”Mahluk” Mencemaskan itu Bernama UN

0
232
Mahmud Syaltut Usfa

Mahmud Syaltut Usfa, Komisioner KPPAD Provinsi Kepri

UJIAN Nasional (UN)  masih menjadi perbincangan yang hangat. Bahkan UN yang kadung memiliki imej sakral malah ada wacana dihapus.      .

Kita bisa memahami jika sikap emosional seperti itu muncul. Sebab, UN selalu dipandang sebagai tolok ukur keberhasilan sekolah dalam mendidik siswa-siswinya. Bisa masuk 10 besar nilai tertinggi di tingkat kota misalnya, sudah mengangkat prestasi sekolah tersebut. Hasil UN menjadi barometer bergengsi di dunia pendidikan.

Setelah UN pada tingkat SLTA, SLTP, selanjutnya paling akhir untuk tingkat SD. Semoga berjalan lancar, tidak terjadi karut-marut distribusi soal. Selain itu, tidak sampai membuat mental anak-anak SD terpuruk akibat mengalami kecemasan.

Karena harus disadari, bahwa dampak psikologis sangat besar kepada anak didik menjelang UN. Kekhawatiran tidak lulus sangat menakutkan.

Ada kecemasan yang tinggi sehingga bisa mengikis rasa percaya diri. Terlebih jika sekolah menerapkan sterilisasi berlebihan. Anak-anak banyak dibatasi aktivitasnya. Begitu juga orang tua, menerapkan pola belajar berlebihan kepada anak, sehingga mengakibatkan jenuh, stres.

Tidak cukup di situ, pemberitaan di media terkadang lebih banyak ‘menakut-nakuti’ daripada memotivasi. Padahal banyak sekolah yang mempersiapkan UN dengan kegiatan-kegiatan positif, rileks yang menarik bagi anak.

Bahkan, banyak sekolah yang menerapkan pengamanan berlapis saat pelaksanaan UN. Sungguh kondisi tersebut tidak membuat anak merasa nyaman. Apakah pihak sekolah tidak percaya terhadap potensi anak didiknya?

Bisa dibayangkan, sudah sekian tahun bersekolah, berinteraksi, berkreativitas, bereskspresi, membangun potensinya, malah harus runtuh gara-gara untuk UN yang hanya dua jam per-mata pelajaran.

BAJA JUGA :   Kaki Pelajar SD di Bintan Putus usai Motor Hantam Bus Pariwisata

Padahal harus disadari, bahwa hasil UN tidaklah cukup untuk merepresentasikan kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotorik siswa secara objektif. Apakah anak yang tidak mencapai SKL (Standar Kompetensi Lulusan) UN adalah anak bodoh? Masa depannya akan suram? Justru UN bisa mengkerdilkan potensi anak yang tidak memenuhi standar nilai mata pelajaran UN. Padahal setiap anak memiliki potensi berbeda.

Mata pelajaran UN bukan tolak ukur mutlak terhadap potensi anak. Mari kita lihat landasan filosofis dalam pembelajaran, yang sekarang menjadi landasan model pembelajaran tematik. Yaitu, tiga aliran filsafat: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3) humanisme.

Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.

Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya.

Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/ kekhasannya, potensinya, dan motivasi yang dimilikinya. Jadi, sangat naïf jika hasil UN dipandang sebagai barometer utama.

Jika UN terus dilaksanakan tanpa evaluasi serius, tidak mustahil lama-lama secara tidak langsung, sistem UN akan lebih condong untuk menghargai pelajar yang mempunyai intelektualitas tinggi daripada anak-anak dengan tingkat intelektualitas sedang dan rendah. Sungguh kondisi memprihatinkan !!

Akibatnya, siswa yang mempunyai tingkat intelektualitas pas-pasan akan mengalami kondisi perang batin, apakah dirinya cukup kompeten atau tidak. Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak dapat dipungkiri akan banyak pelajar Indonesia akan mengalami penurunan mental.

BAJA JUGA :   PROFIL KELEMBAGAAN KPPAD LINGGA

Tidak mustahil selanjutnya akan menjadi salah satu penghambat perkembangan pendidikan. Tentu saja ini bisa digolongkan pada diskriminasi dalam dunia pendidikan formal.

Apalagi di daerah terpencil atau masyarakat pulau (hinterland) yang minim sarana pendidikan, tidak bisa disamakan dengan pendidikan di kota (mindland) yang jauh lebih baik mutunya. Tidak heran jika akhirnya, banyak sekolah yang takut menentukan SKL karena khawatir siswanya tidak mencapainya.

Nilai UN yang ‘dipaksa’ menjadi salah satu syarat kelulusan dangan standar angka tertentu bisa menyebabkan dampak sistemik secara luas. Mulai dari prilaku pendidik sampai kepada para orang tua peserta didik. Mereka dirundung kecemasan. Seolah masa belajar bertahun-tahun menjadi diburamkan oleh dahsyatnya UN.

Ujung-ujungnya, UN menjadi semakin parah ketika, penghargaan terhadap kualitas anak lebih cendrung dilihat dari besarnya angka dari nilai ijazah dan sertifikat. bukan dari kemampuan implementasi di lapangan dalam menghadapi problematik kehidupan. Bertolak dari kondisi tersebut, justru guru di sekolah yang lebih objektif mengukur potensi anak.

Akan lebih bijak jika kedua komponen angka dan kemampuan lapangan (potensi) tersebut harus berimbang untuk mengukur kualitas anak didik. Ingat, potensi anak tidak bisa hanya diukur dengan angka-angka. Bukankah angka bisa dimanipulasi dengan hanya menggoreskan di atas kertas? Apakah kemampuan dalam mengimplementasikan ilmu di lapangan bisa dibohongi?

BAJA JUGA :   Begini Cara DP3A Tanjungpinang Lindungi Anak dari Kecanduan Gadget

Prosentasi kelulusan berdasar dari 60 persen nilai dari UN dan 40 persen nilai dari ujian sekolah masih sangat disanksikan. Karena sangat bisa dimanipulasi hanya demi mengejar target lulus berdasar target SKL sekolah.

Tak pelak, kondisi ini menjadi masalah besar, seolah UN menjadi ‘mahluk’ yang menakutkan bagi siswa. Terbukti sebelum UN mereka sudah mengalami stres berat, dalam benaknya sudah dihantui dengan standar kelulusan tertentu. Akhirnya, jangan heran jika rasa ketakutan berlebihan yang timbul dari beberapa kasus bisa kita maklumi.

Tentunya sebagai orang tua, dan guru yang berada di ujung tombak keberhasilan anak, sangat dipahami jika mencul kecemasan-kecemasan. Apalagi mereka bersentuhan langsung dengan emosi anak, pasti akan merasakan langsung dampak psikologis anak-anaknya menjelang UN.

Kita berharap agar anak-anak meraih kesuksesan atas kerja kerasnya. Mereka telah belajar serius, bukan sekadar mempersiapkan untuk UN, tapi demi masa depannya. Bagi anak-anak SD yang paling terakhir melaksanakan UN semoga tidak terpengaruh dengan karut marutnya UN sebelumnya.

Jadikan hal tersebut bukan menjadi momok yang sangat menakutkan, namun sebagai evaluatif ke depan. Sangat riskan jika kita ada pada posisi sebagai guru dan orang tua, jika di depan anak-anak menujukkan rasa cemas secara berlebihan,

Marilah kita menunjukkan rasa optimis yang kuat bersama-sama anak-anak. Kita beri motivasi serta pembelajaran berpikir optimis. Dampingi anak-anak kita supaya merasa nyaman, terayomi menghadapi ‘sesosok mahluk’ bernama UN. Semangat! *

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here