Jadi Korban Bullying Oknum Guru, AR Terisak-isak dalam RDP Komisi IV DPRD Kepri

0
114

TANJUNGPINANG, LINDUNGIANAK.COM – AR, seorang sisi SMK di Anambas yang menjadi korban bullying oknum guru, terisak-isak saat menjelaskan penderiataan yang dialaminya dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kepri, Selasa (21/1/2020).

“Saya sedih dikatakan dengan perkataan yang tidak senonoh oleh salah seorang guru dan saya sangat menyangkan permasalahan saya disebarkan kepada murid-murid yang lainnya, sehingga saya malu untuk sekolah,” terang AR, yang saat itu tak kuasa membendung air matanya.

Pengakuan tersebut disampaikan AR di ruang sidang Komisi lV DPRD Kepri dalam rangka menyelesaikan kasus anak yang viral tersebut. Selain korban yang didampingi oleh 4 orang komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak (KPPAD) kepri, pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kepri Muhammad Dali, Kepsek SMKN 1 Anambas Tugiono, Kepsek SMKN 2 Tanjungpinang dan sejumlah anggota Komisi IV Dewan Kepri.

Dalam pengakuannya, ia membantah pernyataan kepala sekolah atas dirinya berpegangan tangan, dan berbuat mesum saat berada di dalam kapal roro.

“Nggak ada saya pak pegangan tangan sama pacar saya. Nggak mungkinlah seperti itu, kan banyak orang di sana, apalagi sampai dibilang mesum,” ujarnya membantah, dan langsung mengeluarkan air mata, Selasa (21/1/2020).

Dengan nada terbata-bata, siswi tersebut mengatakan, ketidakhadirannya ke sekolah dikarenakan sudah terlanjur malu atas gosip terhadap dirinya.

“Kenapa nggak mau saya sekolah, karena saya sudah malu. Satu sekolah tahunya saya melakukan mesum saat di roro itu, saya malu pak, nama baik saya sudah tercemar,” sebutnya masih dalam kondisi menangis.

Ia melanjutkan, oknum guru yang mengeluarkan kata kasar tersebut meminta dirinya memanggil orang tua siswi itu.

BAJA JUGA :   Blokir Instagram Gay Muslim, Kominfo: LGBT Tak Sesuai dengan Indonesia

“Guru itu ada manggil saya ke kantor, dan bilang panggil orang tua kamu ke sekolah. Pas orang tua datang, orang tua saya malah dihina pak,” sebutnya.

Ia pun seakan tidak terima pada perlakuan oknum guru agama itu. Sebab, beberapa waktu lalu pernah ada siswa-siswi yang dipergoki berbuat mesum, namun tidak separah apa yang dirasakan dirinya.

“Padahal pernah ada benar-benar soal kasus mesum, tapi tak seperti ini kali, seperti yang saya rasakan,” ujarnya kembali.

Alasan tidak bersekolah, siswi tersebut mengaku belum mendapat surat pindah dari SMKN 1 tersebut.

“Jadi bukan saya nggak mampu pindah sekolah. Tapi surat pindah belum dikeluarkan pihak sekolah,” ujarnya yang menyudahi kesempatan berbicara pada pertemuan tersebut.

Setelah mendengarkan beberapa keterangan dari pihak-pihak terkait, Ketua Komisi Pengawasan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Eri Syahrial memahami pokok permasalahan yang ada.

“Kami (KPPAD) memahami apa yang terjadi. Kami pun sempat mengusahakan agar AR tetap bisa sekolah dengan mengurus sekolah yang dia inginkan. Kami ingin agar AR sekolah lagi dan ada sekolah yang sudah bisa menerimanya untuk melanjutkan pendidikannya ke depannya,” ungkap Eri.

Dalam rapat yang dipimpin Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kepri, Sirajudin Nur dan beberapa anggotanya memutuskan masalah ini sudah selesai dan ditutup dan tidak adalagi kelanjutan ke depannya.

“Masalah ini adalah miskomunikasi, tetapi yang jelas hari ini sudah kita dapatkan kesimpulannya karena AR masih ingin sekolah dan sekolah sudah ada yang mau menampungnya ditambah lagi pihak sekolah yang lama sudah menyiapkan berkas-berkasnya. Maka kita putuskan maslahah ini ditutup dan menjadi pelajaran ke depannya baik bagi guru, murid dan wali murid serta bagi dunia pendidikan,” kata Sirajudin.

BAJA JUGA :   Kasus Bully Selesai, AR Bersekolah di Tanjungpinang, Guru Kena Sanksi SP1

Penjelasan Kepala SMKN 1 Anambas

Dalam pertemuan di Komisi lV DPRD Kepri, Kepala SMKN 1 Anambas diberikan kesempatan dahulu untuk menceritakan persoalan yang terjadi.

Kepala Sekolah SMKN 1 Anambas saat memberikan keterangan kronologis kasus bully terhadap siswi AR

Tugiono menyampaikan, perkataan kasar tersebut berawal dari teguran guru agama yang tidak direspon oleh sang siswi.

“Jadi saat itu 2 November 2019 lalu si anak ini sedang berada di kapal roro. Siswi tersebut dengan seorang teman laki-lakinya duduk di atas motor. Hanya saja posisinya si wanita di depan, laki-laki di belakang, sambil pegangan tangan.

Jadi guru agamanya ini melihat dan langsung menegur dua siswanya itu,” ujarnya dalam pertemuan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi lV Sirajudin Nur dan turut serta dihadiri anggota Komisi, serta pihak KPPAD, Disdik Kepri, dan Sekolah, Selasa (21/1/2020).

Ia melanjutkan, teguran yang dilontarkan guru agama ternyata tidak digubris oleh siswi tersebut. Sehingga keluarlah perkataan kasar tersebut.

“Saat itu pengakuan guru tersebut kepada saya, bahwa emosi saat ditegur malah tidak dihiraukan. Apalagi saat itu ada siswa lainnya, dan masyarakat juga,” ujarnya.
Atas kejadian di kapal roro tersebut, si anak tidak datang untuk bersekolah. Pihak sekolah pun menyurati orang tua siswi agar datang mencari solusi atas persoalan tersebut.

“Surat pemanggilan itu pada hari Senin, tapi orang tua terlebih dahulu datang satu hari sebelum pemanggilan,” ucapnya melanjutkan cerita.

Dijelaskannya dalam pertemuan itu, orang tua siswa sangat keberatan atas ucapan oknum guru tersebut dan meminta sekolah memberikan kebijakan.Anaknya nggak mau sekolah lagi. Tapi minta pindah usai ujian semester ganjil,” ucapnya.

BAJA JUGA :   Arus Media Sosial dan Perenungan Kasus Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak

Ia melanjutkan, saat pertemuan tersebut dirinya juga sudah memanggil guru bersangkutan, dan sudah saling memaafkan atas kejadian itu.

“Ada empat poin dalam pertemuan itu. Pertama, sudah saling memaafkan kedua belah pihak. Kedua, persoalan ini diselesaikan kekeluargaan tanpa melibatkan pihak lain. Ketiga, anaknya mau dipindahkan, tapi minta sampai selesai ujian semester ganjil, dan keempat sekolah akan menyiapkan segala administrasi kelangkapan untuk pindah sekolah,” ujarnya.

Ia menyampaikan, dari pertemuan tersebut, nantinya akan diselesaikan pada esok harinya Senin, sesuai surat pemanggilan.

“Namun kami tunggu kok tak kunjung datang orang tua siswinya. Pas saya telpon orang tua yang perempuan, kaget saya. Jawaban orang tuanya, kami tidak akan kesekolah. Bingung saya jadinya. Kok tiba-tiba ingkar janji orang tuanya.
Padahal baru sehari sebelumnya kita sudah pertemuan, dan berdamai,” sebutnya.

Jelang beberapa hari atas ketidakhadirian orang tua siswi itu, camat setempat menemui Kepala Sekolah, dan berencana melakukan mediasi.

“Saya sama Pak Camat sama kok tujuannya, ingin anak ini jangan sampai nggak sekolah, kalau mau pindah, kita uruskan pindahnya. Hasil mediasi tersebut sama, anak selesaikan ujian semester ganjil, lalu baru pindah sekolah, serta janji kembali, tidak mengungkit persoalan ini,” sebutnya kembali.

Tanpa diduga oleh Tugiono, persoalan ini tiba-tiba kembali mencuat di media sosial, dengan isu bahwa sekolah mengeluarkan siswinya.

“Makanya kami klarifikasi, bahwa sekolah tidak ada mengeluarkan siswinya, jangan percaya dengan satu pihak, dan media sosial,” ujarnya kembali.*

Sumber: tribunbatam.com

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here