat tersebut.

‘’Diantara korban tersebut ada yang mencoba kabur karena tidak tahan dengan pekerjaan yang dijalaninya. Selain melayani tamu, korban juga hari-hari menghadapi perkosaan yang dilakukan oleh ketua gengster dan anggotanya,’’  kata Said dengan nada miris.

Menyelamatkan korban trafiking ini merupakan salah satu dakwah bagi Said. Ia kerap keliling lorong demi lorong di Geylang untuk melihat perempuan yang mencoba kabur dari gengster yang mempekerjakan mereka di bisnis prostitusi.  Hal tersebut dilakukan siang dan malam. Ada yang mencoba melemparkan pakaiannya dari rumah flat ke bawah, ada yang langsung datang ke masjid.

‘’Ada juga yang menghampiri saya saat berkeliling di Lorong ke Lorong. Setelah ketemu  kemudian disusun rencana kabur dari tempat ia disekap. Bahkan saya pernah sampai pura-pura memboking dengan membayar 70 dolar Singapura agar korban bisa keluar dan saya selamatkan,’’ ujar Said yang saat ini masih sering bolak-balik Batam- Malaysia urusan perniagaan.

Said tidak bisa menghitung lagi jumlah korban yang berhasil diselamatkan. Yang ia ingat ada korban yang berasal dari Surabaya, Bandung, Jogjakarta dan daerah lainnya. Korban yang berhasil diselamatkan kemudian ditampung di masjid yang dikelola keluarganya di kawasan Geylang, Singapura.

Selain itu ia juga meminta anggotanya yang bekerja di masjid untuk membantu perempuan yang kabur dengan ikut menyembunyikan dalam masjid, menghadapi anggota gengster datang mencari korban, memberikan kebutuhan makanan dan pakaian sampai para korban tersebut diantarkan ke Kedutaan Singapura.

‘’Waktu itu saya sering berkoordinasi dengan Kedutaan besar Indonesia di Singapura. Saat ini saya sudah tua dan sudah banyak tinggal di Malaysia. Tapi perhatian saya kepada masalah perempuan dan perlindungan anak masih kuat hingga sampai saat ini,’’ ujarnya.

Ia mengaku senang ketika sudah korban diselamatkan dan bisa kembali ke Indonesia. Bahkan bertambang senang ketika ia mendapatkan panggilan telephon dari korban yang sduah sampai dan   hidup bebas di kampung halamannya.

‘’Bahkan saat saya jalan-jalan di Batam ada korban yang menjumpai saya lagi untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan kami berikan,’’ terang Said.

Perhatian Said untuk menyelamatkan perempuan korban  perdagangan dan ekspolitasi seksual asal Indonesia tersebut didasari kecintaannya pada Indonesia. Ternyata buyut Said yaitu Abdul Khotib berasal dari Semarang dan menjadi ulama di Singapura dan terus diwarisi ke ayahnya.  Buyut dan ayahnya juga mengarang buku/kitab di  Singapura hingga punya bisnis percetakan buku.

Perjumpaan Said dengan Lindungianak.com disasari keinginannya untuk membantu anak-anak Indonesia khususnya yang ada di Batam dalam hal pendidikan bahasa Inggris, bahasa Arab dan agama secara gratis.(eri)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here