Laporan Studi Kasus Anak Tersandung Kasus Berujung Dikeluarkannya Anak Tersebut dari Sekolah

0
419
Komisioner KPPAD Provinsi Kepri

Kata Pengantar

Bismillah, dengan menyebut nama Allah  SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, pemilik maha atas segala maha keagungan, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, sehingga laporan studi kasus yang menjadi salah satu tupoksi KPPAD Provinsi Kepri bisa selesai. Salawat serta salam kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan pengikutnya yang selalu istiqomah di jalannya.

Laporan ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, khususnya rekan-rekan komisiner KPPAD Kepri sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan laporan ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki laporan ini. Akhir kata, kami berharap semoga laporan ini akan bermanfaat untuk pengetahuan serta bahan referensi sehingga dapat memberikan inspirasi bagi pembaca.

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Arah pendidikan adalah menuju perubahan. Pendidikan formal seperti SD, SMP, SMA, SMK tentu mengacu pada adanya tujuan dari pendidikan nasional yaitu untuk mengembangkan peserta didiknya secara optimal dan mengubah perilaku peserta didik dari hal-hal yang tidak baik menjadi baik.

Setiap pihak di sebuah sekolah hampir semuanya mengharapkan para peserta didiknya mampu belajar dengan baik dan hasil belajar itulah yang mampu mengubah tingkah laku siswa.

Permasalahan pada lingkup sekolah dasar merupakan hal yang sangat wajar terjadi, dikarenakan psikologi anak-anak berbeda-beda mereka mempunyai sifat dan karakter yang berbeda, sekalipun sianak kembar namun, psikologi mereka tetap berbeda. Terlebih anak-anak yang memiliki latar belakang keluarga bermasalah, ataupun lingkungan pergaulan yang buruk. Membuat perilaku anak berdampak pada perilaku di sekolahnya.

Seiring perkembangan zaman pola tingkah laku anak yang sering kita lihat pada media massa maupun media elektronik sering menggambarkan kemirisan tentang bermacam-macamnya tingkah laku anak yang tidak sewajarnya dilakukan.

Penggunaan media elektronik misalnya gadget dan televisi, menjadi salah satu penyebab perubahan tingkah laku positif ke arah negatif, karena biasanya media elektronik tidak menayangkan nilai-nilai edukasi didalamnya. Sedangkan berjuta pasang mata anak-anak melihat itu dan menyaringnya di dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sungguh sangat memperihatinkan karena bangsa yang seharusnya membangun generasi penerus menjadi bersih dan berakhlak mulia namun pengimplementasiannya tidak sesuai dengan apa yang sudah dicita-citakan sejak dulu.

Selain itu, banyak ditemukan peserta didik yang perlu dibantu psikologinya mulai dari siswa yang pendiam dikelas, sering bolos, kecanduan warnet, melawan guru, melakukan tindakan kriminal dan asusila, mempunyai gangguan mental serta hyperaktif.

Oleh karena itu sekolah agar dapat mengatasi atau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi yang terjadi dengan bijak. Dengan harapan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik dan terbentuk kepribadiannya yang baik juga. Bukan mengeluarkan dari sekolah karena dipandang persoalan selesai, dan sekolah terbebas dari anak-anak bermasalah.

Bagi kami anak adalah aset masa depan bangsa, perjalanan mereka masih panjang, dirinya masih sangat bisa melakukan perubahan. Bimbingan, sentuhan emosi, motivasi, perhatian, kasih sayang, diberi kepercayaan, merupakan cara bijak dalam mengangkat eksistensinya sebagai pelajar. Bukan harus diambil jalan pintas dengan cara dikeluarkan dari sekolah tanpa kompromi.

Kami melaksanakan studi kasus ini dengan maksud mengetahui psikologi peserta didik seperti apa kondisi di sekolah, di rumah, serta lingkungan pergaulannya dan bagaimana pemecahannya masalah yang akan ditemukan jika psikologi anak tersebut bermasalah. Hal ini pun sebagai salah satu rujukan agar ada formulasi terbaik dalam menyelesaikan kasus-kasus anak di sekolah tanpa mengabaikan hak pendidikan mereka.

Konfidensial

Menangani kasus anak tentunya sangat berbeda dengan orang dewasa. Apapun kasusnya tidak boleh disebarluaskan secara terbuka. Hal ini agar psikologis anak tidak terganggu, karena sangat rentan mendapat stigma negatif.

Oleh sebab itu hasil dari laporan studi kasus ini yang mengenai semua data-data tentang siswa yang bermasalah memang secara sengaja tidak dicantumkan dengan jelas. Hal ini bermaksud menjamin kerahasiaan masalah yang dialami oleh siswa yang bersangkutan.

Informasi dan data-data dalam proses pemberian bantuan juga dirahasiakan dan hanya untuk kalangan sendiri saja.

BAJA JUGA :   KPAI: Pelaku Incest di Lampung Bejat, Harus Dituntut 15 Tahun Penjara

Identifikasi Pelaku

Nama                                              : MNA

Tempat/Tgl.Lahir                            : Tj.Pinang / XXX

Usia                                                 : 15 tahun

Sekolah                                           : Kelas II MAN

Kasus                                              : Curas (Pencurian HP dengan kekerasan)

Pendekatan                                     : Observasi, Bertanya dan Psikotes

          

Nama                                            : P

Tempat/Tgl.Lahir                         : Tanjungpinang / XXX

Usia                                              : 14 Tahun

Sekolah                                        : SMPN

Kasus                                           : Kenakalan di sekolah

Pendekatan                                  : Observasi, Bertanya dan Tes Gambar

 

Nama                                            : BRS

Usia                                              : 12 tahun

Sekolah                                        : SD swasta di Batam

Kasus                                           : Pencabulan

Pendekatan                                  : Observasi, Bertanya dan Tes Gambar

Dalam laporan studi kasus ini, kami melampirkan beberapa kasus anak yang bermasalah sehingga sekolah menindak akan dikeluarkan. Menurut penuturan kepala sekolah serta beberapa guru sekolah tersebut bahwa anak-anak yang tercantum identitasnya di atas ialah anak-anak yang memang sulit untuk diatur, nakal, bahkan amoral. Sehingga dikhawatirkan menjadi virus bagi teman-temannya.

Gambaran tentang Penanganan

Physical apperence (penampilan fisik) dan personal apperence (penampilan pribadinya) sesuai dengan hasil pengamatan terhadap siswa bersangkutan. Selanjutnya meminta keterangan kepada kepalas sekolah, guru terkait, teman-teman sekiolahnya, serta keluarganya.

BAB II

GEJALA DAN ALASAN MEMILIH KASUS

Sesuai dengan hasil pengamatan serta data di KPPAD Provinsi Kepri, kasus anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah karena bermasalah sangat serius untuk dicari solusinya. Ada beberapa kasus menjadi permasalahnnya:

  1. Melakukan perbuatan cabul/mesum di sekolah dengan pacarnya

Khusus kasus yang menimpa anak-anak SMP dan SMA, mereka bermula dari hubungan pacaran. Kedekatan yang tidak terkontrol menjadikan mereka melakukan perbuatan terlarang. Sedang perbuatan yang dilakukan beragam, berciuman di lingkungan sekolah, serta ada yang sampai berhubungan badan hingga siwanita hamil.

Sedangkan pelaku yang menjadi subyek kami adalah pelaku kasus cabul yang dilakukan oleh siswa SD. Kasus ini bermula dari keusilan dengan memegang-megang badan teman perempuannya, selanjutya berani memegang kemaluannnya.

  1. Melanggar aturan sekolah
    Bentuk pelanggaran yang mereka lakukan sangat beragam. Mulai karena sering bolos tanpa ada informasi jelas. Sampai melawan guru dengan bahasa yang kasar. Ada juga beberapa kasus anak yang usil terhadap temannya, bahkan meminta uang dengan cara memaksa. Termasuk juga anak yang melakukan pencurian di sekolah maupun di luar sekolah.

Sampel subyek kami adalah siswa yang melakukan pencurian HP karena alasan terpkasa untuk membeli buku sekolah. Sedang subyek satunya karena melawan guru dan tidak disiplin, serta sering bolos.

Berdasarkan dari permasalahan di atas, maka kami merasa tertarik untuk mengobservasi lebih lanjut mengenai kasus tersebut. Dan kami juga merasa tertarik dalam menemukan kasus ini karena bagi kami anak memiliki hak untuk tetap melanjutkan pendidikannya. Kami sebagai komisioner KPPAD Kepri menggaris bawahi bahwa apa yang kami lakukan bukan serta merta membela anak-anak kenakalan serta kelalaiannya, melainkan mengadvokasi akan hak pendidikan mereka. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 9.

(1) Setiap Anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakat.

(1a) Setiap Anak berhak mendapatkan perlindungan di satuan pendidikan dari kejahatan seksual dan kekerasan yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik, dan/atau pihak lain.

(2) Selain mendapatkan Hak Anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (1a), Anak Penyandang Disabilitas berhak memperoleh pendidikan luar biasa dan Anak  yang memiliki keunggulan berhak mendapatkan pendidikan khusus.”

Sehingga masih bisa diupayakan mencari solusi antara lain :

  1. Bagi siswa yang bermasalah dapat memahami dirinya dan masalah yang dialaminya
  2. Pihak orangtua masih bisa bekerjasama dengan sekolah, begitu juga seblaiknya, sekolah masih memberi kesempatan melanjutkan sampai lulus.
  3. Jika, anak tersebutt erpaksa/harus dipindahkan ke sekolah lain, maka sekolah harus memberikan surat pindah sampai anak tersebut diterima di sekolah yang baru.
  4. Permasalahan yang dialami dapat terselesaikan dan dapat tersalurkan ke hal-hal yang positif
  5. Siswa yang bermasalah dapat bergaul dan disukai oleh teman-temannya.
  6. Dapat menyesuaikan dengan tata tertib yang berlaku di sekolah
  7. Dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

BAB III

PENGUMPULAN DAN PENYAJIAN DATA

Pengumpulan data

            Dalam rangka memberikan solusi pada siswa yang bermasalah maka diperlukan data yang relevan dan terjun langsung ke sekolah untuk analisis data ini, untuk itu kami mencoba menggunakan berbagai metode/ teknik agar dapat memperoleh gambaran yang lengkap dan menyeluruh mengenai tentang diri siswa melalui alat pengumpul data yaitu :

  1. Wawancara (interview) kepala sekolah, siswa dan wali kelas
  2. Observasi Tingkah Laku Siswa
  3. Penyajian Data
  • Wawancara (interview)
  1. Wawancara dengan kepala sekolah, wali kelas, guru terkait
BAJA JUGA :   Waspadai Munculnya Predator Saat Anak Bermain

Dari hasil wawancara dengan pihak sekolah anak-anak yang bermasalah tersebut memang perlu dibantu dalam proses belajarnya harus dirangkul dan tidak dibeda-bedakan akan hak pendidikannya.

  1. Wawancara dengan teman-teman sekelas mereka. Bagaimana ketiga anak tersebut di mata teman-temannya.
  2. Wawancara dengan anak yang bersangkutan

Ketiga anak ini memiliki perlakuan yang berbeda ketika diajak untuk diwawancarai  seperti halnya MNA ia anak yang pendiam dan ia mengaku takut dan malu untuk melakukan sesuatu. Dirinya melakukan pencurian HP karena terpaksa demi untuk membeli buku sekolah. Sedangkan P menurut penuturannya bahwa dia sering bolos, berkelahi, serta pernah mencuri HP gurunya karena iseng dan kecewa dengan orangtuanya yang kurang memperhatikan. SedangBRS hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk saja karena sikapnya yang berubah-ubah terkadang menjawab dengan lancar dan terkadang pula seperti kebingungan.

  • Observasi Tingkah Laku siswa

Observasi yang dimaksudkan di sini mencakup semua gejala yang ditampilkan oleh anak yang bermasalah selama di sekolah dan lingkungannya. Observasi mencakup aspek sikap, perhatian pada saat pelajaran, berdasar pengamatan langsung maupun penjelasan dari pihak sekolah, keluarga, serta lingkungannya.

Berikut hasil observasi yaitu :

  1. Sikap pada umumnya

Sikap MNA pada saat guru bertanya dan meminta pendapat anak ini hanya diam. Merasa sangat malu terhadap keluarga, guru serta teman-temannya karena ‘terpaksa’ melakukan pencurian HP. Sikap P terkesan ‘cuek’ dengan prilakuknya selama di sekolah. Baik ketika sering bolos maupun saat mengambil HP milik gurunya. Sedangkan BRS lebih banyak diam dan merasa bingung dengan apa yang dilakukan yakni mencabuli teman yang merupakan tetangganya dengan cara memasukkan tangannya ke vaginanya.

  1. Perhatian Terhadap Pelajaran dan Guru

Hasil penjelasan dari guru pada masing-masing sekolahnya, BRS termasuk anak yang berprestasi dan tekun dalam mengikuti pelajaran. Sedangkan P memang sering bolos, namun saat belajar di kelas sikapnya terbilang bagus dan tidak berulah. BRS termasuk anak yang tidak bermasalah di sekolahnya. Sikap dan prilakunya normal.

  1. Cara Merespon Guru

Dalam penyajian data ini kami meminta penjelasan langsung kepada anak-anak tersebut, selanjutnya melakukan asessmen. Agar data lebih akurat dan objektif kami meminta penjelasan dari pihak guru, teman-teman di sekolahnya, keluarganya, serta lingkungan sekitarnya.

Dari situ kami banyak melihat serta dapat menangkap bahwa ketiga anak tersebut memang dibutuhkan perhatian khusus dari keluarga serta sekolahnya.

BAB IV

PROSEDUR PEMBERIAN ADVOKASI

  1. Analisis

Berdasarkan data yang telah terkumpul yang telah disajikan pada BAB II, maka analisis data yang dilakukan berdasarkan sata tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran mengenai kasus yang ditangani sekaligus untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan dari proses penanganan kasus ketiga siswa tersebut adalah sebagai berikut :

  • Wawancara (interview)

Dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap anak-anaktersebut, maka dapat disimpulkan bahwa :

  • MNA berprestasi, tekun dalam belajar, namun terkendala keuangan
  • P sering bolos sekolah dan kerap melawan guru
  • BRS sikapnya pendiam, jarang komunikasi kepada orangtuanya karena keduanya pedagang di pasar
  1. Sintesis

Adapun faktor pendukung yaitu :

  • Siswa berusaha terbuka dan berpartisipasi pada saat diwawancarai dan mengerti terhadap kasus yang dialaminya.

Adapun faktor penghambat yaitu :

  • Siswa kurang komunikasi dengan orang tua di rumah dan guru di sekolahnya.
  1. Diagnosis

Denga melihat uraian pada analisis data dan sintesis, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa masalah yang dialami si AR,YP dan SR ini disebabkan faktor lain yaitu :

  • Kurang perhatiannya orang tua
  • Lingkungan yang bebas
  • Bullying teman
  • Kesalahpahaman antara siswa bermasalah dengan orangtua dan gurunya
  1. Pragnosis

Dari hasil diagnosis di atas, maka rencana bantuan yang akan diberikan pada siswa bermasalah yakni :

  • Bimbingan keluaraga / family konseling
  • Bimbingan sosial / rehabilitasi
  • Nasihat dan motivasi yang terus menerus diberikan

 

BAB V

PEMBERIAN BANTUAN DAN EVALUASI

Pemberian Advokasi

Dalam usaha pemberian bantuan tentu dilaksanakan dengan tidak begitu saja, oleh karena itu perlu adanya perencanaan meskipun dalam pelaksanaanya tidak semudah yang kita bayangkan. Usaha yang diberikan KPPAD Kepri pada saat terjun langsung yaitu :

1). Memberikan pemahaman kepada masing-masing anak serta keluarganya.

2). Selanjutnya melakukan  pendekatan terhadap pihak sekolah, melalui kepsek, guru kelas, serta seluruh guru agar mengutamakan komunikasi sebelum mengambil keputusan.

BAJA JUGA :   Cabuli Anak di Bawah Umur, Dua Pemuda Dihukum Cambuk 90 Kali

3). Melakukan mediasi kepada para pihak agar persoalan bisa diselesaikan secara baik-baik tanpa harus mengeluarkan anak dari sekolah secara sepihak.

4). Jika masih tidak ada kata sepakat, maka akan menindak lanjuti kepada dinas pendidikan terkait agar dicari formulasi yang tepat dalam menyelesaikan konflik, agar hak pendidikan anak tidak terabaikan.

Evaluasi

Setelah memberikan bantuan kepada siswa berupa layanan lagsung , dari segi keberhasilannya :

  1. Siswa menyadari perilaku yang dilakukan
  2. Lebih terbuka dengan orangtua dan gurunya
  3. Berusaha memperbaiki diri agar dapat diterima oleh teman-temannya
  4. Sekolah masih menerima melanjutkan pendidikannya sampai lulus, dengan catatan tidak mengulangi

Dari segi ketidakberhasilannya :

Mengingat persoalan tersebut sudah dipandang perbuatan yang melanggar aturan sekolah, bahkan sudah masuk ke ranah hukum. Pihak sekolah tidak mau mengambil risiko. Siswa tersebut dipandang amoral, asusila, sehingga dikuatirkan menyebarkan virus kepada siswa-siswi lainnya, serta telah mencoreng nama baik sekolah.

BAB VI

PELIMPAHAN TINDAK LANJUT

Untuk mencapai hasil yang maksimal terhadap usaha bantuan dalam bentuk pelimpahan dan tindak lanjut ini diperlukan untuk mengetahui dan mengikuti perkembangan atas siswa tersebut nantinya.

Berhubungan dengan keterbatasan tugas dan fungsi kami selaku komisioner KPPAD Provinsi Kepri  sangat berharap peranan dari pihak guru dan orang tua siswa untuk memberikan perhatian yang lebih intensif dan berkesinambungan kepada siswa ini. Untuk itu kami mengharapkan masing-masing kepada :

  1. Pihak sekolah tidak serta merta dengan cepat mengambil keputusan mengeluarkan anak yang bermasalah.
  2. Dinas pendidikan terkait memberikan surat resmi kepada seluruh sekolah untuk memberikan formulasi standar dalam mengambil keputusan terhadap anak-anak yang bermasalah di sekolah.
  3. Guru dan pihak sekolah mengamati perkembangan lebih lanjut bukan hanya perhatian pada saat pelajaran saja, tetapi pada pergaulan siswa tersebut sangat
  4. Guru dan orang tua diharapkan membina kinerja sama yang baik sehingga tidak sepenuhnya dilimpahkan kepada pihak sekolah.
  5. Diharapkan orang tua agar lebih memantau anaknya serta tidak pernah lelah untuk memberikan nasihat dan memilih teman yang baik
  6. Siswa tersebut diharapkan agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya dan mampu bergaul dengan temannya, sehingga menciptakan lingkungan sosial yang baik.

 

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Observasi yang kami lakukan terhadap anak-anak yang berkasus tersebut  memberikan cerminan kalau sekolah cendrung mengambil jalan pintas yang dirasa aman, dengan cara mengeluarkan anak-anak bermasalah.  Alasannya, agar tidak menularkan kepada siswa-siswi lainnya, dan nama sekolah tidak tercemar.

Kondisi ini menjadi bahan referensi, bahwa segala bentuk permasalahan yang terjadi di dalam sekolah terkait anak didiknya harus diselesaikan dengan berbagai metode untuk menyelematkan masa depan mereka.

Hal ini harus dilakukan mengingat ada hak pendidikan anak yang harus tetap dipenuhi. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 9. Perlu digarisbawahi, bahwa upaya tersebut ‘bukan’ membela perbuatan nakal mereka, silahkan perbuatannya diproses, namun hak pendidikannya harus tetap berjalan.

Dan keseluruhan yang dapat kami lihat pada saat observasi adalah perlunya bimbingan khusus bagi anak yang bermasalah  dan diikuti motivasi dari guru yang mampu membangkitkan semangat belajarnya serta pengendalian tingkah laku dengan memanggil pihak orangtua agar apa yang diberikan guru di sekolah dapat terealisasikan juga di rumah.

Saran

Dalam melakukan perubahan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik di sekolah perlulah elemen-elemen yang saling berkaitan. Tentunya kami berharap hal-hal yang berkaitan tersebut dapat memberikan dampak yang signifikan untuk perubahan peserta didik yang bermasalah, sebagai berikut :

  1. Guru dan pihak sekolah mengamati perkembangan lebih lanjut bukan hanya perhatian pada saat pelajaran saja tetapi pada pergaulan siswa tersebut juga penting.
  2. Guru dan orang tua diharapkan membina kinerja sama yang baik sehingga tidak sepenuhnya dilimpahkan kepada pihak sekolah.
  3. Diharapkan orang tua agar lebih memantau anaknya serta tidak pernah lelah untuk memberikan nasihat dan memilih teman yang baik
  4. Siswa tersebut diharapkan agar dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya dan mampu bergaul dengan temannya, sehingga menciptakan lingkungan sosial yang baik.
  5. Kalaupun siswa tersebut harus dipindahkan karena berbagai pertimbangan, hendaknya dilakukan dengan baik sesuai prosedur, tanpa melakukan keputusan sepihak, baik dari pihak sekolah maupun dari orangtuanya.*

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here