Sepasang Anak di Bawah Umur Dinikahkan Usai Kabur dari Rumah

0
162
Dua remaja yang menikah di usia dini di Parepare

PAREPARE, LINDUNGIANAK.COM –  Pernikahan anak di bawah umur kembali terjadi. Kali ini kota tempat kelahiran Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, menjadi lokasinya. Pernikahan dua remaja itu pun membuat heboh masyarakat setempat dan warganet.

Sepasang remaja itu adalah MAA (16) dan DAM (14). Keduanya melangsungkan pernikahan pada Minggu, 3 Maret 2019 kemarin di Kecamatan Soreang, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Nurdiana, ibunda dari mempelai pria, MAA (16), mengaku jika keluarganya dan keluarga mempelai wanita, DAM (14), masih memiliki hubungan kekerabatan.

“Kami masih ada hubungan keluarga, tapi keluarga jauh,” kata Nurdiana.

MAA (16) dan DAM (14) pun ternyata telah saling kenal sejak keduanya masih kecil. Ketika beranjak remaja keduanya pun ternyata saling cinta dan menjalin hubungan asmara.

“Tapi kita sempat larang mereka untuk pacaran. Tapi semakin kita larang mereka justru malah bertemu diam-diam,” jelas Nurdiana.

Karena tak mendapat restu dari orangtuanya masing-masing, sepasang remaja itu pun memutuskan untuk lari dari rumah. Aksi lari dari rumah ini dalam adat suku Bugis disebut Silariang.

“Sempat Silariang, setelah dicari terbatas mereka ngekos di belakang Polsek Soreang. Kami pun membujuk mereka untuk pulang ke rumah,” ucap Nurdiana.

Atas pertimbangan itulah, kata Nurdiana, pihak keluarga masing-masing mempelai ikhlas menikahkan anak mereka. Pihak keluarga pun mengajukan dispensasi kepada pengadilan agama setempat agar pernikahan mereka diakui negara.

“Kita ajukan dispensasi ke Pengadilan Agama dan diizinkan menikah,” kata dia.

Viral, Pernikahan AA dan DA Menjadi Perdebatan

Mengetahui ada warganya yang menikah di bawah umur, Pemerintah Kecamatan Bacukiki dan ketua KUA Kecamatan Bacukiki Kota Parepare mendatangi rumah N sehari setelah penikahan AA dan DA.

“Bersama aparat terkait dan Ketua KUA Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, kami mendatangi pihak keluarga. Kebetulan kedua mempelai ada di rumah orangtuanya.

Kami kaget juga melihat ada warga kami yang menikah di bawah umur. Ternyata acara pernikahan berlangsung di kabupaten lain,” ujar Iskanda Nusu, Camat Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Lebih lanjut, Amir Said Ketua KUA Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, mengatakan bahwa pihaknya tidak menyetujui pernikahan itu terjadi. Namun karena pernikahan itu dilakukan di luar Kota Parepare jadi ia tidak bisa berbuat banyak.

“Pada dasarnya kami dari KUA tidak menyetujui adanya pernikahan di bawah umur karena melanggar peraturan. Namun, pihak orangtua mengaku ada hal yang harus membuat ia menikahkan anaknya,” tegas Amir Said.

Di sisi lain, N mengatakan bahwa pihak keluarga telah mengajukan dispensasi kepada pengadilan agama setempat agar pernikahan mereka diakui negara.

“Kita ajukan dispensasi ke Pengadilan Agama dan diizinkan menikah,” pungkasnya.

Resiko Menikah di Bawah Umur

Ketentuan batas usia menikah di Indonesia memang masih kerap menjadi perdebatan. Banyak orang yang mengkritisi batas minimal usia pernikahan yang diatur dalam Pasal 7 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.

Di mana dalam aturan tersebut dinyatakan bahwa batas minimal usia perkawinan perempuan 16 tahun dan laki-laki 19 tahun.

Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) melihat bahwa pernikahan di usia belia memiliki risiko besar meningkatkan angka putus sekolah dan kemiskinan. Hal ini sebabkan karena adanya perampasan hak anak untuk bertumbuh kembang, meraih pendidikan, dan bekerja.

Anak yang masih remaja juga pada umumnya belum memiliki keuangan yang stabil dan memikirkan karirnya di masa depan. Selain itu, pernikahan di bawah umur juga dapat menimbulkan masalah kesehatan reproduksi perempuan remaja.

Pernikahan usia muda diketahui meningkatkan risiko keguguran, kanker serviks, kematian bayi, penyakit kelamin, hingga gangguan mental karena adanya tekanan sosial yang membuat mereka harus memiliki tanggung jawab orang dewasa di usia yang masih belia.

Melihat kenyataan itu, YKP dan Yayasan Pemantauan Hak Anak (YPHA) meminta Mahkamah Konstitusi untuk menaikkan batas minimal usia menikah bagi perempuan menjadi 18 tahun.

Sayangnya, hingga saat ini, masih saja ada banyak anak-anak remaja yang menikah, bahkan di bawah usia yang ditentukan oleh undang-undang. Ini adalah PR kita bersama untuk mencegahnya. *

today.line.me

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here