Kekerasan terhadap Anak di Rumah Tangga Meningkat

0
141
Ilustrasi kekerasan pada anak yang terjadi dalam rumah tangga

JAKARTA, LINDUNGIANAK.COM – Children Crisist Center (CCC) sebagai salah satu lembaga yang concern terhadap isu anak di bidang kekerasan, yang berdiri sejak tahun 2007, menemukan bahwa tren tindak kekerasan terhadap anak di lingkungan rumah tangga meningkat dari tahun ke tahun.

‘’Peningkatan baik dari segi jumlah maupun bentuk kekerasannya. Keadaan ini cukup gawat dan amat mengkhawatirkan, karena kekerasan terhadap anak tidak cukup sampai tindak pencabulan, bahkan hingga perdagangan manusia dan pembunuhan korban,’’ ujar Ketua Harian CCC, Syarifudin, Jumat (1/3) menanggapi kasus kekerasan terhadap anak belakangan ini.

Menurutnya, anak menjadi objek tindak kejahatan karena dari segi fisik tidak cukup kuat untuk melawan, kondisi psikis yang belum matang juga membuatnya mudah dipengaruhi hingga diiming-imingi, dan ia juga tidak berdaya akan suatu acaman.

Tindak kejahatan, khususnya kekerasan terhadap anak, bisa terjadi di mana saja dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Orang tua, wali, guru, keluarga yang idealnya menjadi pelindung dan pengayom justru acap kali menjadi predatornya.

Menjadi perkara yang sulit untuk menjamin tempat yang aman untuk anak saat ini. Sebab, fakta di lapangan menunjukkan lingkungan keluarga dan lembaga pendidikan, baik sekolah maupun tempat belajar agama, justru menjadi lokasi yang paling banyak menelan korban.

Ada persepsi di kalangan masyarakat sekarang yang perlu diubah, seperti perihal batasan mencampuri privasi orang lain. Terlebih, anggapan bahwa anak ini merupakan buah hatinya sendiri, sehingga apapun yang orang tua lakukan, termasuk tindak kekerasan, menjadi hak perseorangan.

Padahal, lanjut Syarifuddin, kontrol sesama masyarakat yang idealnya hidup berdampingan dan bertetangga di suatu lingkungan dapat menjadi upaya pencegahan yang paling efektif. Ini dapat dilakukan dengan menegur baik-baik tindakan keluarga anak yang mengarah kepada bentuk kekerasan atau turut melapor jika dinilai keadaan semakin mengkhawatirkan.

Sebab, upaya pencegahan bukan semata kewajiban pemerintah, tapi juga tanggung jawab masyarakat. Masing-masing individu semestinya turut berperan dalam memerhatikan kelangsungan hidup anak-anak di sekelilingnya.

 

Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati

Dalam penanganan kasus inses, pemerintah daerah setempat berupaya maksimal dalam melakukan perlindungan terhadap korban dan salah satu pelaku di bawah umur, dengan melakukan rehabilitasi medis dan pendampingan yang akan dilakukan sampai tuntas. Namun tetap saja, upaya pencegahan jauh di atas itu semua.

Melansir data yang dihimpun oleh Pusat Data dan Informasi Komnas Perlindungan Anak Indonesia, sepanjang Januari hingga Juni 2018, telah tercatat 965 kasus pengaduan pelanggaran hak anak. Dengan kasus terbanyak 52 persennya adalah kejahatan seksual. Dari segi tempat, 48 persen tindak kejahatan terjadi di lingkungan rumah.

Untuk 10 wilayah yang paling banyak terjadi penyebaran kasus kekerasan anak adalah Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusat Tenggara Timur, Jawa Tengah, Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan juga Lampung.

Novita Tresiana, Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Wanita dan Anak Universitas Lampung, mengatakan pencegahan primer melalui gerakan penanganan berbasis masyarakat menjadi solusi terbaik sebelum kasus mencuat ke permukaan.

“Karena sudah jelas mencegah lebih baik daripada mengobati. Tindakan pencegahan sejak dini dari segi anggaran, membutuhkan biaya yang lebih murah ketimbang harus mengobati sesuatu yang sudah terlanjut sakit dan berbuntut panjang,” ujarnya, saat ditemui reporter Lampung Geh di kantornya, Jumat (1/3).

Ia melanjutkan, jika ditarik benang merah, persoalan baik kekerasan terhadap anak maupun perempuan akan banyak mengerucut ke persoalan ekonomi. Ini sebagian dari akibat pendapatan rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan stres serta tekanan hidup yang kian tinggi.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan tindak kekerasan anak ini juga akan muncul pada kalangan atas dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang jauh lebih baik. *

kumparan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here