Januari – Maret, Kekerasan Seksual di Kalbar Sudah Capai 66 Kasus

0
185
Komisioner KPPAD Provinsi Kalimantan Barat

PONTIANAK, LINDUNGIANAK.COM – Ketua Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, Eka Nurhayati Ishak menyebutkan, berdasarkan data KPPAD Kalimantan Barat, dalam kurun waktu dari Januari sampai dengan Maret 2019 terdapat 66 Kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur di Kalimantan barat.

Dimana 23 kasus dari total 66 kasus di Kalimantan Barat adalah yang terjadi di Kabupaten Sambas.

“Total Kasus kekerasan fisik, fsikis dan seksual 66 kasus. Dari Periode 1 Januari sampai dengan 21 Maret 2019,” ungkapnya, Jum’at (22/3/2019).

“23 kasus diantaranya terjadi di kabupaten Sambas dan menjadi kabupaten/kota tertinggi terjadi kasus kekerasan seksual anak dibawah umur,” ujarnya, saat di hubungi Tribun.

BAJA JUGA :   Berpacu Melawan Kejahatan Seksual Anak

Ia menjelaskan, data itu diperoleh dari laporan yang masuk ke KPPAD Kalbar.

“Di Kami, laporan masuk itu berdasarkan dari tiga hal. Pengaduan resmi, Pengaduan dari Medsos, Email, WA, FB dan IG. Serta temuan lansung di TKP berdasarkan informasi Masyarakat,” tuturnya.

Eka mengungkapkan, selama ini KPPAD juga kerap kali turun lansung kelapangan untuk memperhatikan langsung setiap Laporan yang masuk kepada pihaknya.

 Tertinggi di Daerahnya, Ini Tanggapan Ketua DPRD Sambas

Menanggapi hal itu, Ketua DPRD Kabupaten Sambas Ir H Arifidiar MH mengungkapkan, diperlukan peranan dari keluarga untuk mencegah maraknya kasus tersebut.

Ia mengungkapkan, keluarga adalah tonggak utama untuk mencegah dan menghindari kasus tersebut terjadi.

BAJA JUGA :   Ingin Jadi Model, Remaja Malah Disetubuhi dan Direkam Pakai HP

“Saya tetap konsisten dan tegas mengatakan bahwa ini adalah tanggung jawab kita bersama, termasuk di rumah tangga, itu peranan orang tua sangat penting,” ujarnya, Jum’at (22/3/2019).

“Sebab sebaik apapun pemerintah dalam membuat peraturan jika tidak dimulai dari keluarga maka tidak akan berhasil,” tuturnya.

Politikus Partai Golkar itu menjelaskan, peran orang tua dalam hal mengawasi gerak-gerik dan tingkah laku anak sangat penting.

Karena dengan demikian bisa menghindari anak dari hal-hal yang tidak di inginkan. Untuk itu ia mengajak orang tua agar berperan aktif dalam mengawasi anak-anaknya.

“Marilah orang tua agar kita betul-betul mengambil kepedulian terhadap anak-anak kita, terutama yang remaja. Anak remaja contoh jika belum pulang sampai jam 22.00 Malam wajib untuk dicari, jangan dibiarkan,” ungkapnya

BAJA JUGA :   5 Kasus Pencabulan, 4 Kasus Pelakunya Merupakan Kerabat Korban

Selain jam malam, pria yang kerap di sapa Haji Dede itu menuturkan pengawasan penggunaan teknologi seperti Handphone (HP) android juga harus diawasi oleh orang tua.

“Kita harus mengetahui penggunaan HP anak kita, terutama mengecek ape yang dibrowsingnya atau siapa-siap teman chattingya,” tegasnya.

“Pada intinya sekali lagi saya tegaskan persoalan ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah daerah, DPRD, masyarakat, pihak penegak hukum, pengiat sosial dan sebagainya namun tetap tegas saya mengatakan mulailah pencegahan di rumah tangga masing-masing,” tutupnya.*

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here