Guru di Lembata Diduga Siksa Puluhan Murid Minum Air Kotor, Berlumut dan Bau Kencing

0
137
Air berlumut, kotor dan bau yang dipaksa guru diminum oleh beberapa pelajar.

NUSATENGGARATIMUR, LINDUNGIANAK.COM – Foto di atas adalah salah satu foto bukti obyek siksaan salah satu oknum guru di SMPK Sint. Piter Lolondolor, Desa Leuwayan, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Foto ini dikirim oleh komisi perlindungan anak dan perempuan Desa Leuwayan, kepada weeklyline.net, 3 Februari 2020 usai mendampingi beberapa anak anak melaporkan kejadiaan penyiksaan itu di Polsek Omesuri.

Dugaan penyiksaan ini dilakukan oleh guru SMPK Sint Piter Lolondolor, 28 Januari 2020 lalu. Kejadian ini dialami oleh sejumlah siswa di Kelas VII dan Kelas VIII sekolah tersebut.

Awalnya kejadian ini dirahasiakan oleh para siswa akan tetapi terbongkar saat siswa kelas VIII studi malam di rumah IRA dan didengar oleh ibunya.

Kepada weeklyline.net, ibu IRA, Maria Goreti Paun menceritakan, saat mendengar pengakuan anaknya bersama sama teman temanya yang disiksa oleh oknum guru tersebut dirinya tidak menerima dan langsung melaporkan kepada Ketua Yayasan dan pihak Komite.

“Saya dengar mereka cerita saat studi malam. Mereka disiksa minum air kotor dalam viber yang berlumut, karena tidak bias menghafal kosa kata Bahasa Inggris. Air dalam viber itu selain kotor juga bauh karena orang masuk dan mandi, kencing berak di dalam. Saya benar benar tidak terima, karena siksa anak minum air kotor dan bauh apalagi saat ini musim Demam Berdarah,” ungkap Maria Paun.

BAJA JUGA :   Bocah di Cianjur Diculik Sejak Kelas 2 SD, Ditemukan 4 Tahun Kemudian Sudah Hamil 9 Bulan

Maria Paun mengungkapkan dirinya tidak menerima tindakan oknum guru ini karena dianggap melakukan penyiksaan yang tidak mendidik dan keterlaluan. Bahkan bukan hanya satu anak saja yang disiksa tetapi puluhan anak yang disiksa, yakni Kelas VII jumlah 30 orang  dan disiksa 27 anak.

“Saya tidak terima. Kami orang tua menitipkan anak disekolah untuk diajarkan dengan baik. Kalau pukul saja kami masih bias terima. Tetapi ini sudah keterlaluan. Siksa anak minum air dalam viber yang sudah berlumut, bauh kencing berak di dalam. Dan banyak jentik nyamuk,” ungkapnya.

Lebih jauh, Maria Paun, menjelaskan ada puluhan anak yang disiksa tetapi karena pihak sekolah berpesan kepada siswa agar masalah disekolah tidak boleh dibawah ke rumah, membuat beberapa anak takut untuk bercerita dan melaporkan kejadian ini kepada orang tua apalagi polisi.

Dirinya juga sempat dipanggil oleh Kepala Sekolah, Vinsesius Beda Amuntoda, untuk menghadap ke kantor dan meminta masalah tersebut diselesaikan di sekolah. Akan tetapi dirinya menolak dan melanjutkan masalah ini kepihak berwajib.

BAJA JUGA :   Pembatasan Penggunaan Gawai pada Anak Segera Diterbitkan

Proses Hukum Berlanjut

“Kami ingin proses hukum terus berjalan karena seakan meracuni anak anak. Oknum guru itu bersama kepala sekolah diberhentikan. Tidak merasa puas dengan tindakan guru. Kami sebagai orang tua tidak pernah memberikan air mentah kepada anak. Tetapi di sekolah guru siksa anak anak minum air berbauh kencing berak, berlumut dan banyak jentik. Ini kejadian sudah berulangkali. Kalau orangtua tidak ambil tindakan maka kelas VIII akan disiksa minum air wc. Ini pengakuan siswa termasuk anak saya,” ungkap Maria Paun.

Karena tidak menerima perlakukan ini, dirinya melaporkan kepada Ketua Komisi Perlindungan Anak dan Perempuan, Demetri Perada Kia Beni dan selanjutnya dilaporkan ke pihak Polsek Omesuri.

Menurut Demeteri Kia Beni, pihak KPAP Desa Leuwayan, pihaknya setelah menerima pengaduan dari orangtua siswa langsung mengadukan ke Polsek Omesuri dan pada tanggal 2 Februari 2020, pihak polres Omesuri sudah mengirim dua anggotanya untuk turun melihat lokasi kejadian.

“Sayangnya, saat pihak KPAP dan utusan anggota polres tiba di sekolah tersebut, Kepala Sekolah dan oknum guru yang diduga sebagai pelaku tidak kooperatif. Terkesan acuh dan masa bodoh dan menganggap persoalan ini adalah persoalan sepele,” ungkap Perada Kia Beni.

BAJA JUGA :   Kompolnas: Bripda R dan Bripda W Terancam Dipecat

Ia menyebutkan siswa yang menjadi korban berinisial RL, NDL, IRA. Ketiganya kelas VIII. Sedangkan kelas VII berinsial RRW dan MIB.

Sementara oknum guru yang diduga melakukan penyiksaan adalah YTY, guru honor pengasuh mata pelajaran Bahasa Inggris di SMPK Sint. Piter Lolondolor.

Mendapat tanggapan masa bodoh dari pihak sekolah, orangtua siswa didampingi KPAP Desa Leuwayan, melaporkan dugaan tindakan oknum guru ini, ke polsek Omesuri, 3 Februari 2020. Laporan tindakan dugaan penyiksaan siswa ini diterima oleh Brigpol Rikhardus Seran Nahak dengan laporan polisi SPTL/03/I/2020/Posek Omesuri.

Kepala sekolah SMPK Sint Petrus Lolondolor, Vinsensius Beda Amuntoda yang dihubungi weeklyline.net, 3 Februari 2020, pkl. 20.20 wita, mengaku bahwa anak anak disiksa minum air dalam viber.

“Bukan minum air wc tetapi  minum air dalam viber,” bantah Vinsensius Beda Amuntoda, sembari menutup telepon ketika disodor pertanyaan apakah air dalam viber itu bersih atau kotor.*

Sumber: Weeklyline.net

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here