Opini: Keluarga Basis Literasi Anak Bangsa

0
62

Oleh: Rahmat Hidayat, Ketua Studi Bahasa Asing UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

KELUARGA merupakan masyarakat pertama yang dikenal seorang anak. Masyarakat kecil ini menjadi ladang persemaian serta sentral pendidikan karakter (tarbiyatul ula) mereka. Keluarga berperan besar membangun karakter anak, di antaranya dalam hal literasi.

Daya literasi milenial kita masih sangat rendah. Berdasarkan data UNESCO tahun 2012, daya literasi warga Indonesia hanyalah 0,001 persen. Sedangkan Survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa minat baca anak Indonesia termasuk rendah, hanya 17,66 persen. Pada tahun 2016, World’s Most Literate Nations melakukan pemeringkatan daya literasi dan Indonesia menduduki peringkat 60, posisi kedua terbawah dari 61 negara yang diteliti.

Ilustrasi budaya literasi keluarga. Disain berdikaribook.red

Selain itu, revolusi digital berhasil meningkatkan budaya tayang milenial dan sebaliknya, mengikis minat literasi mereka. Menurut data yang dilansir We Are Social, 49 persen masyarakat Indonesia adalah pengguna aktif media sosial. Mereka mampu menghabiskan waktu lebih dari sembilan jam untuk menonton Youtube dan bermain media sosial (medsos).

Oleh karenanya, Hari Anak Nasional pada 23 Juli ini sepatutnya menjadi momentum merevitalisasi literasi anak dalam keluarga. Literasi tidak hanya persoalan baca-tulis. Pemaknaan kontemporer literasi mencakup kemampuan identifikasi, interpretasi, analisis, inovasi, dan komunikasi secara baik di tengah tantangan revolusi industri 4.0. Sekalipun demikian, kompetensi baca-tulis-diskusi adalah komponen utama dari literasi.

BAJA JUGA :   Tekan Angka Kekerasan Anak, Sekolah Didorong Akrab dengan Siswa
Peran Orangtua

Kehidupan sosial seorang anak bermula dari keluarga yang berimplikasi kepada masyarakat dan bangsa (Tilaar, 2015: 16). Orangtua adalah penegak utama literasi anak. Keluarga dituntut bisa memenuhi kebutuhan psikologis, kognitif, dan mental seorang anak(Dewantara, 1961: 255). Orangtua tidak cukup memenuhi kebutuhan materil seorang anak semata.

Selama ini, literasi anak selalu dibebankan kepada guru-guru sekolah. Ironisnya, tidak sedikit orangtua yang berasumsi bahwa mencetak generasi literat adalah tanggung jawab guru. Absennya orangtua dalam pendidikan literasi menyebabkan generasi milenial terjerumus ke dalam persoalan dekadensi moral.

Revitalisasi literasi anak dalam keluarga tidak harus dipahami secara formalistik.Paradigma ini akan membatasi laju perkembangan literasi anak dalam keluarga. Ia harus dipahami secara empirik dan etik. Literasi anak dalam keluarga dapat dibumikan melalui tiga model yakni pembiasaan, keteladanan, dan pengajaran dalam keluarga.

Secara substantif, gerakan ini berupaya membudayakan kegiatan baca-tulis sejak dini dalam keluarga. Sederhananya, orangtua bisa menyenandungkan syair atau ayat-ayat suci saat mengasuh anak. Orangtua bisa membacakan dongeng sebagai pengantar tidur anak, atau membelikan anak poster maupun komik bergambar. Hal ini adalah upaya mengenalkan anak pada dunia buku.

BAJA JUGA :   Perkecil Risiko Anak Alami Kekerasan, Ajarkan Cara Melindungi Diri

Selain itu, gerakan ini harus didukung suasana rumah yang kondusif. Artinya, rumah harus mengakomodir ruang-ruang penyemaian literasi. Secara konstruktif, rumah yang ideal hendaknya memiliki ruang musyawarah keluarga, ruang ibadah, dan perpustakaan. Ketiga ruang tersebut menjadi titik sentral persemaian literasi anak dalam keluarga.

Literasi anak mampu diejawatahkan dalam musyawarah keluarga. Anak perlu dilibatkan dalam musyawarah dan dimintai pendapat. Selama ini, orangtua selalu menganggap anak sebagai objek dan merahasiakan persoalan keluarga dari anak. Akibatnya, wawasan mereka menjadi sempit dan ekslusif dalam membaca persoalan kehidupan.

Gerakan ini dapat berbentuk keteladanan orangtua. Sebagai role model keluarga, ayah dan ibu harus menunjukkan budi pekerti yang baik di hadapan anak. Mereka dapat mengajak anak untuk menyantuni anak yatim piatu, menjalin tali silaturahim dengan tetangga dan ikut serta dalam gotong royong. Perbuatan orang tua kemudian akan dibaca dan ditiru anak. Keteladanan orangtua merupakan kegiatan literasi secara tidak langsung.

BAJA JUGA :   Bangun Pondasi Hubungan yang Kuat antara Guru – Siswa untuk Cegah Kasus Kekerasan di Sekolah

Di era revolusi industri 4.0, orangtua perlu melakukan digital parenting sebagai bagian literasi digital anak. Mereka perlu mengawasi aktivitas bermain gadget anak. Sebab, milenial hari ini sangat kecanduan bermain game online, semisal PUBG, COC, dan Mobile Legend. Bahkan, milenial hari ini cendrung individualis serta menarik diri dari masyarakat hanya demi bermain permainan daring.

Orangtua juga perlu menjelaskan hakekat fungsi smart phone serta mengarahkan anak kepada konten-konten yang positif. Misalnya, orangtua menunjukkan tautan video Youtube yang mendidik atau website yang memuat konten kredibel, bebas hoaks, dan steril dari paparan pornografi.

Penyemaian literasi anak dalam keluarga adalah strategi jitu bangsa ini dalam menyambut dan mengelola bonus demografi. Secara nyata, nasib baik bangsa ini ditentukan oleh kualitas literasi anak bangsa. Penyemaian literasi anak sejak dini merupakan upaya kita bersama untuk mendongkrak peradaban bangsa dan memacu anak bangsa ke kancah global.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here