Jurnalis dan Media Diminta Ikut Lindungi Hak-hak Anak

0
131
Ketua KPAI Susanto

JAKARTA, LINDUNGIANAK.COM –  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta jurnalis dan media massa untuk ikut berpartisipasi dalam upaya perlindungan anak.

Hal tersebut disampaikan Ketua KPAI Susanto dalam bincang media yang diadakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Jakarta, Jumat (22/3/2019).

“Penting untuk menyiapkan kader-kader jurnalis yang memiliki perspektif perlindungan anak,” katanya.

Susanto mengatakan merupakan hal penting untuk melakukan upaya di hulu dengan menyiapkan calon-calon jurnalis yang ramah anak.

Karena itu, Susanto meminta kepada para pengajar jurnalistik untuk memasukkan muatan-muatan perlindungan anak ke dalam materi pengajarannya.

“Yang kedua, tidak kalah penting adalah perspektif perlindungan anak yang juga harus dipahami oleh perusahaan media,” tuturnya.

Menurut Susanto, penting bagi jurnalis memiliki perspektif perlindungan anak, tetapi juga bagaimana merangkai dan melaksanakan pemberitaan yang sesuai Kode Etik Jurnalistik serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS).

“KPAI banyak menerima pengaduan tentang muatan-muatan di media massa yang tidak ramah anak. Karena itu, KPAI juga menjalin kesepahaman dengan Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia,” katanya.

Susanto menyebut, media informasi lebih banyak memberitakan kasus kekerasan di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), ketimbang berita PAUD yang ramah anak.

Menurutnya, media penyedia informasi cukup intensif memberitakan kasus kekerasan terhadap anak.

“Kalau kami melihat pemberitaan yang cukup intensif dilakukan oleh teman-teman media, memang fokus lebih banyak pada case itu jauh lebih tinggi,” kata Susanto.

Susanto menambahkan, KPAI sudah melakukan penelitian terkait hal tersebut. KPAI mendapat data tentang perbandingan media informasi yang memberitakan kekerasan pada anak dengan pemberitaan ramah anak.

“Contoh tahun 2018 saja ada 470 ribu berita terkait dengan kekerasan di PAUD, tahun 2017 363 ribu, kemudian tahun 2016, 335 ribu,” jelas Susanto.

Namun, dia melanjutkan, kalau pemberitaan menyoal PAUD ramah anak, tidak sebanyak berita kekerasan pada anak.

“Tahun 2018 itu diberitakan, 264 ribu, 2017 turun menjadi 207 ribu,” ucap Susanto sambil membaca layar laptopnya.

Artinya, kata Susanto, pemberitaan kasus-kasus kekerasan ini jauh lebih menarik bagi media penyedia informasi.

Dia berharap, untuk ke depannya, media penyedia informasi dapat melakukan praktik jurnalisme yang ramah terhadap anak.

“Agar ini bisa memberi inspirasi kepada orang tua, guru di sekolah, pesantren bahkan layanan lain agar terinspirasi untuk melakukan hal baik, seperti itu,” pungkas Susanto.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengadakan bincang media bertema “Isu Anak dalam Pemberitaan Media”.

Selain Susanto, pembicara dalam bincang media itu adalah Deputi Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indra Gunawan dan Ketua Komisi Kompetensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Kamsul Hasan.*

Sumber: jakarta.tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here