Siswi SMKN 1 Anambas Putus Sekolah Akibat Dibully Guru Agama Diteriaki Lonte

4
9073
Ilustrasi siswi korban bully

ANAMBAS, LINDUNGIANAK.COM –  Sungguh keterlauan apa yang dilakukan seoarang guru Agama di SMKN 1, Aik Asok, Kabupaten Anambas terhadap salah seorang siswinya di depan orang ramai. Saat siswinya tersebut pulang sekolah bersama siswa-siswi dan guru berada di pelabuhan roro, tiba-tiba Guru Agama yang bernama Sukimin meneriakinya seoarang siswinya dengan sebutan lonte.

Tindakan bully terhadap anak membuat korbannya sangat terpukul, apalagi dilakukan oleh seorang guru. Di tempat kejadian banyak siswa-siswi lainnya. Juga ada guru SMKN 1 Anambas lainnya di pelabuhan roro tersebut.

Tidak banyak yang bisa diperbuat oleh AR mendapatkan perlakuan yang memukul psikologisnya tersebut, kecuali menangis dan langsung pulang dengan berboncengan dengan temannya dengan sepeda motor. Di rumah, ia mengadukan kejadian yang menimpanya siang itu ke orangtuanya.

Tindakan guru Sukimin membully AR di depan orang ramai tidak bisa diterima orangtuanya. Orangtua korban tidak bisa  habis pikir kenapa guru tersebut bisa begitu marah dan menyebut anaknya lonte di depan orang ramai. Apa yang sudah dilakukan atau dibicarakan anaknya di kapal tersebut.

RM, ibu kandung AR kepada lindungianak.com, Jumat (17/1/2020) menceritakan kronologis insiden di pelabuhan roro saat guru SMK 1 Anambas membully anaknya dalam perjalanan pulang sekolah ke rumahnya.

‘’Di pelabuhan anak saya duduk membonceng teman laki-lakinya. Motor tersebut punya anak saya, dan teman laki-lakinya baru pandai naik motor.  Mereka ngombrol sambil menunggu roro datang. Melihat kondisi seperti itu, gurunya yang juga ada di pelabuhan tersebut langsung meneriaki AR dengan sebutan lonte,’’ tutur RM.

‘’Kamu macam lonte,’’ tutur RM  menirukan bully Sukimin pada AR.

Akibat dibully tersebut, AR enggan masuk sekolah lagi. Ibu kandung korban bully memberi motivasi anaknya agar tetap bersekolah. Dalam keadaan masih takut, malu dan tertekan secara psikis, AR tetap datang ke sekolah.

BAJA JUGA :   Membawa Isu Anak dalam Ranah Politik

Di Sekolah Terjadi Keributan

Dua hari kemudian, RM, ibu korban mendatangi sekolah SMKN 1 Aik Asok, Anambas. Kedatangan RM atas panggilan pihak sekolah. Mungkin  karena insiden di kapal roro tersebut, pikir RM.

RM juga berencana datang ke sekolah dengan tujuan meminta klarifikasi kepada guru yang meneriaki anaknya lonte.

Sampai di sekolah, RM diterima Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono dan sejumlah guru lainnya di ruangan majelis guru. Dipanggilnya RM ke sekolah karena AR sudah dua hari tidak masuk sekolah.

Suasana saat upacara di SMKN 1 Anambas

Saat RM menanyakan kenapa anaknya diteriaki lonte oleh salah seorang guru di sekolah tersebut, Sukimin yang berada  di dalam ruangan tersebut langsung berteriak dengan nada tinggi ke arah RM. Guru tersebut mengakui bahwa dirinya yang melakukan hal itu kepada anak RM dengan nada menantang.

Ruangan yang tadinya hening, tiba-tiba pecah keributan. Sukimin  berteriak-teriak dengan perkataan yang tidak pantas diucapkan seorang guru. Sementara guru lain hanya diam. Sedangkan kepala sekolah sudah keluar sehingga tidak menyaksikan kejadian tersebut.

‘’Ia juga memukul meja berkali-kali dan tepuk dadanya. Mengusir saya dari ruangan, mau robohkan sekolah, sumpah serapah dengan menyebut nama binatang.   Ia juga ancam lapor polisi serta mengancam anak saya dikeluarkan dari sekolah,’’ tutur RM bercerita tentang kejadian saat itu.

Usia kejadian tersebut, AR  terus masih mengalami bylly dari guru, sekolah dan teman-temannya. Bahkan penyebutan sebagai lonte terhadap AR tersebut diumumkan lagi di mic SMKN 1 Anambas.

Ibu Kandung Berjuang Agar Anaknya Tetap Sekolah

BAJA JUGA :   Bekapan Maut Kandaskan Impian Mahasiswi Pendidikan

RM, ibu kandung AR saat ini masih tidak bisa terima anaknya dibilang lonte, meskipun kejadian tersebut sudah berlangsung bulan Oktober 2019 lalu. Trauma anaknya masih belum hilang, sementara semangatnya untuk mengecap pendidikan menjadi berkurang.

Apa yang menimpa anaknya dan ancaman dikeluarkan dari sekolah membuat RM meminta bantuan ke Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  Anambas agar anaknya tetap bisa sekolah. Kasus tersebut kemudian didampingi oleh konselor Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Anambas, Erda.

RM juga melapor ke Camat Siantan Tengah, Anambas untuk menyelesaikan masalah tersebut. Camat Rumadi juga turun ke sekolah untuk mencarikan solusi.

‘’Namun dalam pertemuan itu bukan solusi yang didapat.  Sukimin kembali marah-marah dan tepuk meja di depan Camat. Pihak SMKN 1 menyampaikan tetap mengeluarkan AR dari sekolah,’’ papar RM kepada lindungianak.com.

Dalam kondisi semikian, RM tetap bermohon kepada pihak sekolah agar anaknya bisa ujian terlebih dahulu sebelum anaknya dikeluarkan. RM berharap anaknya bisa dipindahkan dengan administasi yang lengkap untuk mendaftar di sekolah lain di luar Anambas.

Tasri, Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Anambas yang baru dilantik langsung ikut membantu menyelesaikan konflik antara orangtua dengan sekolah. Anak bisa ujian, namun permasalahan lain muncul lagi.

‘’Akhirnya anak saya bisa ujian namun nilai yang diberikan guru banyak merah dan di bawah Nilai Kelulusan Maksimal (KKM) sehingga tidak bisa diterima di sekolah lain,’’

AR sempat bersekolah selama satu minggu di sekolah tujuannya yaitu SMKN 2 Tanjungpinang. Pihak SMKN 2 Tanjungpinang memberikan kesempatan kepada keluarga AR selama seminggu untuk melengkapi persyaratan pindahnya  yaitu surat pindah dari sekolah asal dan nilai harus di atas KKM.

BAJA JUGA :   Negara Belum Mampu Menghentikan Pernikahan Usia Anak

Lewat seminggu dan hingga sudah 10 hari kalender sekolah, rapor AR belum bisa diperbaiki oleh pihak SMKN 1 Anambas dan juga belum mengeluarkan surat pindah.  Akhirnya, AR pasrah dengan nasibnya tidak bersekolah. Saat ini, AR berada di Kota Batam untuk mengambil les bahasa Inggris.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan  Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri Erry Syahrial yang menerima pengaduan orangtua korban merasa prihatin dengan nasib yang dialami oleh AR. Menurut Erry, korban telah mengalami bully, kekerasan psikis, diskriminasi, dan ditelantarkan nasibnya.

‘’Tidak semestinya guru membully siswinya dengan kata-kata seperti itu. Kalau siswinya adalah salah dalam ucapan dan etika saat kejadian itu, maka bisa dipanggil saat berada di sekolah dan diberikan bimbingan.  Bisa jumga dipanggil orangtuanya. Bukan dengan cara emosi dan arogansi seperti itu karena guru itu digugu dan ditiru,’’

Dijelaskan Erry, ada beberapa hak anak yang dilanggar pihak sekolah terkait masalah tersebut. ‘’Kami akan memperjuangkan agar AR bisa bersekolah kembali dan mendapatkan perlindungan sebagai anak,’’ ujarnya.

Terkait masalah tersebvut,  Erry Syahrial juga sudah menghubungi dan meminta klarifikasi Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas Tugiono. Katanya, kejadian bully tersebut terjadi karena kesalahan siswa atas perilakunya di atas roro.

‘’Soal rapor yang nilai di bawah KKM terjadi karena guru-guru yang lain tidak mengetahui  soal pindah tersebut. Belum ada surat pindah karena saat itu lagi liburan,’’ ujar Tugiono, Jumat (17/1/2020).

KPPAD Kepri sudah mencoba mengkoordinasikan masalah ini dengan Kepala Dinas Provinsi Kepri Muhammad Dali, Jumay (17/1/2020). Namun belum bisa dihubungi. (redaksi01)

 

4 KOMENTAR

  1. Seorang guru tdk seharusnya mengeluarkan kata2 yg tdk terpujj itu di tmpt ramai. ortu murid dan camat turun ke sekolah yg guru mmbulyy murid tdi tetap mencak2 sampai tepuk meja begitu hebatnya dia seorg guru ya tdk mnghargai wali murid dan camat. guru seperti ini harus di pecar karna tdk manusiawi

  2. Jaminan seorang anak dalam pendidikan merupakan amanat dari konstitusi & dalam UUD 1945, tidak sembarangan untuk memberhentikan Siswa/Siswi dalam menempuh pendidikan Perlu dilakukanya pengamatan dan pencermatan secara lebih spesipik untuk mendudukanperkara ini, saya berharap pemerintah mampu menjalankan roda pemerintahan sesuai dgn Amanat UUD 1945. Mengigat dan menimbang generasi muda merupakan penerus bangsa.

  3. Aalh alibi gurunya aja tuh, viralkan aja namanya sudah, biar jadi hukuman sosial buat guru biadab tersebut. Pake diumumin via mic segala. Coba anaknya yang digituin, terima gak? Gak malu apa kayak gitu?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here