Anak Angkat Diperkosa Pasutri Selama 6 Tahun, Pelaku Kepala Sekolah dan Pengawas

0
218
Ilustrasi anak korban perkosaan yang mengalami trauma

BIMA, LLINDUNGIANAK.COM – Selama enam tahun, RM diperkosa orangtua angkatnya AM dan FN warga Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Pelaku adalah, AM adalah pengawas di Dinas Pendidikan Kabupaten Bima. Sedangkan istrinya, FN adalah kepala sekolah.

RM diperkosa sejak berusia 15 tahun hingga saat ini berusia 21 tahun. RH, kakak RM bercerita adiknya dititipkan oleh orangtuanya di rumah AM dan FN sejak ujian akhir kelas 3 SMP.

Hal tersebut dilakukan karena jarak rumah mereka dengan sekolah cukup jauh dan harus ditempuh dengan menyeberang lautan menggunakan perahu.

RH bercerita bahwa orangtuanya kenal baik dengan AM dan FN dan menganggap mereka pantas menjadi orangtua angkat RM. Aksi bejat dilakukan di rumah sejak 2014 hingga pertengahan 2019.

Selama pencabulan terjadi, RM dipaksa untuk terus tinggal dirumah AM dan FN selama bertahun-tahun. Selama RM tinggal di rumah orangtua angkatnya, ia kerap dipaksa untuk melayani nafsu seksual AM dan FN.

Menurut RH, FN juga merekam adegan seksual pemerkosaan melalui kamera ponsel. Jika RM menolak, mereka mengancam akan menyebarkan foto tanpa busananya. Selain itu, pasangan suami istri tersebut juga mengancam agar RM tidak menceritakan kejadian tersebut ke siapa pun.

BAJA JUGA :   Pasca Kenal di Medsos, Siswi SMP Dicabuli di Hutan

Kasus tersebut terbongkar setelah foto RM tanpa busana beredar hingga diketahui oleh orangtua kandungnya. Baca juga: 9 Korban Perkosaan Pemuda Jombang, 6 Saudara Sepupu hingga Pacar Adiknya Didampingi keluarganya, RM kemudian melaporkan AM dan FN ke Polres Bima.

“Dia (RM) diancam apabila tidak mau, mereka akan menyebarkan foto tanpa busana. Akibat ancaman itu, dia tertekan hingga menuruti kemauan pelaku dan terpaksa menutupi aksi bejatnya,” ujar RH seusai mendampingi korban di Mapolres Bima Kota, Rabu (15/1/2020).

Saat ini RM sedang berjuang melawan trauma perkosaan selama 6 tahun oleh orangtua angkatnya.

Kapolres Bima Kota AKBP Haryo Tejo membenarkan adanya laporan perihal kasus pencabulan terhadap seorang gadis yang diduga dilakukan oknum pengawas di Dinas Pendidikan Kabupaten Bima.

“Iya, dilaporkan. Korban didampingi oleh LPA. Cuma saya belum tahu laporan detailnya, silakan konfirmasi ke Kasat Reskrim,” kata Haryo.

BAJA JUGA :   Majelis Hakim Geram dengan Dua Pencabul Anak

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bima Iptu Hilmi Manossoh Prayugo mengatakan polisi telah mengamankan AM dan FN. “Pasutri ini dijemput di rumahnya di Kecamatan Langgudu. Statusnya diamankan untuk diperiksa lebih lanjut,” kata Hilmi, Rabu (15/1/2020).

Guru Biologi Setubuhi Siswinya di Ruang Kelas

Sementara itu, seorang tenaga pendidik AY, 35, di Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo tega menyetubuhi siswinya hingga empat kali. Beruntung aksinya segera terungkap dan pelaku diamankan.

Ilustrasi cabul siswi SD oleh oknum gurunya.

Korbannya yakni Z, 13, warga Kecamatan Paiton yang juga siswi sebuah SD di Paiton. Z duduk di bangku kelas enam SD, tempat pelaku mengajar sebagai guru honorer. Pelaku diamankan Kamis (16/1) siang, pukul 13.00. Ia diamankan di rumahnya dan langsung dibawa ke kantor Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Probolinggo.

Pelaku diamankan setelah orang tua korban melaporkan perbuatan pelaku kepada unit PPA Polres Probolinggo, Kamis (16/1). Setelah menerima laporan dari orang tua korban, petugas langsung mengejar dan menangkap pelaku.

BAJA JUGA :   Marak Predator Anak di Tangsel, Pemkot Didesak Persempit Ruang Gerak Pelaku

Pelaku sendiri hanya menundukkan wajah selama diperiksa di ruang unit PPA Polres Probolinggo, Kamis (16/1). Pada petugas yang memeriksa, pelaku mengakui terang-terangan perbuatanya menyetubuhi muridnya.

Namun, pelaku berdalih perbuatan itu tanpa paksaan atau ancaman. Melainkan, dilakukan atas dasar suka sama suka.Bahkan, persetubuhan dengan korban menurutnya, dilakukan sejak korban kelas empat. Di mana, saat itu ia menjadi wali kelasnya.

Pelaku mengaku, dirinya dengan korban sangat dekat sejak kelas 4 SD. Sehingga, sampai berujung pada persetubuhan. “Saya dekat dengan dia. Jadi suka sama suka. Saya sudah beristri dan memiliki satu anak,” ungkapnya.

Parahnya, persetubuhan itu bukan dilakukan di luar sekolah. Tetapi, dilakukan di ruang kelas saat jam istirahat. Biasanya menurut pelaku, korban mendatanginya di ruang kelas saat ruang kelas sepi.

“Jam istirahat melakukannya. Ya di ruang kelas itu. Kan anak-anak keluar semua. Jadi kami melakukan di ruang kelas itu,” ungkapnya.*

Sumber : kompas.com, jawapos.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here