Setelah Video Viral, ART Penganiaya Anak Majikan Ditangkap Polisi

0
171
Screenshoot video asisten rumah tangga (ART) sedang menganiaya anak majikannya yang berusia 7 tahun yang viral di medsos

JAKARTA, LINDUNGIANAK.COM – Seorang asisten rumah tangga atau ART menganiaya seorang anak majikannya di Jelambar, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Video berdurasi 45 detik ini pun viral di media sosial saat ini.

Tangan dan kaki anak laki-laki tersebut diikat oleh seorang asisten rumah tangga. Sang anak beberapa kali mencoba berusaha membuka ikatannya, namun gagal. Di saat anak lemas dan menangis, pelaku juga membekap korban dengan menggunakan kertas wallpaper hingga sang anak nyaris tak bisa bernafas.

ART pelaku penganiayaan anak majikan saat diamankan di Polres Jakarta Barat, Rabu (8/1/2020)

Rekaman video kekerasan terhadap anak ini viral setelah diposting oleh sang orangtua di media sosialnya. Akibat dari pelakuan tidak manusiawi seorang asisten rumah tangga ini, pihak keluarga masih menutup diri.

Dalam unggahan Facebook, sang orangtua membagikan video kekerasan yang telah dilakukan ART terhadap anaknya. Dalam video tersebut seorang anak terlihat duduk menangis dengan kaki dan tangan terikat.

Tiba-tiba saja seorang wanita muda mengkasari anak tersebut. Wanita yang disebut sebagai ART itu bahkan menempelkan sebuah kertas lem ke wajah korban. Wanita itu beberapa kali juga sempat menempeleng wajah dan kepala korban.

Orangtua korban melaporkan peristiwa ini ke Polres Metro Jakarta Barat dan saat ini dalam proses pihak kepolisian.

BAJA JUGA :   Anak Usia Sekolah Nahkodai Kapal Penyelundup BBM

Penganiayaan terhadap bocah berusia 7 tahun di Jelambar, Jakbar, tersebut baru diketahui oleh ibunda setelah pelaku, NV (23), kabur. Tindakan kejam NV ini terkuak setelah ART baru di rumah korban membongkar perilakunya kepada sang majikan.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Teuku Arsya Khadafi mengatakan pelaku sudah bekerja selama 7 tahun di rumah korban. Pelaku juga sudah sangat dipercaya mengasuh anak-anaknya.

“Tapi, suatu ketika, pelaku ini merasa tersinggung karena majikannya menanyakan handphone saudaranya hilang, padahal nggak nuduh,” tutur Arsya Rabu (8/1/2020).

Hingga akhirnya pelaku pergi dari rumah majikannya tanpa pamit. Pada saat itu, sang majikan belum mengetahui aksi pelaku.

“Pelaku ini kabur lah, karena mungkin merasa punya salah juga,” tuturnya.

Arsya menyebutkan, di rumah tersebut pelaku bukan satu-satunya ART. Ada juga seorang ART lain yang baru dipekerjakan oleh ibunda korban.

Terjadi Setelah Jalan-jalan di Mal

Penganiayaan itu terjadi setelah korban bersama keluarga dan pelaku jalan-jalan di sebuah mal.

BAJA JUGA :   DPRD, Disdik dan KPPAD Kepri Sidak ke SMAN 4 Tanjungpinang terkait Siswa Dikeluarkan

“Sehari sebelumnya itu mereka, si ART ini mendampingi keluarga majikannya yang mana anak majikan ini ketika di mal berlarian, dia susah mengaturnya, dia kesal,” ujar Kapolres Jakarta Barat Kombes Audie Latuheru kepada wartawan di Polres Jakbar, Jl Letjen S Parman, Slipi, Jakbar, Rabu (8/1/2020).

Audie mengatakan, penganiayaan terjadi pada Senin (9/12/2019), sehari setelah mereka jalan-jalan di mal. Korban dianiaya saat ibundanya sedang pergi bekerja.

“Ketika pulang ke rumah, besoknya pas orang tua korban tidak di rumah, anak ini dianiaya. Tangannya diikat kemudian dilakukan kekerasan, bahkan mulutnya itu ditutup pake wallpaper,” katanya.

KPAI Minta Orangtua Perketat Pengawasan

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati menyesalkan hal tersebut.

“Tentu kami menyesalkan dengan adanya kekerasan yang masih terjadi oleh pengasuh atau orang yang dipercaya di rumahnya sendiri. Padahal seharusnya rumahnya sendiri menjadi tempat aman,” kata Rita di Mapolres Metro Jakarta Barat, Rabu (8/1/2020).

Kapolres Jakarta Barat bersama Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati saat konfrensi pers menunjukkan barang bukti kekerasan pelaku

Rita meminta orangtua tetap memberikan pengawasan ketat, kendati anak diasuh oleh ART.

“Ketika rekrutmen ART penting untuk memastikan mereka mengerti tentang anak karena pasti ada nangis atau yang tidak sesuai dengan harapan ART, mungkin merasa capek,” kata Rita.

BAJA JUGA :   Berbagai Dampak Kekerasan pada Prilaku Anak

“Ini menjadi peringatan bagi tiap orangtua melakukan pengalihan pengasuhan kepada siapapun termasuk kepada ART. Tanggung jawab pengasuhan yang utama tetap pada orang tua,” jelasnya.

Dikatakannya, kekerasan terhadap anak tak sedikit dilakukan oleh orang dekat.

Berdasarkan data KPAI selama tahun 2019, dari 291 kasus, sedikitnya ada 63 kasus kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dekat, dimana 55 kasus diantaranya dilakukan oleh orangtua Anak, baik  kandung maupun tiri.

“Sisanya dilakukan oleh orang terdekat seperti Kakek, Paman, Kakak, Adik, ART, dan juga Guru,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Audie S. Latuheru yang meminta orangtua untuk memperketat pengawasan terhadap anak kendati diasuh oleh ART.

Salah satu caranya dengan memasang CCTV di dalam rumah. “Lakukan pengamanan seperlunya misal memasang CCTV di rumah. Kemudian sering komunikasi dengan anak. Paling tidak bertanya tadi waktu mama pergi bagaimana. Tentunya orangtua akan bisa membaca dari ekspresi anaknya,” kata Audie.(redaksi01)

Sumber:detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here