Modus Membawa Korban Kemana-mana dan Akui Sebagai Anak Kandung

0
351
Konferensi pers Polda Bangka Belitung dan KPAD Bangka Belitung tentang pencabulan ini di Mapolda Babel, , Senin (8/4/2019).

KPAD Babel dan KPPAD Kepri Ungkap Pencabulan Paman terhadap Ponakan

PANGKALPINANG, LINDUNGIANAK.COM – Subdit IV PPA Dirkrimum Polda Kepulauan Bangka Belitung berkoordinasi dengan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bangka Belitung (Babel) berhasil mengungkap pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan paman terhadap ponakannya.

Sebelumnya KPAD Babel juga saling koordinasi dengan Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri untuk bisa mengungkap kasus ini dan menangkap pelakunya yang berpindah tempat dari Bekasi, Bangka Belitung dan Batam.

Hal tersebut terungkap pada saat konferensi pers yang digelar Bidang Humas, Polda Bangka Belitung, Senin (8/4) sore yang dilakukan Kabid Humas Polda Bangka Belitung AKBP Maladi dan didampingi Ketua KPAD Babel Sapta Qodria Muahfi SH.

“Peristiwa diketahui pada saat korban Melati (8) menceritakan kepada saudaranya YC yang tinggal di Bangka, Melati bilang ke YC, bahwa Melati tidak mau balik ke TSP (pelaku) lantaran menjadi korban pencabulan sebanyak 16 kali,” terang Maladi.

Ditambahkan Maladi, bahwa peristiwa pencabulan tersebut terjadi di wilayah hukum Polres Bekasi Kota pada pada April tahun 2018 lalu.

BAJA JUGA :   Heboh Kasus Incest di Lampung Terkuak Berkat Kecurigaan Satgas Perlindungan Anak

“Pada saat malam itu, korban dicium, bibir korban sering di cium dan pelaku yang merupakan paman korban juga menggesekan kemaluannya,”ujar Maladi.

Dikatakan Maladi, Pihaknya melakukan pengamanan terhadap tersangka walaupun tempat kejadian perkara (TKP) berada di Kota Bekasi.

“Kebetulan pelaku ada di Pangkalpinang jadi kami amankan, dan insyaallah besok tersangka sudah kami limpahkan ke Polres Bekasi Kota,”jelasnya.

Sementara itu, Ketua KPAD Babel, Sapta Qodria Muahfi mengatakan, terungkap kasus ini hasil dari investigasi dan asesmen KPAD Babel terhadap korban.

“Berawal laporan pelaku yang melaporkan ke KPPAD Kepulauan Riau terkait pengasuhan korban,’’ ujar Sapta.

Pada saat itu, pelaku mengaku sebagai orang tua kandung Melati. , yang merasa dihalangi orang tua asuh korban, setelah kami telusuri bahwa pelaku adalah paman korban yang berpura-pura menjadi orang tua kandung Melati,” ujar Sapta.

Berawal dari Pengaduan ke KPPAD Kepri

Di tempat terpisah, Ketua KPPAD Provinsi Kepri Erry Syahrial membenarkan bahwa pada awal Maret 2019 lalu, pelaku membuat pengaduan ke KPPAD Kepri terkait dengan pengasuhan anak. Awalnya pelaku mengaku bahwa korban tersebut adalah anak kandungnya. Anak tersebut dibawa dari Bekasi ke Bangka ikut dirinya yang sedang mencari pekerjaan. Sementara istrinya atau ibu dari anak tersebut sudah meninggal.

BAJA JUGA :   Menghindari Stigma dan Labeling pada Anak
Pelaku saat membuat pengaduan ke ketua KPPAD Kepri awal Maret 2019 lalu.

Karena pekerjaan yang dijanjikan tidak ada maka pelaku menitipkan anaknya sama keluarga yang  berjanji memberikan pekerjaan. Selanjutnya pelaku pergi ke Batam untuk mencari pekerjaan hingga ditampung di sebuah yayasan panti jompo. Rencananya, pelaku akan mengambil korban dari ibu asuhnya yang di Bangka.

‘’Untuk memudahkan mengambil korban kembali, pelaku membuat pengaduan ke KPPAD Kepri agar KPPAD Kepri bisa berkoordinasi dengan KPAD Bangka Belitung,’’ ujar Erry.

Waktu membuat pengaduan tersebut, lanjut Erry, sudah ada muncul kecurigaan terhadap pelaku yang meragukan pengakuannya bahwa korban adalah anak kandungnya dan kenapa korban selalu dibawa kemana-mana. Namun  karena korban berada di Bangka, KPPAD Kepri  berkoordinasi dengan KPAD Bangka Belitung supaya bisa melakukan asesmen terhadap korban.

‘’Akhirnya terungkap adanya pencabulan di balik aksi pelaku mengasuh dan membawa korban kemana-mama dan menitipkan korban ke orang lain,’’ ujar Erry.

BAJA JUGA :   KPPAD Lingga Berupaya Eksis di Tengah Keterbatas Anggaran dan SDM Daerah

Sebelum datang ke Pangkalpinang untuk mengambil korban kembali, pelaku sudah mengakui bahwa korban bukanlah anak kandungnya seperti pengakuan selama ini, tapi adalah ponakannya. Alasannya, ibu kandung korban tidak bisa mengasuh anak tersebut karena memiliki beberapa anak dan baru menikah lagi dengan lelaki lain setelah ayah korban meninggal.

Setelah membuat pengaduan ke KPPAD Kepri, pelaku kembali ke Kota Bekasi untuk membicarakan penjemputan korban dengan keluarganya. Rencananya, pelaku datang ke Pangkalpinang dengan ibu kandung korban untuk mengambil korban kembali.  Akhirnya pelaku datang sendiri. Setelah menunggu beberapa hari, pelaku kemudian diamankan  polisi setelah bukti-bukti pencabulan yang dilaporan KPAD Babel tersebut dikantongi polisi.

KPPAD Kepri berharap proses hukum kasus tersebut bisa ditindaklanjuti di Polres Bekasi dan  menelusuri asal usul anak tersebut. Termasuk harus dilibatkannya Dinas Sosial  Bekasi dan KPAD Bekasi untuk menentukan pengasuhan korban ke depan, apakah diserahkan ke orangtua kandungnya atau dalam bentuk pengasuhan alternatif.

‘’Peksos di Bekasi harus melakukan laporan sosial terkait kondisi korban dan latar belakang keluarganya sebagai pertimbangan pengasuhan korban  kedepan,’’ kata Erry.(redaksi01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here