Kisah Korban KDRT, Ibu dan Anak, yang Kembali Bertemu Setelah Suami Dipenjara

0
51
Ibu dan anak bungsunya yang sama -sama jadi korban KDRT kembali bertemu setelah berpisah sekian lama. Pelaku yang tidak lain suaminya dihukum karena mengikat anaknya seperti ayam di rumah saat pelaku pergi kerja. Foto: jawapos

Sidang di Pengadilan Negeri Surabaya pada akhir tahun lalu begitu memilukan. Seorang ayah, Widodo Adi Sutaryanto, diadili karena mengikat anaknya yang masih berusia 18 bulan ketika ditinggal kerja. Kini, bayi tersebut sudah kembali ke pangkuan ibunya, Widya Soewanti.

Anak bungsu Widya –sebut saja Andra– tampak bermain riang dengan kakaknya di halaman rumah, Jalan Lebo Agung, Kenjeran, Rabu (1/1/2020). Dia yang sebelumnya berlarian digendong sang kakak. Widya mengawasi buah hatinya tersebut dari kejauhan.

Ya, bayi laki-laki itulah yang menjadi korban kekerasan ayahnya. Kini, Widya enggan melepaskan satu pandangan pun dari anaknya. Sebagai ibu, dia merasa trauma. Dia tidak menyangka kejadian memilukan itu menimpa anaknya.

Yang bikin mengelus dada, pelakunya adalah ayah yang seharusnya menyayanginya.

Hari-hari sebelumnya, perempuan 39 tahun itu memang sangat merindukan anak terakhirnya tersebut. Sebab, saat usia 3 bulan, anak yang dilahirkannya itu dibawa suaminya. Widya bersama anak-anaknya yang lain pergi karena tak kuat menghadapi kekerasan dalam rumah tangga.

Widya mengisahkan, kasus kekerasan terhadap anak tersebut terungkap berkat laporan warga. Ketika itu, warga iba melihat Andra yang diikat ayahnya ketika ditinggal kerja. Selanjutnya, satpol PP dan petugas dinas pengendalian penduduk, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak (DP5A) mengevakuasi Andra di Jalan Putro Agung Gang II.

BAJA JUGA :   Setelah Video Viral, ART Penganiaya Anak Majikan Ditangkap Polisi

Setelah kejadian itu, Andra dirawat di liponsos. Dia dipulihkan dari trauma dan diberi makanan bergizi. Hampir setiap hari Widya datang ke liponsos untuk menjenguk Andra.

Sebelumnya, Andra memang tidak begitu mengenal ibunya. Maklum, saat Andra masih berusia 3 bulan, sang ibu dan kakak-kakaknya meninggalkannya. Widya tidak betah karena perlakuan kasar suaminya.

Karena kunjungan Widya ke liponsos begitu rajin, perlahan kedekatan ibu dan anak itu akhirnya terjalin. Widya berhasil mengenalkan dirinya sebagai ibu Andra. ’’Saiki we mbalek, Mas. Wes tak gowo yo seneng aku, Mas,” kata Widya di teras rumahnya.

Dia juga berterima kasih kepada Pemkot Surabaya karena telah merawat anaknya dan memberikan perhatian kepada dirinya. Kini, anak-anak Widya sudah berkumpul.

BAJA JUGA :   Bias Gender dalam Kasus Prostitusi Online

Meski demikian, Widya menekankan kepada anak-anaknya agar tidak dendam terhadap sang ayah. Sebab, hubungan darah ayah dan anak tidak bisa terhapus begitu saja. ”Aku ngomongi nek iku urusane bapak dan ibu (aku, Red) dan enggak usah dendam atau marah. Biar penjara yang membuat bapakmu jera,” ujar Widya.

Kemarin Andra juga terlihat lebih terawat. Lebih gemuk. Luka pada punggung, kaki kiri, dan beberapa lecet pada tubuh balita itu sudah hilang. Semuanya telah pulih. Tangisannya kini juga bisa dihilangkan dengan kehadiran saudara-saudaranya yang lain.

Widya mengisahkan rentetan kekerasan yang dialaminya. Saat masih hidup satu atap, Widodo, suami Widya, sangat temperamen. ”Saya enggak tahan dipukuli terus-terusan. Mas Widodo itu temperamen sekali,” ujarnya.

Widya juga tidak ragu menceritakan deraan siksa yang dialaminya. Bahkan, dia kerap menerima tindak kekerasan ketika Andra masih dalam kandungan.

Tidak hanya ditempeleng, Widya juga kerap disiram kopi ketika ada hal yang membuat suaminya marah. Yang paling parah, Widodo pernah ingin memukul dengan paving dan mencekik lehernya. Bahkan, gara-gara peristiwa itu, leher Widya sampai berdarah. Sebagai suami, Widodo juga tidak pernah memberinya nafkah.

BAJA JUGA :   Korban Anak di Kepri Didominasi Kasus Pencabulan dan Kekerasan Fisik

Karena itu, Widya berharap hakim menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada Widodo. Menurut dia, hukuman penjara yang diterima Widodo harus sebanding dengan perbuatan kasar yang dialaminya selama ini. Kekesalan Widya memang sudah berada di ubun-ubun. ”Hukumane kudu tahunan. Nek mek wulanan aku lapor maneh. Kelakuane iku cukup tak rasakno, anak-anakku ojok dingunukno maneh,” ucapnya dengan nada geram.

Dia merasa, memang sudah sewajarnya suaminya itu dipenjara. Perilaku suaminya membuat dia trauma. Begitu juga Andra, anak terakhirnya yang diikat. ”Saiki aku tak nyambut gawe kanggo anak-anakku. Gak gelem aku kongkon mbalik maneh,” ucapnya.

Pernikahannya yang berlangsung selama 19 tahun itu dianggapnya sudah cukup. Dia tak ingin lagi melihat suaminya. Bagi dia, suaminya harus dibuat jera.

Widya pun ingin memulai hidup baru. Kehadiran anak-anaknya membuat dia lebih semangat dalam mencari nafkah.***

Sumber: jawapos

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here