Anak Korban Pencabulan Dapat Support Group dan Pembinaan

0
292
Kegiatan support group untuk korban kekerasan seksual dan ABH di Tanjungpinang

TANJUNGPINANG, LINDUNGIANAK.COM – Kasus kekerasan kepada anak baik kekerasan seksual, kekerasan fisik dan psikis menimbulkan trauma bagi para korban. Mereka membutuhkan dukungan untuk bisa bangkit, dan melanjutkan kehidupan kedean yang lebih baik. Dukungan tersebut tidak hanya dari orangtua dan keluarga korban, tapi dari semua pihak.

Dalam rangka memberikan dukungan kepada para korban kekerasan kepada anak  yang ada di Tanjungpinang, Dinas Sosial Kota Tanjungpinang menggelar kegiatan Support Group dan Pembinaan kepada Anak Berhadapan Hukum (ABH), Jumat (5/4/2019).

Support group dan pembinaan ini diberikan oleh nara sumber Erry Syahrial, Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri dan nara sumber lainnya seperti dari Badan Narkotika Nasional Kota Tanjungpinang (BNN).

Peserta kegiatan ini banyak diikuti korban anak dan kebanyakan mereka adalah korban kekerasan seksual dan pencabulan. Ada belasan anak korban kekerasan menghadiri kegiatan yang berlangsung di Aula Embung Fatimah Dinas Sosial Kota Tanjungpuinang  ini. Selain untuk anak korban, kegiatan ini juga ditujukan kepada orangtua yang datang mendampingi anak.

Anak-anak tersebut telah mengalami kekerasan beberapa waktu yang lalu. Ada yang sudah terjadi beberapa bulan lalu hinggga sampai beberapa tahun yang lalu. Namun meski sudah terjadi beberapa waktu yang lalu, kejadian tersebut masih berbekas dalam ingatan korban dan menimbulkan trauma.

Usia korban bervariasi mulai dari usia sekitar 7 tahun hingga 17 tahun lebih. Bahkan ada satu dua korban yang sudah lewat usia anak atau lebih dari 18 tahun atau menginjak dewasa.

Dampak kekerasan seksual yang dirasakan korban juga berbeda satu korban dengan korban lainnya. Diantara para korban ini, ada masih bersekolah seperti biasa. Berbaur dengan anak-anak lainnya seperti biasa tanpa ada diskriminasi, perlakuan bullying dan lainnya karena kasusnya tidak sampai diketahui oleh teman-teman lainnya di sekolah.

Namun ada juga beberapa korban memutuskan tidak mau sekolah lagi atau berhenti di sekolah formal dengan alasan malu, minder, takut dibully oleh teman-temannya. Sementara korban yang bersangkutan tetap ingin melanjutkan pendidikannya untuk mengejar cita-citanya.

‘’Yang saya khawatirkan di sekolah adalah bullying yang dilakukan teman-teman di sekolah. Karena di sekolah banyak bully,’’ keluh korban ketika ditanya kekhawatir yang dirasakan saat itu.

Opsi menempuh pendidikan di program paket A, paket B dan paket C merupakan salah satu opsi bagaimana korban tetap mendapatkan haknya mengecap pendidikan.

‘’Saya sudah berhenti sekolah sejak kejadian. Saya tidak mau lagi sekolah di SMP yang lama atau dipindahkan ke SMP lain. Saya mau ambil paket B saja,’’ ujar salah seorang korban lain saat didampingi ibunya.

Menurut Erry, biasanya kejadian kekerasan seksual yang dialami korban ini, selain  berdampak pada psikis korban dan juga mengancam pemenuhan hak-hak dasar para korban. Selain trauma, korban kadang terancam kehilangan hak pendidikannya karena korban malu bersekolah atau dikeluarkan sepihak oleh pihak sekolah.

Di sinilah peran pendamping anak, pekerja sosial, pusat layanan anak, dan dinas terkait termasuk orangtua dan masyarakat untuk membantu para korban ini. Jangan sampai anak sudah jadi korban kekerasan, namun juga mengalami korban kehilangan hak-haknya.

‘’Umumnya korban juga kehilangan semangat dan motivasi belajar menjadi turun. Kita semua harus membantu para korban pulih, semangat, bisa sekolah lagi dan  dapatkan hak-haknya sebagai anak,’’ ujar Erry.

KPPAD juga menekankan penting peran orangtua untuk membantu anaknya yang sudah jadi korban untuk bisa pulih dan bangkit. Bila berhasil maka anak bisa cepat pulih secara psikis dan mampu melupakan kejadian yang menimpanya, kemudian bersikap seperti anak yang lain.

‘’Meski ia pernah jadi korban pencabulan, prestasi belajar anak saya  di sekolah tetap juara seperti dahulunya. Anak saya saat ini tidak bisa hadir karena sedang sekolah,’’ ujar seorang ibu saat sesi interaktif. *(redaksi01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here