Psikolog KPPAD: Siswi Korban Bully Sangat Terganggu dengan Teriakan Lonte oleh Gurunya

0
586
KPPAD Provinsi Kepri saat melakukan asesmen terhadap korban termasuk asesmen psikologis yang dilakukan Mahmud Syaltut

BATAM, LINDUNGIANAK.COM –Bully yang dialami  AR, siswi SMKN1 Anambas, yang diteriaki lonte oleh guru agamanya masih menyisakan rasa malu yang mendalam  bagi siswi kelas 11 tersebut. Dari asesmen psikologis yang dilakukan terhadap AR oleh psikolog,  korban tidak sampai trauma, namun sangat terganggu dengan kejadian yang dialaminya sehingga berdampak pada semangatnya untuk bersekolah lagi.

Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri mengunjungi AR, Sabtu (18/1/2020) untuk melihat kondisi korban yang saat ini tinggal sama pamannya di daerah Tiban, Batam. Ketua dan anggota KPPAD Kepri Erry Syahrial dan Mahmud Syaltut melakukan asesmen psikologis terhadap korban.

‘’Korban tidak sampai trauma, namun sangat terganggu dengan kejadian tersebut. Ditambah lagi disusul dengan munculnya konflik orangtua dengan sekolah membuat korban tidak mau sekolah lagi,’’ ujar Mahmud Syaltut, psikolog KPPAD Kepri kepada lindungianak.com.

Dijelaskan Mahmud Syaltut, yang dibutuhkan korban saat ini adalah dukungan orangtua, keluarga dan pihak lainnya untuk memberikan motivasi kepada korban.

BAJA JUGA :   Enam ABG Diduga Nyabu di Belakang Kantor PP Batuaji

‘’Sangat disayangkan kalau korban sampai benar-benar putus sekolah karena masih ada kesempatan untuk bersekolah karena belum lama putus sekolah sejak kejadian,’’ ujar Mahmud Syaltut.

Setelah diberhentikan dari SMKN 1 Anambas, AR sejak awal masuk sekolah tanggal 7 Januari 2020 lalu sempat masuk sekolah sementara di SMKN 2 Tanjungpinang. Namun selama seminggu bersekolah, pengurusan pindahnya belum selesai.

Hal tersebut terkendala dengan surat pindah yang belum dikeluarkan oleh SMKN 1 Anambas yang mengeluarkan AR. Selain itu, nilai rapornya dibuat hampir merah semua atau di bawah standar kelulusan. Semnentara pihak SMKN 2 Tanjungpinang hanya memberikan waktu selama seminggu bagi keluarga AR untuk mengurusnya.

Alhasil AR  tidak lagi masuk di sekolah SMKN 2 Tanjungpinang setelah seminggu kemudian. AR kemudian berangkat ke Batam untuk tinggal bersama pamannya di Batam. Selain pamannya, di Batam ada juga kakek dan neneknya. Akhirnya AR memutuskan untuk mengambil paket C saja.

BAJA JUGA :   Pasca Pengeroyokan, 4 Siswa Dikembalikan ke Orangtua

Setelah KPPAD Kepri melakukan asesmen dan berjanji akan membantu menyelesaikan masalah pendidikannya agar bisa lagi sekolah di SMK di Batam, barulah AR sedikit lega. Yang awalnya hanya pasrah dengan paket C, setelah asesmen AR menyatakan mau untuk bersekolah di jalur reguler seperti biasanya.

Kakek dan nenek AR turut memberikan motivasi agar AR kembali bersekolah. Rencananya, AR dicarikan sekolah SMK di Batam dengan jurusan yang sama.

AR Diupayakan Bersekolah Lagi

Melihat permasalahan ini dan setelah dilakukan asesmen terhadap korban bully, KPPAD Kepri mengupayakan agar AR bisa bersekolah lagi.  AR menurut KPPAD Kepri memiliki hak  untuk mendapatkan pendidikan seperti anak lainnya.

‘’Jangan sampai setelah korban bully, ia menjadi korban diskriminasi dan korban penelantaran sehingga putus sekolah dan semakin terpuruk, ujar Erry Syahrial, Ketua KPPAD Kepri.

BAJA JUGA :   KPAI Minta Guru SMKN 1 Anambas yang Membully Siswinya Diperiksa

Tinggal bagaimana permasalahan hak pendidikan anak ini diselesaikan oleh stakeholder terkait seperti Dinas Pendidikan Kepri, sekolah asal yaitu SMK 1 Anambas, sekolah tujuan SMK di Batam serta KPPAD Kepri.

Rapor korban yang diberikan para guru kepada korban AR kebanyakan merah sehingga tidak bisa diterima di sekolah lain

Hasil koordinasi KPPAD Kepri dengan Kepala Sekolah SMK 1 Anambas Tugiono bahwa pihak SMKN 1 Anambas terlambat memberikan surat pindah karena terkendala dengan libur sekolah dari akhir Desember hingga awal Januari lalu. Saat itu,  pihaknya belum tahu AR mau pindah kemana.

Sementara soal rapor yang banyak merahnya sehingga terkesan para guru bersekongkol memberikan rendah agar AR tidak bisa diterima lagi di sekolah lain dibantah oleh Tugiono. Dalam rapor tersebut, nilai yang dicantumkan oleh Sukimin, guru agama yang membullynya justru lebih tinggi dan di atas Kriteria Kelulusan Minimal (KKM).

‘’Saat ujian tidak koordinasi dengan guru-guru yang memberikan nilai sehingga hasilnya seperti itu,’’ ujarnya.(redaksi01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here