KPAI Turun ke Sekolah, Temukan Sejumlah Fakta Soal Siswa Bully Gurunya

0
263
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Lisyarti saat turun menangani kasus siswa bully guru tersebut.

JAKARTA, LINDUNGIANAK.COM Video sekumpulan siswa SMP yang mem-bully gurunya di ruang kelas di sebuah sekolah wilayah Jakarta Utara viral sejak Jumat 22 Maret 2019 mendapat perhatian dan pengawasan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Komisioner  KPAI Bidang Pendidikan Retno Lisyarti turun ke sekolah tersebut, Rabu (27/3/ 2019),  setelah  menerima pengaduan masyarakat melalui aplikasi media social berupa video yang sumbernya dari unggahan akun Instagram @lambe_turah.

‘’Dalam video tersebut ,  tampak siswa menyanyikan lagu “Jangan Menangis” milik Luvia. Mereka bernyanyi dan berjoget sambil mengelilingi guru tersebut,’’ ujar  Retno dalam pers rilis yang diterima Lindungianak.com, Rabu  (27/3/ 2019).

Setelah ditelusuri, murid-murid itu bersekolah di salah satu SMP swasta di wilayah Cilincing, Jakarta Utara.Dalam aksinya, ada beberapa siswa yang tidak mengenakan seragam sebagaimana mestinya. Ada pula siswa yang bertelanjangan dada sambil berjoget dan bernyanyi.

Tampak ada juga siswa yang memegang lembaran uang kertas, seperti sedang menyawer. Sementara siswa lainnya di kelas tampak memukul-mukul meja seperti memainkan alat musik. Aksi ini mengundang tawa dari siswa di kelas.

Menilai aksi siswa tersebut, Retno menilai perilaku anak-anak dalam video tersebut sangat tidak patut, apalagi dilakukan terhadap seorang pendidik. Meskipun bersalah dan akan diberikan sanksi, KPAI ingin memastikan bahwa sanksi tersebut merupakan displin positif dan bersifat mendidik.

BAJA JUGA :   Mucikari Berusia Remaja Jajakan 3 Teman Sebayanya

‘’KPAI juga ingin memastikan bahwa anak-anak pelaku tetap dipenuhi hak atas pendidikannya, mengingat anak-anak tersebut sudah kelas IX, sebentar lagi akan mengikuti ujian sekolah dan ujian nasional (UNBK),’’ ujarnya.

KPAI saat turun ke sekolah

Temukan Sejumlah Fakta

Dipaparkan Retno, hasil pengawasan langsung KPAI ke sekolah tersebut dan juga ke Kantor Suku Dinas Jakarta Utara wilayah 2  menemukan sejumlah fakta.

Pertama, peristiwa dalam video tersebut terjadi pada Jumat,  22 Maret 2019 sekitar pukul 09.30 wib,  persis pergantian jam pelajaran di sekolah tersebut setelah jeda istirahat.  Para siswa kelas IX selesai mengikuti jam pelajaran olahraga dan akan memulai jam pelajaran PLKJ (Pendidikan Lingkungan dan Kebudayaan Jakarta).

Kedua, para siswa yang bertelanjang dada pada video tersebut memang berencana mengganti baju,  dari kaos olahraga yang sudah basah oleh keringat,  diganti dengan seragam sekolah di hari jumat.  Kebetulan,  belum sempat ganti,  tapi ternyata guru jam berikunya sudah masuk ke kelas.

Saat itu situasi tidak kondusif, dan si guru sudah berusaha menenangkan kelas,  namun gagal.  Sejumlah siswa justru bergabung berjoget sambil mengelilingi sang guru. Akan tetapi, tidak ada penganiayaan terhadap guru tersebut. Anak-anak hanya berjoget, bernyanyi dan bercanda sambil mengelilingi gurunya.

BAJA JUGA :   Siap-siap, 5 Film Animasi Terbaik Ini Wajib Ditonton Tahun 2019

Ketiga, guru berusaha menghentikan aktivitas siswa, tetapi tidak segera berhasil. Dalam kondisi tersebut, ada salah seorang siswi yang sedang duduk dan siap menerima pelajaran, kemudian merekam kejadian tersebut  dengan smartphonenya tanpa diketahui oleh teman-temannya. Selanjurnya video tersebut di upload ke aplikasi WhatsApp group sekadar untuk lucu-lucuan. Namun, dari WA grup tersebut anggotanya ada yang men-share keluar grup dan dalam waktu singkat langsung viral, sampai kemudian diketahui pihak sekolah.

Keempat, pihak sekolah kemudian melakukan penelusuran dan pada Senin, 25 Maret 2019 menggelar rapat kasus dengan menghadirkan para siswa dan orangtuanya, para guru pengurus yayasan dan kepala sekolah. Pertemuan juga dihadiri oleh Pengawas Sekolah dan Kasatlak Pendidikan Kecamatan Cilincing.

Pada pertemuan tersebut, para siswa menyesali perbuatannya, menangis dan meminta maaf. Anak-anak tersebut tertekan dan merasa malu serta khawatir ada stigma negatif terhadap mereka. Sekolah tidak memberikan sanksi karena anak-anak sudah menyesali dan berjanji tidak mengulangi, apalagi mereka siswa kelas IX SMP yang sebentar lagi akan mengikuti ujian kelulusan dan juga Ujian Nasional.

Kelima, Rabu, 27 Maret 2019, pihak sekolah  (guru, kepala sekolah dan ketua  yayasan) beserta anak pelaku dan orangtuanya diundang pertemuan dengan Kepala Suku Dinas Pendidikan Jakarta Utara wilayah 2 di kantor Walikota Jakarta Utara untuk  pembinaan sekaligus klarifikasi video yang viral tersebut.

BAJA JUGA :   Ini Pasal-pasal yang Diuji KPAI dan KPAD dalam Judicial Review di MK

Dari pertemuan tersebut juga terungkap bahwa sang guru baru mengajar sekitar 7 bulan di sekolah tersebut sebagai guru honorer dengan gaji sekitar Rp 600 ribu per bulan.  Yayasan memang memiliki keterbatasan dana dalam mengaji para gurunya karena jumlah siswanya di bawah 100 orang, meskipun ada dukungan dana BOS dari APBN dan dana hibah dari APBD DKI Jakarta.

Keenam, KPAI mengapresiasi Sudin Pendidikan Jakarta Utara wilayah 2 yang mendukung sekolah untuk tetap memenuhi hak atas pendidikan anak-anak pelaku dan  tidak memberikan sanksi fisik, sanksi skorsing maupun mencabut KJP, mengingat anak-anak pelaku sudah kelas IX, tinggal beberapa waktu lagi menyelesaikan pendidikan di jenjang SMP.

‘’Sebagai bentuk pembinaan terhadap anak-anak maka sekolah bekerjasama dengan orangtua untuk memberikan pengasuhan positif terhadap anak-anaknya dan terus memberikan semangat anak-anak tersebut untuk  kesuksesan ujiannya,’’ kata Retno.

Adapun pihak sekolah mendapatkan sanksi teguran dari pihak Sudin Pendidikan Jakarta Utara wilayah 2 dan dituntut untuk melakukan tata kelola sekolah lebih baik dan profesional. ‘’Pihak sekolah cukup kooperatif,’’ pungkasnya.* (redaksi01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here